Main Menu

Sikapi Rokok, Industri Bersatu Ilmuwan Terpecah

Mukhlison Sri Widodo
15-02-2018 17:09

Yayi Suryo Prabandari (GATRA/Arif Koes Hernawan/yus4)

Yogyakarta, Gatracom - Pengendalian tembakau dan rokok di Indonesia masih menemui kendala, termasuk dari ilmuwan kesehatan. Promosi kesehatan untuk mengendalikan rokok masih jadi tugas panjang dari semua pihak.

“Akademisi terbelah dua dan belum bersatu padu menyikapi rokok. Masih ada yang mau menerima uang dari industri rokok. Tembakau disebut bagus untuk obat kanker, padahal riset ini harus dikaji ulang dan tidak masuk jurnal ilmiah bereputasi internasional,” kata  pengajar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan  Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yayi Suryo Prabandari, di kampus UGM (Rabu (14/2).

Yayi akan dikukuhkan sebagai guru besar dengan pidato “Promosi Kesehatan dalam Pengendalian Perilaku Merokok di Indonesia: Antara Fakta dan Harapan” pada Kamis (15/2). 

Yayi akademisi ilmu sosial berlatar psikologi yang menjadi guru besar di Fakultas Kedokteran UGM.

Ia mendorong fakultasnya bebas asap rokok pada 2004 dan kampus UGM pada 2008. “Sejak 2006, Fakultas Kedokteran UGM juga tidak menerima beasiswa dari pabrik rokok,” kata dia.

Yayi memperkirakan saat ini memang 80% akademisi sudah tak sepakat dengan industri rokok. Kendati demikian, di UGM masih ada 30% akademisi yang setuju dengan rokok. 

“Di Fakultas Kedoteran UGM sedikit, satu-dua saja yang pro rokok,” ujar kakak dari politikus Roy Suryo ini.

Menurut dia, sikap akademisi terhadap rokok berpengaruh terhadap upaya pengendalian rokok. Dua per tiga laki-laki di Indonesia adalah perokok dan jumlah perokok laki-laki tersebut tertinggi di Asean. 

Jumlah penderita penyakit tidak menular, yang faktor utamanya karena rokok, telah menggeser penyakit menular seperti diare dan TBC di Indonesia dalam 15 tahun ini. Diantaranya penyakit jantung yang tingkat prevalensinya terus meningkat

Untuk mengoptimalkan berhenti merokok, fakultas kedokteran dan kesehatan dapat memberikan kontribusi pada negara ini dengan mendidik calon praktisi kesehatan agar dapat memberikan bantuan berhenti merokok kepada pasiennya. 

“Nasihat singkat dari dokter dapat meningkatkan kemauan pasien untuk berhenti merokok. Universitas juga dapat berperan sebagai pelaku advokasi untuk kebijakan yang berwawasan kesehatan dalam pengendalian perilaku merokok,” tuturnya.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar, Yayi mengatakan perlunya promosi kesehatan digital tentang bahaya rokok. “Informasi yang benar tentang bahaya atau ancaman rokok perlu di-“viral”-kan,” ujar Ketua Jogja Sehat Tanpa Tembakau ini.

Namun regulasi untuk melarang iklan rokok di media massa dan kenaikan cukai masih menjadi “impian”. 

Semua pelaku, penggiat, dan pemerhati pengendalian perilaku merokok, kata Yayi perlu bersatu dan berjibaku untuk melakukan advokasi yang kuat, agar iklan, terutama di media elektronik, digital, dan luar ruang ditiadakan, demikian pula untuk cukai dan harga rokok dapat naik. 

“Pesan dalam iklan dan promosi rokok yang menjerumuskan remaja dalam kebiasaan yang merugikan kesehatan perlu dieliminasi,” katanya.


Reporter : Arif Koes

Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
15-02-2018 17:09