Main Menu

Greenpeace: Ada Benang Beracun pada Merek Pakaian Ternama

Nur Hidayat
21-11-2012 03:20

Jakarta, GATRAnews - Sejumlah merek fast fashion ternama menjual produk yang terkontaminasi dengan bahan kimia berbahaya yang akan terdegradasi/terurai menjadi bahan kimia yang dapat mengganggu sistem hormon atau bahkan menyebabkan kanker ketika dilepaskan ke lingkungan. Hal ini diungkap dalam sebuah laporan terbaru  yang dirilis hari ini oleh Greenpeace International, yang diterima GATRAnews, Rabu (21/11). 

 

Investigasi Greenpeace menemukan adanya bahan kimia berbahaya dalam 20 merek pakaian terkemuka, yang diantaranya adalah ritel fashion Zara memproduksi pakaian yang dapat menimbulkan baik bahan kimia yang mengganggu hormon-ataupun penyebab kanker. Laporan investigasi Greenpeace International, "Benang Beracun – Merek Fashion Ternama Terjahit Dengannya", melakukan tes pada 141 buah pakaian dan memperlihatkan hubungan antara fasilitas manufaktur tekstil yang menggunakan bahan kimia berbahaya dan keberadaan bahan kimia dalam produk akhir. 

 

"Merek fashion ternama menjadikan kita semua korban mode dengan menjual pakaian yang mengandung bahan kimia berbahaya yang berkontribusi terhadap polusi air beracun di seluruh dunia, baik ketika proses produksi maupun saat pakaian tersebut dicuci," kata Yifang Li, Senior Toxics Campaigner Greenpeace untuk Asia Timur. Salah satu temuan utamanya adalah bahwa semua merek yang diuji setidaknya mempunyai beberapa item produk yang mengandung zat "NPEs", yang terurai menjadi bahan kimia yang menyebabkan gangguan hormon, dengan konsentrasi tertinggi - di atas 1.000 ppm - dalam produk pakaian dari Zara, Metersbonwe, Levi’s, C & A, Mango, Calvin Klein, Jack & Jones dan Marks & Spencer (M&S).

 

Bahan kimia lainnya yang diidentifikasi termasuk toksik phthalates dengan tingkat yang tinggi dalam empat produk, dan amina penyebab kanker dari penggunaan pewarna azo tertentu dalam dua produk Zara. Kehadiran jenis lain dari bahan kimia industri yang berpotensi berbahaya ditemukan di banyak pakaian yang diujicoba. "Beberapa produk Zara yang diuji, hasilnya positif mengandung zat yang akan terurai membentuk bahan kimia penyebab kanker atau gangguan hormon, yang merupakan hal yang tidak dapat diterima bagi konsumen dan masyarakat yang tinggal di dekat pabrik-pabrik di mana pakaian ini diproduksi. Bagaimana Zara memastikan bahwa produk-produk pakaian mereka yang lain tidak terkontaminasi dengan bahan kimia berbahaya?”, kata Martin Hojsik, Koordinator Kampanye Detox Greenpeace International dalam siaran persnya. 

 

Produk-produk yang diuji adalah produk yang terutama diproduksi di belahan bumi Selatan, termasuk celana jeans, celana panjang, t-shirt, gaun dan pakaian dalam yang dirancang untuk pria, wanita dan anak-anak dan dibuat dari kedua jenis serat yaitu buatan dan alami. Bahan kimia berbahaya dimasukkan secara sengaja dalam material atau disisakan sebagai residu yang tidak diinginkan dari penggunaan mereka selama proses manufaktur. "Industri tekstil terus memperlakukan badan air publik sebagai selokan pribadi mereka. Tapi pakaian kita tidak perlu mengorbankan bumi: Pakaian kita tidak harus diproduksi dengan bahan kimia berbahaya, "kata Yifang Li. 

 

Dalam laporan ini, dinyatakan bahwa terdapat lima sampel yang dibeli di Indonesia, empat sampel diantaranya atau sebanyak 80% teridentifikasi mengandung NPEs dan dari delapan sampel yang pembuatannya berasal dari Indonesia, enam sampel diantaranya atau sebanyak 75% teridentifikasi mengandung NPEs. Merek-merek yang diproduksi di Indonesia dan teridentifikasi mengandung NPEs yaitu Armani, Esprit, Gap, Mango, Mark & Spencer. Sedangkan, merek-merek yang dijual di Indonesia dan teridentifikasi mengandung NPEs yaitu Calvin Klein, Esprit, Gap, Levi’s, Mark & Spencer.

 

Pada tahun 2011, Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia dalam industri garmen (hilir) dan menempati peringkat ke-11 dunia dalam industri tekstil (hulu). Menurut Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, pada 2010 ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia mencapai US$ 11,21 miliar, naik 21% dibanding 2009. Dari nilai itu, ekspor TPT Indonesia menguasai 1,67% pangsa pasar dunia, 4,55% pangsa pasar di Amerika Serikat, dan 1,28% pangsa pasar di Uni Eropa. Lokasi industri TPT terkonsentrasi di Jawa Barat (57%), Jawa Tengah (14%), dan Jakarta (17%). 

 

Sisanya tersebar di Jawa Timur, Bali, Sumatera dan Yogyakarta. Daerah aliran sungai Citarum, yang mendukung terciptanya 20% total produksi industri Indonesia, merupakan sumber dari 60% produksi tekstil nasional [6].  “Berdasarkan data tersebut, diduga bahwa merek-merek ternama tersebut juga turut meracuni Sungai Citarum dan sungai-sungai lainnya di Indonesia dengan bahan kimia berbahaya,” kata Ahmad Ashov, Jurukampanye Air Bebas Racun Greenpeace Indonesia. (NHi)

 

 

 

 

 

 

 

Nur Hidayat
21-11-2012 03:20