Main Menu

Gangguan Tidur Memicu Serangan Jantung

Rohmat Haryadi
03-04-2017 06:02

Jakarta GATRAnews - Apa pun yang Anda lakukan malam ini, pastikan Anda mendapatkan tidur malam yang baik. Mereka yang susah tidur meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, para ilmuwan memperingatkan. Dailymail memberitakan 31 Maret 2017.


Penelitian menunjukkan, mereka yang susah tidur berpeluang lebih tinggi (27 persen) mendapat serangan jantung yang mematikan. Dan para ahli percaya, wanita adalah yang paling berisiko penyakit jantung karena secara genetik rentan terhadap insomnia disebabkan hormon mereka.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan antara insomnia dan hasil kesehatan yang buruk, tetapi hubungan dengan penyakit jantung tidak konsisten. Secara luas diyakini bahwa kondisi yang diderita oleh sekitar satu dari tiga orang dewasa, berkaitan dengan perubahan fungsi tubuh.

Tidur sangat penting sebagai waktu restoratif, membuat orang merasa berenergi dan segar. Hal ini juga memberikan sistem kekebalan tubuh dan sistem kardiovaskular beristirahat, dan memungkinkan organ lain akan dipulihkan.

Peneliti Cina percaya bahwa susah tidur meningkatkan tekanan darah dan mengubah metabolisme - kedua faktor risiko yang diketahui dari penyakit kardiovaskular. Untuk menguji hubungan itu, peneliti di Universitas Kedokteran China, Shenyang,  melakukan 15 studi yang melibatkan 160.867 peserta.

Gejala tidur yang buruk termasuk kesulitan tidur, mempertahankan tidur, bangun terlalu dini, dan tidur yang tidak nyenyak. Mereka menemukan orang-orang yang susah tidur memiliki 11 persen risiko lebih besar terkena serangan jantung.  Sementara mereka yang tidak merasa segar ketika bangun, 18 persen lebih mungkin mengalami.

Penulis studi Qiao Dia mengatakan: "Gangguan tidur yang umum harus dimasukkan dalam penilaian risiko klinis. Tidur adalah penting untuk pemulihan biologis, dan memakan waktu sekitar sepertiga dari hidup kita. Tetapi, dalam masyarakat modern semakin banyak orang mengeluh insomnia."

"Pendidikan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat gejala insomnia dan potensi risiko, sehingga orang dengan masalah tidur dianjurkan untuk mencari bantuan," katanya.

Namun para peneliti memperingatkan bahwa mereka tidak dapat menyimpulkan bahwa insomnia lebih berbahaya bagi perempuan berdasarkan penelitian yang terbatas. Temuan terbaru itu dipublikasikan dalam European Journal of Preventive Cardiology.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
03-04-2017 06:02