Main Menu

Ini Beberapa Kendala Pelayanan Pasien Aritmia

Iwan Sutiawan
14-08-2017 22:49

Ilustrasi (GATRAnews/AK9)

Jakarta, GATRAnews - Guru Besar Jantung dan Pembuluh Darah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP, mengatakan, penanganan aritmia atau masalah irama jantung di Indonesia masih terkendala sejumlah faktor.



"Kita masih banyak problem terkait pelayanan aritmia. Pertema, kurangnya kesadaran masyarakat atau publik atau profesional kesehatan terhadap pentinggnya aritmia itu," kata Yoga di Rumah Sakit (RS) Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, Jumat (11/8).

Kedua, lanjut Yoga, masih kurangnya sumber daya manusia (SDM) di bidang aritmia. Ketiga, masih minimnya dukungan pemangku kepentingan (stakeholders), khususnya dalam menyediakan peralatan medis dan peningkatan jumlah SDM.

"Dukungan pemangku kepentingan yang kurang, kita lihat tahun 2012 dibanding dengan Myanmar saja, ternyata implantasi pacemaker kita hanya 2 per 1 juta orang," katanya.

Sementara angka implantasi pacemaker di Myanmar sudah 3 kali lipata dari Indonesia, yakni 6 per 1 juta orang. "Ini satu kondisi menyedihkan, bukan capaian implantasinya, tapi banyak pasien yang membutuhkan implantasi pacemaker [di Indonesia] tidak sampai dilakukan implantasi. Kenapa, karena tidak terjangkau, waktu itu belum ada BPJS," katanya.

Setelah ada BPJS, lanjut Yuga, ada peningkatan pencapaian implantasi pacemaker. Tapi peningkatan ini juga tidak signifikan, karena sedikitnya dokter jantung yang confidence melakukan pemasangan implantasi pacemaker.

"Oleh karena itu lah RS Jantung Harapan Kita besama-sama dengan PMI melakukan kerja sama untuk melakukan class program untuk membentuk implenter yang banyak di seluruh Indonesia," katanya.

Hingga saat ini, lanjut Yoga, pihaknya sudah memasang lebih 100 orang implenter baru. "Hasilnya ada peningtakan signifikan, 300 implantasi pacemaker di Indonesia," ujarnya.


Reporter: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
14-08-2017 22:49