Main Menu

Jamur Penghambat Kanker Payudara

Dani Hamdani
10-11-2015 18:09

Jamur Tiram menahan perkembangan Sel Kanker (Dok GATRA)

Jakarta, GATRAnews - Perjuangan Musdalifah Dawal sungguh berat. Wanita 63 tahun ini harus melawan kanker payudaranya. Kini sel-sel kankernya menyebar ke otak dan liver. Ibu tiga anak ini pun pasrah. Warga Tangerang ini terkena kanker pada awal 2011. Ketika itu, kondisi tubuhnya menurun. Kepala pusing dan badan meriang, serta tensi darah naik.

 

Ia dibawa keluarganya ke unit gawat darurat rumah sakit di Tangerang. Setelah pemeriksaan, Ida didiagnosis mengidap tumor di seputar ketiak dekat payudara. Untuk memastikannya, dilakukan pemindaian ultrasonografi dan mamografi. Hasil pemindaian menguatkan dugaan dokter. Musdalifah terkena kanker payudara. 


Musdalifah seperti penderita kanker payudara lain, saat ini harus pasrah menerima terapi medis yang ada. Namun, mereka selalu mencari tahu terapi terobosan lain.

 

Nah, peneliti kini terus berjuang mencari akal, termasuk lewat pengobatan herbal, salah satunya yang digarap Ida Susanti. Dalam riset untuk meraih gelar doktor di bidang biomedis, ia menemukan manfaat jamur tiram (Pleurotus ostreatus) sebagai pembasmi kanker payudara.

  
Ia sukses mempertahankan disertasinya di depan para senat guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta Pusat, belum lama berselang. "Penelitian saya ini meneliti efek isolat dan beta-glukan dari jamur tiram untuk antikanker payudara," katanya. 


Wanita kelahiran Bandung, 46 tahun lampau, itu bilang, beta-glukan khususnya bernomor 1.3 adalah senyawa pembangun struktur jamur tiram. Beta-glukan juga terdapat pada jamur lain. Ida memilih jamur tiram lantaran banyak terdapat di Indonesia dan mudah ditemukan.

 

Penelitian berlangsung pada Februari 2013 sampai November 2014 di Laboratorium Pusat Teknologi Bioindustri dan Pusat Teknologi Farmasi dan Medika, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Serpong, Tangerang 


Dalam risetnya, Ida melakukan uji coba pada tikus betina putih berumur 5-6 pekan, dengan berat 90-130 gram. Mereka dibagi dalam tiga kelompok. Yaitu: kelompok kontrol normal, kelompok kontrol negatif (kontrol karsinogen DMBA), dan kelompok kontrol positif (kontrol obat kanker doksorubisin). Semua kelompok tadi diberikan senyawa beta-glukan secara oral setiap hari. 


Walhasil, penggunaan beta-glukan dapat mencegah timbulnya kanker payudara dengan cara menghambat proses pembelahan sel-sel kanker.

 

Sedangkan untuk terapi yang dikombinasikan dengan doksorubisin dengan dosis 0,25 kilogram per berat badan, beta-glukan dapat membantu menurunkan volume tumor secara bermakna.  

 

Ida bilang, beta-glukan yang terkandung pada jamur tiram berfungsi merestorasi sistem imun yang semula lemah, dan bisa melawan sel kanker. "Ia tidak bisa membunuh langsung (sel kanker), tetapi hanya meningkatkan kewaspadaan dari sel imun untuk mengurangi sel kanker," katanya.  


Meskipun begitu, Ida mengatakan, jamur tiram tidak bisa langsung dikonsumsi. Jamur harus diekstraksi dan diambil senyawa beta-glukan. "Beta-glukan itu kan masih terikat pada dinding sel, jika dikonsumsi langsung tak bisa memberikan hasil yang sama," ujarnya.  


Studi Ida memang butuh waktu panjang agar bisa diterapkan sebagai terapi alternatif kanker payudara. Ini lantaran harus melewati penelitian pada manusia dari mulai uji klinis tahap I hingga IV. Toh, ini akan menjadi kabar gembira nantinya.


