Main Menu

Suplemen Kalsium: Maksud Hati Memanjakan Tulang, Apa Daya Jantung Tersiksa

Rohmat Haryadi
12-10-2016 16:46

Memicu plak arteri dan jantung (Dok.GATRA)

Jakarta, GATRANews - Para peneliti di Johns Hopkins Medicine, Amerika, menyimpulkan mengonsumsi suplemen kalsium dapat meningkatkan risiko penumpukan plak di arteri, dan kerusakan jantung. Kesimpulan itu diambil setelah melakukan tes medis pada 2.700 orang selama 10 tahun. Studi penyakit jantung itu didanai pemerintah federal.



Laporan hasil penelitian, yang diterbitkan Journal of American Heart Association, 10 Oktober itu, para peneliti mengatakan mereka hanya mendokumentasikan hubungan antara suplemen kalsium dan aterosklerosis (penyempitan dan pengerasan pembuluh darah). Dimana hasilnya semakin menambah kekhawatiran ilmiah tentang potensial bahaya suplemen. Mereka mendesak untuk konsultasi dengan dokter ahli sebelum menggunakan suplemen kalsium.

Menurut National Institutes of Health, diperkirakan 43 persen pria dan wanita dewasa Amerika  mengonsumsi suplemen, termasuk kalsium. “Khusus suplemen kalsium yang diambil untuk kesehatan tulang. Banyak orang Amerika berpikir itu lebih selalu lebih baik," kata Erin Michos, profesor di Pusat Pencegahan Penyakit Jantung Johns Hopkins University School of Medicine. "Tapi penelitian kami menambah bukti bahwa kelebihan kalsium dalam bentuk suplemen dapat membahayakan jantung dan sistem pembuluh darah," tegasnya.

Para peneliti termotivasi untuk melihat efek kalsium pada sistem jantung dan pembuluh darah karena pada orang tua menunjukkan bahwa suplemen kalsium tidak untuk perbaikan tulang, atau dapat benar-benar dibuang melalui kencing. “Aku tahu mereka (kalsium) terakumulasi di jaringan lunak tubuh,” kata ahli gizi John Anderson, profesor emeritus nutrisi di University of North Carolina.

Para ilmuwan tahu bahwa pada orang usia, plak kalsium menumpuk di pembuluh darah utama tubuh, aorta, dan arteri lainnya, menghambat aliran darah dan meningkatkan risiko serangan jantung. Para peneliti melihat informasi rinci dari studi Multi-Etnis Aterosklerosis, proyek penelitian lama yang didanai National Heart, Lung, and Blood Institute, riset yang melibatkan  6.000 orang di enam universitas riset, termasuk Johns Hopkins.

Studi mereka terfokus pada 2742 peserta yang menyelesaikan kuesioner diet, dan dua kali CT scan setelah 10 tahun. Para peneliti menggunakan CT scan jantung untuk mengukur nilai kalsium  arteri koroner , ukuran kalsifikasi di arteri jantung, dan penanda risiko penyakit jantung. Awalnya, 1.175 peserta menunjukkan plak di arteri jantung. Tes kalsium arteri koroner diulang 10 tahun kemudian untuk menilai berkembang atau memburuknya risiko penyakit jantung koroner.

Peneliti membagi peserta menjadi lima kelompok berdasarkan jumlah asupan kalsium mereka, termasuk suplemen kalsium, dan kalsium. Setelah menyesuaikan data usia, jenis kelamin, ras, olahraga, merokok, pendapatan, pendidikan, berat badan, merokok, minum, tekanan darah, gula darah dan riwayat kesehatan keluarga. Para peneliti memisahkan 20 persen dari peserta dengan total asupan kalsium tertinggi, yang lebih besar dari 1.400 miligram kalsium per hari.

Dan dari 20 persen dari partisipan dengan asupan kalsium terendah - kurang dari 400 miligram kalsium setiap hari. Para peneliti berfokus pada perbedaan antara mereka yang mengosumsi kalsium dan mereka yang menggunakan suplemen kalsium. Empat puluh enam persen dari populasi penelitian mereka digunakan suplemen kalsium.

Hasil penelitian menemukan pengguna suplemen 22 persen meningkat. Mereka memiliki skor kalsium arteri koroner meningkat lebih tinggi dari nol lebih selama satu dekade ini, menunjukkan perkembangan penyakit jantung. "Jelas sesuatu yang berbeda bagaimana tubuh menggunakan dan merespon suplemen,” kata Anderson. "Suplemen yang mengandung kalsium, atau langsung menggunakan dosis besar kalsium, tubuh tidak bisa memproses,” katanya.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, penyakit jantung koroner membunuh lebih dari 370.000 orang setiap tahun di Amerika. Lebih dari setengah dari wanita di atas 60 mengonsumsi suplemen kalsium - banyak yang tanpa pengawasan dari dokter-. Karena mereka percaya akan mengurangi risiko osteoporosis (pelapukan tulang).


Editor: Rohmat Haryadi

Save

Save

Rohmat Haryadi
12-10-2016 16:46