Main Menu

CPR Meningkatkan Peluang Hidup Penderita Henti Jantung Mendadak

Rosyid
15-09-2017 09:15

Diskusi Pertolongan pertama serangan jantung yang diselenggarakan Phillips Indonesia, Kamis (14/9). Dari kanan ke kiri dr. Jetty R. H. Sedyawan, Sp.JP (K), FIHA, FACC yang juga menjabat sebagai Sekjen PERKI, dr. Erizon Safari, MKK, Kepala Unit Ambulans Gawat Darurat (AGD) dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Presiden Direktur Philips Indonesia, Suryo Suwignjo. (Foto: GATRA/Rosyid/AK9)

Jakarta, GATRAnews - Henti Jantung Mendadak (Sudden Cardiac Arrest/SCA) yang terkait dengan banyak kematian di Indonesia, merupakan “silent killer” karena bisa datang kapan saja dan dimana saja. Pertolongan pertama yang cepat, khususnya penggunaan teknik CPR, merupakan faktor penting dalam meningkatkan peluang untuk bertahan hidup dan pemulihan. 

 

Data PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), pada tahun 2016 menemukan bahwa angka kejadian henti jantung mendadak berkisar antara 300.000 - 350.000 insiden setiap tahunnya. Meskipun demikian, ada juga kecenderungan peningkatan peluang hidup ketika ada lebih banyak orang yang berada di lokasi kejadian (bystander) melakukan pertolongan pertama dengan CPR. Data Kementerian Kesehatan, frekuensi SCA akan meningkat seiring dengan peningkatan penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke, yang diperkirakan mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030.  

 

Data itu terungkap dalam diskusi Philips Indonesia, Kamis (14/9) yang menghadirkan dokter spesialis jantung, dr. Jetty R. H. Sedyawan, Sp.JP (K), FIHA, FACC yang juga menjabat sebagai Sekjen PERKI, dr. Erizon Safari, MKK, Kepala Unit Ambulans Gawat Darurat (AGD) dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Presiden Direktur Philips Indonesia, Suryo Suwignjo. 

 

Dalam diskusi tersebut, dr. Jetty menyebutkan tentang masa emas – tiga menit pertama setelah terjadinya henti jantung mendadak. Jika CPR dilakukan dalam kerangka waktu ini, ada kemungkinan besar korban akan bertahan hidup tanpa terjadi kerusakan pada otak. Namun, setelah masa tiga menit ini berlalu, semakin tinggi risiko korban menderita kerusakan otak akibat serangan tersebut. “Jendela waktu kecil ini menentukan kesempatan hidup korban dan setiap detiknya sangat berharga. Memastikan ketersediaan AED (Automated External Defibrillators) di ruang publik dan melatih orang untuk menjadi first-responder (orang yang pertama kali menemukan korban dan menolongnya, berbekal pengetahuan untuk melakukan CPR) adalah kunci untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Ini adalah sesuatu yang perlu sadari oleh masyarakat, bahwa semua orang bisa menyelamatkan nyawa,” kata dr. Jetty.

 

Menurut dr. Erizon Safari, kualitas CPR yang diberikan first-responder menentukan keberhasilan menolong korban. "Karena itu perlu pelatihan untuk agar bisa memiliki ketrampilan untuk melakukan CPR," katanya. 

 

Untuk memperingati Hari Jantung Sedunia Philips Indonesia  menyelenggarakan sesi pelatihan Resusitasi Jantung Paru (CPR) dan AED, Kamis (14/9) kepada 40 peserta dalam upaya menyebarkan kesadaran tentang CPR bagi masyarakat yang lebih luas.

 

“Inisiatif ini juga telah dilakukan di negara lain, seperti Singapura, Korea, dan sekarang di Indonesia. Ini hanya sebagian dari ambisi global kita yang lebih besar untuk meningkatkan kesadaran seputar henti jantung mendadak. Orang-orang yang berada di lokasi terdekat dengan korban memiliki dampak yang besar pada kesempatan hidup korban—apakah korban dapat bertahan hidup atau tidak pada saat terserang SCA. Mengetahui bagaimana melakukan CPR dan menggunakan defibrillator dapat menyelamatkan nyawa,” tutup Suryo Suwignjo.


Editor: Rosyid

 

Rosyid
15-09-2017 09:15