Kanker Payudara Musuh Nomor Satu Wanita 

 

Ida Susanti Peneliti Kanker Paydara FKUI (Dok GATRA/Rifki M Irsyad)
Ida Susanti Peneliti Kanker Paydara FKUI (Dok GATRA/Rifki M Irsyad)

Sebab jumlah pasien kanker payudara terus meningkat. Menurut ahli bedah kanker FKUI, Dokter Diani Kartini, kanker payudara menempati urutan pertama kanker pada wanita. Setiap tahun ditemukan sekitar 23.140 kasus baru.  


Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Kementerian Kesehatan, ada lima besar kanker pada wanita. Kanker payudara menempati urutan pertama (22,93%), diikuti oleh kanker leher rahim (16,03%), leukemia (10,09%), limfoma non-Hodgkin (9,11%), dan kanker hati dan saluran empedu intrahepatik (8,12%).  


Dari persentase pada kanker payudara, 60% di antaranya sudah stadium lanjut. "Ini sangat memprihatinkan karena semakin banyak fasilitas untuk pemeriksaan dini kanker payudara, justru pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut," ujar Diani kepada GATRA. 


Urutan puncak bukan cuma disandang dari segi kasus, tetapi juga jumlah pasien rawat inap di rumah sakit. Pasien kanker payudara terbanyak yang dirawat inap 16,85%. Posisi kedua ditempati kanker serviks (mulut rahim) sebesar 11,68%. Kanker payudara juga merupakan penyebab utama kematian pada wanita karena kanker. 


Kanker payudara --seperti juga kanker umumnya-- merupakan penyakit yang disebabkan oleh banyak faktor. Sebanyak 80% berasal dari faktor lingkungan, seperti paparan bahan-bahan karsinogen. Selain faktor lingkungan, terdapat juga faktor genetik, diet atau gaya hidup serta lemahnya daya tahan tubuh.

 

Menurut Diani, wanita yang tidak punya anak, tidak menyusui, dan melahirkan anak pertama di usia lebih dari 35 tahun, serta memakai alat kontrasepsi hormonal dalam jangka panjang, juga menjadi faktor risiko.  


Selama ini, pasien kanker payudara diterapi dengan pembedahan, kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal dan terapi target. Terapi tersebut disesuaikan dengan indikasi dan dilakukan setelah mendapat hasil dari pemeriksaan biopsi (pengambilan sampel jaringan tumor untuk menentukan jenis dan stadium). Kemudian diterapi sesuai dengan stadium. 


Misalnya, pembedahan bisa dilakukan lewat bedah rekonstruksi payudara untuk pasien kanker stadium awal. Payudara tak perlu diangkat seluruhnya. Begitu pula kemoterapi. Beberapa peneliti kini berusaha menciptakan obat kemoterapi yang memfokuskan pada sel-sela kanker saja. 

 

Profesor Erni Hernawati Purwaningsih, ahli farmasi FKUI, menilai studi Ida menggambarkan bahwa konsumsi jamur tiram adalah jamur seutuhnya, bukan hasil ekstrak. "Ia berhasil membuktikan bahwa beta-glukan berhasil menghambat pertumbuhan sel kanker di organ payudara. Beta-glukan merupakan polisakarida yang dapat diekstraksi dari dinding sel jamur, kapang, oat, barley, rumput laut, alga, dan bakteri. 

 
Selain itu, Erni menganggap ada kebaruan dari studi Ida. Ida membuktikan, beta-glukan 1.3 memiliki pengaruh menghambat perkembangan sel kanker. Tapi ia mengingatkan, selain jamur tiram, ada pula obat herbal seperti buah manggis yang bisa membasmi sel kanker. Kandungan santon pada kulit dalam manggis, memiliki kadar antikoksidan tinggi dan dapat mencegah penyakit kanker payudara. "Hampir mendekati obat doksorubisin," katanya. 


Cuma ada beberapa hal yang dikritisi dari disertasi Ida. Ia tidak membandingkan antar jenis beta-glukan, seperti (1.3) beta-glukan, (1.6) beta-glukan, dan kombinasi keduanya. Padahal, efektivitas beta-glukan sangat tergantung pada penomoran tadi.

