Main Menu

Mengapa Hanya Wanita dengan “Gen Angelina Jolie” yang Boleh Mengangkat Indung Telur Mereka?

Rohmat Haryadi
01-10-2016 19:46

Keputusan yang banyak diikuti kaum perempuan (quotatitonof.com)

Jakarta, GATRANews - Ooforektomi bilateral adalah tindakan mengangkat dua indung telur lewat operasi untuk mencegah kanker rahim (ovarium). Tindakan itu disarankan pada wanita yang memiliki gen payudara bermutasi -seperti BRCA1-. Tetapi perempuan di bawah 46 tahun yang melakukan pengangkatan indung telur, lebih berisiko terhadap 18 penyakit lain. Termasuk jantung, depresi dan asma. Ilmuwan  percaya bahwa hilangnya estrogen (hormon perempuan) mempengaruhi serangkaian mekanisme penuaan sel. Para ahli mengatakan pengangkatan indung telur tidak boleh pada wanita di bawah 50 tahun yang tidak memiliki “gen Angelina Jolie”. Demikian dilansir Mayo Clinic Proceedings, akhir September lalu.



Trend umum bagi wanita pra-menopause untuk mengangkat indung telur untuk mencegah kanker. Tetapi sekarang, para ilmuwan memperingatkan praktek tidak boleh dilakukan, kecuali wanita memiliki gen yang rusak (bermutasi) sehingga menempatkan mereka pada 'kategori risiko tinggi'. Para ahli mengatakan perempuan di bawah 46 tahun yang kedua indung telurnya diangkat berada pada risiko yang lebih tinggi secara signifikan dari sejumlah masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung, depresi dan asma.

Tindakan ooforektomi bilateral untuk pencegahan kanker rahim (ovarium) itu diyakini mempercepat proses penuaan. Namun, wanita dengan gen payudara bermutasi --seperti BRCA1, yang terkenal karena pesohor Hollywood, Angelina Jolie, mengidap itu-- harus operasi menghapus indung telur mereka untuk mengurangi risiko kanker. Peneliti dari Mayo Clinic, Minnesota, Amerika, meneliti dua kelompok 1.653 wanita selama sekitar 14 tahun.

Kelompok-kelompok tersebut dibagi antara mereka yang telah menjalani prosedur pengangkatan indung telur, dan yang tidak, yang sama usianya. Hasil penelitian menunjukkan perempuan di bawah 46 tahun yang mengangkat indung telur mereka, mengalami kejadian yang lebih tinggi pada 18 kondisi kronis, kecuali kanker.

Kanker Ovarium karena cacat gen BRCA1 (thasso.com)
Kanker Ovarium karena cacat gen BRCA1 (thasso.com)

Memang, cacat pada gen tertentu dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Gen yang disebut BRCA1, BRCA2, TP53, PALB2 atau PTEN adalah aktor utama terkait dengan risiko tinggi kanker payudara. Setiap orang memiliki gen ini. Jika ada cacat pada salah satu dari mereka, risiko kanker payudara lebih tinggi. Rusaknya gen BRCA1, dan BRCA2 juga meningkatkan risiko kanker ovarium. Peningkatkan risiko terkena kanker payudara menjadi antara 40 persen dan 85 persen.

Takut kanker, wanita berbondong-bondong memilih menjadi steril dengan mengangkat indung telur mereka. Ternyata itu bukan solusi, bagi yang gennya normal. Para peneliti percaya bahwa hilangnya estrogen yang disebabkan operasi indung telur mempengaruhi serangkaian mekanisme penuaan dalam sel. Sehingga tubuh lebih rentan terhadap penyakit di beberapa sistem dan organ di seluruh tubuh.

Peneliti utama Walter Rocca mengatakan bahwa pada wanita muda tidak disarankan melakukan ooforektomi. "Studi ini memberikan bukti baru yang kuat terhadap penggunaan ooforektomi bilateral untuk pencegahan pada wanita muda,” katanya. Ooforektomi bilateral tidak harus dianggap sebagai pilihan etis yang dapat diterima untuk pencegahan kanker ovarium pada sebagian wanita yang tidak membawa varian genetik berisiko tinggi.

“Rekomendasi klinis sederhana dan jelas. Dengan tidak adanya dokumentasi yang menunjukkan varian genetik berisiko tinggi, ooforektomi bilateral sebelum usia 50 tahun (atau sebelum menopause) tidak pernah dipertimbangkan, dan tidak harus ditawarkan sebagai pilihan untuk perempuan,” katanya.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
01-10-2016 19:46