Main Menu

Cegah Stroke Lewat Meraba Nadi Sendiri

Putri Kartika Utami
24-01-2018 16:48

Ilustrasi (Sh)utterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Irama detak jantung ternyata bisa menjadi penanda adanya penyakit jantung. Tanda-tanda kelainan ini tidak hanya berlaku jika detaknya terlalu cepat, tapi juga saat iramanya terlalu lambat atau tidak teratur. Jika sering merasakan salah satu dari tiga hal itu, maka bisa jadi Anda memiliki gejala kelainan irama jantung atau aritmia.


Aritmia adalah kelainan jantung yang ditandai dengan detak atau ritme yang tidak normal. Berdebar adalah gejala aritmia yang paling sering muncul. Penanda lain adalah cepat lelah, lemas, sesak nafas, pusing, pingsan dan sering buang air kecil.

“Bisa terjadi hanya salah satu gejala, tidak harus semuanya,” kata dr. Dicky Armein Hanafy, SpJP (K), FIHA di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, Rabu (24/2).

Ada beberapa faktor terjadinya risiko aritmia seperti ketidakseimbangan kadar elektrolit dalam darah, penggunaan narkoba, efek samping obat-obatan, kelainan pada jantung, hipertensi dan diabetes. Jika tidak segera mendapat penanganan yang tepat, maka penderita aritmia bisa mengalami gagal jantung, stroke, bahkan kematian mendadak.

Aritmia tergolong penyakit katastropik. Artinya penyakit yang membutuhkan penanganan sangat khusus dan biaya tinggi. Namun, deteksi dini dapat mencegah efek aritmia melalui menari atau meraba nadi sendiri.

Ahli Aritmia Hanya 26 Dokter di Seluruh Indonesia

Penanganan aritmia terbentur kendala keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan. Begitu juga dokter jantung yang mengambil subspesialis irama jantung masih sedikit. Saat ini hanya ada 26 dokter di seluruh Indonesia.

“Peminatnya belum banyak. Ilmu ini juga sangat spesifik dan pendidikannya cukup lama. Dari dokter umum, spesialis jantung, lalu mengambil subspesialis aritmia. Bidang ini dianggap relatif sulit, juga dianggap bidang yang kurang menghasilkan dibanding dokter jantung koroner atau vaskuler, misalnya,” papar Dicky.

Kendala lain adalah ketersediaan fasilitas aritmia. Harganya memang cukup mahal sehingga banyak rumah sakit yang enggan berinvestasi membeli alat-alat medis tersebut. Akibatnya, tidak semua ahli aritmia bisa mengoptimalkan ilmunya.

“Alat ablasi misalnya sekitar Rp 3 milyar. Cukup mahal tapi kan bisa melayani begitu banyak orang,” ujarnya.


Reporter: Putri Kartika Utami
Editor: Arief Prasetyo

 

 

 

Putri Kartika Utami
24-01-2018 16:48