Main Menu

Kasus Kanker Payudara di Indonesia Tertinggi di ASEAN

Aries Kelana
20-10-2016 14:37

Kanker payudara (Gatra/Rifki M. Irsyad/yus4)

Jakarta, GATRANews Studi ACTION (ASEAN Cost In Oncology), yaitu sebuah studi yang dilakukan oleh George Institute for Global Health untuk menganalisa beban biaya yang disebabkan penyakit kanker di 8 negara di Asia Tenggara, memperlihatkan bahwa kanker payudara memiliki insiden maupun prevalensi-5-tahun tertinggi di kawasan ini.



Yaitu:
dengan rasio mortalitas terhadap insiden yang relative rendah. Sekitar 93-100% pasien kanker payudara yang terdeteksi pada stadium I dan II dan mendapat terapi tepat sesuai standar medis dapat bertahan hidup setidaknya selama lima tahun, sementara pada stadium III dan IV, angka ini merosot drastic menjadi 72% dan 22% saja.

Itu
terungkap dalam jumpa pers yang digelar Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan hari ini. Angka tersebut tidak terlepas dari kurangnya pemahaman masyarakat Indonesia akan gejala dan risiko kanker payudara meningkatkan banyaknya jumlah pasien yang terdeteksi pada stadium lanjut.

M
aka Kementerian Kesehatan, kata Niken Palupi, MKM, Kasubdit Pengendalian Penyakit Kanker –Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, memrioritaskan program pencegahan dan pengendalian kanker payudara yang bersifat promotif dan preventif, “Seperti penyebaran informasi tindakan deteksi yang dapat dilakukan sendiri melalui pemerikSAan payuDAra sendiRI (SADARI),” katanya.

Kementerian itu
juga mendorong kelompok pendukung pasien dan media untuk lebih gencar dalam membagikan informasi mengenai kanker yang benar kepada keluarga, teman, dan komunitas dalam rangka menurunkan jumlah kasus kuratif dan rehabilitative kanker payudara serta menciptakan Indonesia yang lebih sehat.

Sementara itu,
Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PDl-KHOM, Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, mengatakan bahwa saat ini pusat penanganan kanker di Indonesia terbatas hanya di rumah sakit besar yang terletak di kota-kota besar. “Jumlah dokter spesialis kanker dan peralatan medis yang terbatas adalah salah satu penyebab pemberian terapi kurang optimal,” ujarnya dalam acara tersebut.

Oleh karena itu, pelayanan kanker terpadu, yakni penyelenggaraan pelayanan kanker secara komprehensif di rumah sakit sehingga pasien kanker memperoleh pelayanan kesahatan yang bermutu, harus benar-benar dijalankan di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menguatkan upaya sistem rujukan agar pasien tidak berkumpul dan menumpuk di rumah sakit provinsi serta mendekatkan akses pelayanan.

Rencana pengembangan pelayanan kanker di Indonesia
yang diungkapkan Aru, antara lain, pemenuhan dokter spesialis di rumah sakit rujukan nasional dan provinsi, pemenuhan standar melalui akreditasi serta pengadaan alat-alat kesehatan dan sarana sesuai klasifikasi rumah sakit, dan penguatan Pusat Kanker Terpadu di rumah sakit rujukan nasional dan provinsi.


 

Editor: Aries Kelana

 

 

Aries Kelana
20-10-2016 14:37