Main Menu

ISICAM InaLive Hadirkan Demo Live Teknik Intervensi Jantung non Bedah

Dara Purnama
14-10-2017 13:54

ISICAM InaLive 2017 yang diselenggarakan PIKI (GATRA/Dara Purnama/HR02)

Jakarta,Gatra.com - Penyakit kardiovaskular seperti jantung, pembuluh darah dan stroke telah merenggut 17,3 juta nyawa setiap tahunnya di seluruh dunia. Pada tahun 2030 angka tersebut diprediksi meningkat mencapai 23 juta jiwa.

Di Indonesia, penyakit kardiovaskular bertanggung jawab sebagai penyebab kematian tertinggi yakni 37%. Sebagian besar penderita penyakit jantung berada di negara-negara bekembang.

Berdasarkan gambaran tersebut, perlu langkah komprehensif untuk mengatasi penyakit kardiovaskular baik pada aspek pencegahan maupun dalam aspek terapeutik. Begitu juga dengan tindakan intervensi jatung baik bedah maupun non bedah.

Tindakan intervensi non bedah dalam penyakit kardiovaskular saat ini di dunia telah mengalami kemajuan luar biasa dan terbukti bermanfaat mengurangi keluhan sakit dan meningkatkan harapan hidup penderita.

Oleh karena itu, Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia (PIKI) yang merupakan Kelompok Kerja Perhinpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) kembali menyelenggarakan pertemuan ilmiah tahunam "ISICAM-InaLIVE" yang ke-9.

Pertemuan ini dilaksanakam dari tanggal 13-15 Oktober 2017 bersamaan dengan pertemuan ilmiah Jakarta Cardiovascular Summit 2017 dengan tema "Integratove Cardiovascular Intervention". Ketua PIKI, Sunarya Soerianata menjelaskan intervensi non bedah penyakit jatung di Indonesia telah dimulai lebih dari tiga dekade lalu.

Dalam kurun waktu tersebut, putra -putri Indonesia telah mampu melakukan berbagai jenis tindakan intervensi jatung non bedah dan pembuluh darah seperti intervensi jantung koroner, pembuluh darah besar (aorta) hingga pembuluh darah tungkai.

Intervensi non bedah ini juga dilakukan pada katup jantung, penyakit bawaan, penyakit gagal jantung dan bahkan intervensi jantung untuk pencegahan stroke.

"Para ahli intervensi jantung Indonesia telah berkontribusi menyumbangkan pemikiran dan keterampilan dalam berbagai pertemuan ahli intervensi jantung di negera-negara regional maupun tingkat dunia. Setkap tahun PIKI telah mengirim sejumlah delegasi yang terlibat pada joint symposium di berbagai pertemuan tingkat dunia," kata Sunarya di Hotel Sheraton Grand Jakarta, Sabtu (14/10).

Kemajuan intervensi jantung ini kata Sunarya telah dimanfaatkan oleh masyarakat luas seiring dengan kebijakan pemerintah untuk memperkuat kemampuam aksebilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan termasuk pelayanan intervensi jantung melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Hal tersebut dimungkinkan oleh pertumbuhan laboratorium kateterisasi jantung di berbagai tempat di tanah air. Di mana saat ini ada 192 rumah sakit yang pemerintah maupun swasta yang telah mengembangkannya.

Memandang potensi kemaslahatan masyarakat tersebut, PIKI terus mendorong peningkatan jumlah tenaga intervensi jantung di Indonesoa yang profesional dan berintegritas.

Saat ini, lanjut Sunarya, PIKI beranggotakam 125 ahli intervensi jantung sementara dokter jantung di Indonesia berjumlah 1050. "Jumlah ahli intervensi ini masih sangat terbatas dalam melayani jumlah penderita yang begitu banyak di tanah air. Bahkan tidak match jumlah SDM terampil dengan ketersediaan alat ," tuturnya.

Untuk meningkatkan jumlah tenaga tersebut, PIKI memandang pelatihan intervensi jantung berbasis rumah sakit (hospital-based) merupakan solusi praktis dan efektif dalam menjembatani kebutuhan masyarakat, keterbatasan tenaga dan ketersediaan fasilitas.

Sejumlah rumah sakit pusat rujukan di tanah air saat ini telah menyelenggarakan pelatihan intervensi jantung tersebut.

"Untuk akselerasi ketersediaan tenaga, PIKI telah mengembangkan kerja sama dengan berbagai pusat jantung di dunia untuk turut berperan melatih putra-putri Indonesia sehingga seluruh masyarakat Indoneaia dapat terlayani secara merata dengan standar pelayanan berkualitas dunia atau wolrd class services," katanya.

Sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan intervensi saat serangan jantung, PIKI telah mengembangkan jejaring pelayanan serangan jantung yang disebut ISTEMI (Indonesia ST Elevation Myocardial Infartion).

Jejaring ini telah diawali di Jakarta Barat dengan berpusat pada RS Jantung Harapan Kita dan kini ISTEMI telah berkembang di berbagai kota dan provinsi bekerjasama dengan dinas terkait.

Ketua pelaksana ISICAM-InaLIVE, Achmad Fauzi Yahya menjelaskan pertemuan ilmiah bersama ini akan menghadirkan para pembicara terkemuka dalam negeri dan pakar internasional. Diharapkan akan diikuti 1000 peserta baik dari ahli intervensi jantung, ahli jantung dan pembuluh darah serta spesialis lain yang berminat.

Begitu juga dengan residen spesialis jantung dan pembuluh darah, dokter umum, perawat, teknisi jantung serta mahasiswa kedokteran.  Pada acara ini juga diselenggarakan sejumlah wokrshop simposium, kuliah, sesi teknik intervensi dan persentasi kasus.

Beragam bidang intervenai kardiovaskular akan menjadi topik pembahasan dalam berbagai spketrum mulai dari pemahaman dasar hingga penanganan kasus kompleks serta pencitraan dalam intervensi jantung.

Acara ini juga akan menampilkan 11 sesi live demo terkait tindakan intervensinjanyung okeh para ahli yang dipancarkan langsung dari ruang kateteriaasi RS Jantung Harapan Kita ke lokasi pertemuan ilmiah.


Reporter: DPU

Editor: Nur Hidayat 

Dara Purnama
14-10-2017 13:54