 

Perbedaan tersebut berhubungan dengan kualitas sinyal yang memengaruhi sintesis DNA sel kanker. "Kalau misalnya (1,3) beta-glukan lebih bagus dari (1,6) atau kombinasi (1,3) dan (1,6), baru kita percaya bahwa beta-glukan di jamur tiram itu (lebih) bagus dan ada di Indonesia," imbuh Erni.  


Erni juga mencatat tentang pemilihan jenis sampel. Tikus yang dipilih Ida berusia 5-6 pekan itu belum bersifat homogen. Artinya, semua sampel masih berbeda-beda keturunan. Sehingga kemampuan dan daya tahan antartikus berbeda-beda. Seharusnya tikus itu homogen dan di-breeding selama 20 kali. Andaikata sudah homogen, empat tikus yang dijadikan sampel sudah memadai untuk mendapatkan hasil yang optimal. 


Konsumsi Langsung Jamur Tiram

Pengobatan herbal pada kanker payudara dengan jamur tiram dapat dilakukan oleh semua orang karena ketersedian jamur ini sangat berlimpah di Indonesia. Jika sulit mengekstraknya, masyarakat bisa mengambil beta-glukan dengan cara mengonsumsi langsung jamur tiram. Jamur tiram tidak memiliki efek samping seperti banyak jamur lain. "Asal jangan makan terlalu banyak saja," kata Erni. 


Manfaat lain jamur tiram, kata Erni, adalah sebagai zat gizi yang dapat memperbaiki protein di dalam tubuh. Menurut Erni, protein di jamur tiram mirip dengan protein di tahu dan tempe. Meskipun sampai saat ini belum ada peneltian lebih lanjut tentang jenis senyawa protein makro yang ada di jamur tiram. "Belum ada penelitian apakah masyarakat Jawa Tengah lebih bagus kesehatannya karena banyak jamur tiram di sana, dibandingakan daerah lain. Makanya harus ada penelitian lanjutan," katanya. 


Sementara itu, ahli kanker FKUI Dokter Aru Sudoyo, mengakui bahwa lebih dari 50% obat kanker berasal dari tanaman. Salah satunya obat kemoterapi paclitaxel. Obat yang berfungsi mengecilkan tumor payudara ini berbahan dasar kulit pohon pinus. "Namun bukan berarti pasien bisa langsung mengonsumsi kulit pohon pinus," ujarnya. 


Menurut Aru, bahan-bahan alami seperti jamur tiram memang sangat mungkin berpotensi membasmi kanker. Namun butuh biaya besar dan rentetan penelitian untuk sampai menjadi obat. "Tidak ada perusahaan farmasi di Indonesia yang sanggup karena mahal sekali dan potensi gagalnya besar," kata Aru. 


Jamur tiram dan bahan alami lain yang bersifat antikanker bisa dikonsumsi sebagai pengobatan komplementer. Artinya diberikan bersama dengan pengobatan utama dari dokter. Sebab, yang diakui dunia kedokteran Indonesia adalah yang komplementer, bukan pengobatan alternatif. 


Ini karena banyak pasien yang datang terlambat. Tak sedikit yang berobat setelah kanker stadium lanjut. "Begitu datang dengan stadium 4, saya tidak bisa menolong dengan baik karena harapan hidupnya tinggal 10%," tutur Aru. 


Kini, yang tak kalah penting adalah uapaya pencegahan kanker payudara, yaitu, melalui program Sadari (periksa payudara sendiri). Itu bisa dilakukan pada wanita usia subur atau seusai menstruasi. Amati tandanya, antara lain, benjolan, luka di payudara, dan bentuk kulit payudara. Itu agar mereka dapat mengenal kelainan-kelainan sejak awal, sehingga bisa diterapi lebih cepat. Kemungkinan sembuh pun jadi lebih besar.  



Aries Kelana, Hendry Roris P. Sianturi, dan Hidayat Adhiningrat P. 

Dani Hamdani
10-11-2015 18:09