Main Menu

Paolo Marcchiarini: Peneliti Pengguncang Nobel Kedokteran

Aries Kelana
09-09-2016 21:44

Paolo Marcchiarini dari RS Karolinksa, Swedia (Dok. universitetslararen.se )

Jakarta, GATRANews - Paolo Marcchiarini dituding sebagai penyebab munculnya skandal yang membuat dua juri Nobel Kedokteran didesak mundur. Lalu siapakah dia? Sejumlah media menyebut Macchiarini sebagai ilmuwan super pada 2011. Peneliti asal Italia itu memenuhi halaman muka media massa. Ia dianggap tokoh yang bisa membantu pasien kanker trakea yang selama ini susah diobati, meski dengan kemoterapi dan cangkok pipa buatan. 



Berselang setahun, bersama koleganya berhasil mengimplan trakea buatan yang satu terbuat dari gabungan plastik dan sel punca pasien.


Adalah seorang laki-laki bernama Andemariam Beyene yang mendapat cangkok trakea sel punca. Beyene menggunakan cangkok sel punca dari sumsum tulang belakangnya. “Saya hampir menolak. Tetapi (Macchiarini) menipu saya dengan cara ilmiah,” ujarnya kepada New York Times kala itu. Macchiarini bilang, cangkok sel punca sudah sukses dilakukan pada babi.


Namun trakea Beyene cuma bertahan 3 tahun. Organ implan itu longgar dan merengut nyawa Beyene. Selain Beyene, ada 3 orang lain yang diterapi di RS Karolinska, di Swedia. Dua di antaranya, meninggal dunia.


Macchiarini memulai karirnya sebagai dokter setelah lulus dari Medical School, Universitas Pisa, Italia pada 1986. Kemudian ia menjadi residen untuk mendapatkan dokter spesialis bedah toraks di universitas yang sama (1986-1992). Pada 1997, ia meraih gelar Philosophy Doctor dari University of Franche-Comte. Pada 2010, ia menjadi gurubesar tamu di Karolinska.


Petualangan sebagai dokter yang mencangkok trakea buatannya dimulai Juni 2008. Pasien bernama Claudia Castillo mengalami kerusakan paru-paru bagian kiri. Setelah ditemukan masalahnya ada di trakea, tim melakukan cara baru: menggabungkan trakea dari plastik, dan sel punca. Operasi berlangsung sukses. Pasien bisa bernapas kembali dengan normal.


Kesuksesan kedua pada Ciaran Fin Lynch, pasien 10 tahun. Bocah ini pernah menjalani cangkok trakea dari bahan metal. Namun ia harus menjalani beberapa kali operasi karena terus mengalami perdarahan.


Tim Macchiarini menggunakan organ sel punca. Ia bilang kepada pasien bahwa sel punca dapat terdiferensi secara alami dan dapat memperbaiki kerusakan dan gangguan di saluran pernapasan itu. 

 

Proses kultur dilakukan di laboratorium memakan waktu. Karena kondisi Lynch terus memburuk, peneliti memotong alur. Proses kultur hanya berlangsung sebulan dan langsung diaplikasi pada pasien. Pasca operasi, menurut ketua tim dokter Martin Elliot, “Kondisi anak itu baik. Ia bisa berbicara dan bernapas.”

 

Pada 2013, Lynch dianugerahi Pontifical Hero Award pada Konferensi Internasional Sel Punca di Vatikan.


Sejak itulah Machhiarini makin optimistis dengan terapi sel punca. Ia yakin terapi sel punca bisa mengatasi organ-organ yang rusak. Masalahnya, apakah semua ahli mau mengubah filosofinya. “Pertanyaannya, apakah kita mau mencangkok organ dengan bantuan obat penekan kekebalan atau merangsakan sel punca dan membiarkannya organ itu berfungsi kembali,” ujarnya. Setelah itu makin banyak pasien yang diujicoba.

 

Masalah muncul setelah ada 2 laporan pada Juni dan Agustus 2014. Ia dituding 4 mantan rekan setimnya memalsukan hasil penelitian. Risetnya juga dianggap tidak sesuai kode etik, sehingga 3 pasien meninggal di RS Karolinska.


Institut Karolinska lalu menunjuk ahli independen Bent Gerdin untuk menginvestigasi tuntutan mereka dan catatan medis dari Rumah Sakit Karolinska. Laporan Gerdin kelar Mei 2015.

 

Rektor Karolinska, Hamsten mengatakan Macchiarini tidak terbukti melakukan pelanggaran ilmiah, sehingga tidak ada kewajiban mengganti rugi dan menglarifikasi. “Tidak ada sesuatu yang dianggap sebagai pelanggaran ilmiah,” ujar Hamsten.

 

Jurnal ilmiah Science lalu membuat laporan yang berisi kritik pedas terhadap Karolinska. Isinya Gerdin ditenggarai melakukan penipuan laporan yang "menguntungkan" Macchiarini.

 

Hasil investigasi Medical Products Agency Swedia dan Health and Social Care Inspectorate juga menganggap Macchirini bersalah dan mengharuskan mengganti rugi. Beasiswa riset yang selama ini didapat juga dibekukan. Macchiarini didesak melaporkan informasi yang benar dalam jurnal, sebelum beasiswa itu dapat dicairkan.


Macchiarini membelanya. “Saya menilai telah mendapat tudingan yang salah mengenai pelanggaran serius. Ini akan jadi bencana bagi setiap peneliti,” ujarnya. Tudingan itu telah merusak reputasinya dan kelanjutan pengobatan regenerasi. Ia mengklaim studinya menjadi teknik dasar untuk cangkok trakea tanpa penolakan tubuh. Kini risetnya akan dikembangkan ke organ lain.


Penulis: Aries Kelana

Editor: Dani Hamdani 

Aries Kelana
09-09-2016 21:44