Main Menu

Obat Baru Bisa Hilangkan Psoriasis 100%

Rosyid
16-08-2017 20:07

dr. Danang Tri Wahyudi, SpKK - Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin ketika memberikan penjelasan mengenai penyakit psoriasis (Foto:GATRAnews/Dok. Novartis).

Jakarta, GATRAnews - Pemerintah belum memprioritaskan Psoriasis dalam penanganan penyakit tidak menular di Indonesia. Tidak seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes juga kanker. Penyakit ini bersifat kronis dan sampai saat ini belum ada obatnya. Pasien harus berobat seumur hidupnya.

Psoriasis adalah penyakit autoimun yang tidak menular karena disebabkan faktor genetis. Menurut WHO penyakit ini diderita sekitar 2 persen populasi dan di Indonesia mempengaruhi antara 1- 3 persen populasi. Penderita penyakit ini mengalami ruam kulit berwarna merah dengan sisik berwarna perak dengan sel kulit mati yang bertumpuk. Biasanya muncul di telapak tangan, tumit, lutut, siku dan kepala.

Penyakit ini bersifat menahun dan memicu stress yang mengganggu kualitas hidup penderitanya. Sekitar 30 persen penderitanya mengalami Psoriasis Arthisis dimana sendi tubuh terkena Psoriasis. Penyakit ini juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan serius lainya seperti diabetes, jantung, depresi hingga sulit tidur.   “Psoriasis mempengaruhi kualitas hidup pasien dan berdampak secara fisik, psikologis dan finansial,” terang dr. Danang Tri Wahyudi, SpKK di Jakarta, Rabu (16/7). “Bahkan bisa memicu tindakan bunuh diri karena muncul lagi - muncul lagi,” tambahnya.

Dampak yang cukup miris itu dibenarkan drg. Rio Suwandi, penderita Psoriasis. Penyakit ini muncul saat menginjak remaja dan mulai dari kepala. Dahinya ruam merah dan kulit mati menebal dikepalanya. Gara-gara itu lingkungan sekitar melihatnya dengan jijik dan menghindar karena takut tertular. Dia juga merasa malu, marah lalu menarik diri dari lingkungannya. “Saya sempat beberapa kali mencoba bunuh diri,” katanya. Berkat dukungan ibu dan orang-orang terdekatnya dia bisa melewati fase-fase berat itu.

Sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang bisa dipicu stress dan rokok ini. “Yang bisa dilakukan adalah memperpanjang masa remisi -jeda sembuh antara dua sakit-,” kata dr. Danang yang berpraktek di RS Darmais ini. Dalam pengobatan psoriasis dikenal istilah PASI (Psoriasis Area and Severity Index) yang menggambarkan tingkat keparahan penyakit.

Variabelnya adalah tingkat kemerahan kulit, sisik, tebalnya plak dan sebarannya dipermukaan tubuh. Semakin tinggi skor PASI semakin baik kondisi pasien. Skor 100 persen berarti permukaan pasien bersih sepenuhnya.

Salah satu metode pengobatan yang efektif dengan menggunakan obat biologis. Yaitu protein dengan rekayasa genetis yang didapatkan dari gen manusia yang dirancang untuk menghambat komponen spesifik di sistem imun tubuh penyebab inflamasi. Dalam hal ini menyasar IL-17A dan bekerja secara spesifik menghambat aktifitas IL-17A yang terkait dengan inflamasi dan daya tahan tubuh seperti psoriasis.

Metode ini bisa menghasilkan PASI 90 – 100%. Jauh lebih baik dari metode yang umum dipakai saat ini yang maksimal PASI 75%. “Tapi tidak semua pasien bisa mencapai PASI 100%. Karena ternyata faktor pemicunya juga lebih dari satu. Jadi hanya 75% pasien yang bisamencapai PASI 100%,” terang dri Danang.

Perusahaan farmasi Novartis Indonesia meluncurkan obat jenis ini dengan nama Secukinumab. “Kini tersedia bagi pasien Indonesia. Pengobatan ini tidak hanya memberikan kendali bagi penyakit psoriasis, juga untuk meningkatkan standar harapan pasien terhadap pengobatannya,” presiden direktur Novartis Indonesia Milan Paleja saat memperkenalkan obat ini di Jakarta, Rabu (16/8).



Obat ini ditujukan pada penderita Psoriasi sedang hingga berat. Obat ini yang harus dengan resep dokter ini berbentuk injeksi. Pada bulan pertama pasien diinjeksi setiap minggu. Biasanya setelah lima kali injeksi skor PASI sudah mencapai 75 persen. Setelah itu injeksi setiap bulan hingga skor PASI 90-100 persen. Setelah tercapai biasanya masuk masa remisi selama 1 tahun.

Jika psoriasis muncul lagi, maka bisa di injeksi kembali. Dengan menjalani terapi ini, pasien tidak perlu lagi menggunakan obat-obatan lain, termasuk tidak perlu lagi mengoleskan salep atau pelembab setiap hari. Dan harga yang ditawarkan lebih murah daripada negara-negara lain di ASEAN. Milan enggan menyebutkan angka pastinya.

Dr Danang memberikan gambaran, bahwa saat ini ada lima obat sejenis di Indonesia. Yang paling murah, setiap kali injeksi Rp 10 juta. Yang paling mahal Rp 40 juta. “ Kalau yang ini sekitar Rp 3,3 juta setiap kali injeksi,” terangnya.


Editor: Rosyid

Rosyid
16-08-2017 20:07