Main Menu

Tingkatkan Kesadaran akan Penyakit Kanker Payudara

Annisa Setya Hutami
28-10-2017 10:13

Ilustrasi. (Pixabay/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Tidak terbayang tujuh tahun yang lalu Grace Tanus divonis menderita kanker payudara. Apalagi ketika diketahui kanker sudah sampai stadium 4. Padahal saat itu usianya masih di bawah empat puluh tahun. Tidak terpikirkan pula karena tidak ada rasa sakit berlebih pada bagian sensitifnya tersebut.

Sempat merasakan shock dan tidak percaya, namun pengobatan tetap harus dilakukan. Ada perasaan bosan harus beberapa kali menjalani kemoterapi. Menjadi tidak nafsu makan dan minum karena teringat dengan rasa sakit yang diderita.

Meskipun begitu, Grace memiliki keinginan untuk sembuh. Ternyata setelah melakukan pengecekan lagi, kankernya berada di stadium 2. Harapan masih besar dengan operasi.

Waktu berjalan begitu cepat. Kini Grace telah sembuh total. Dapat bekerja kembali dengan normal dan bepergian ke luar kota. Bahkan menjadi pembicara di acara kesehatan yang diadakan oleh Philips. Ada semacam rasa perduli terhadap penderita kanker payudara lain agar tetap semangat dan optimis sembuh. Selain itu, mengajak para wanita untuk segera memeriksakan diri saat menemui benjolan pada daerah payudara.

Saat ini banyak masyarakat yang kurang perhatian akan penyakit kanker payudara. Padahal prevelensi jumlah penderita pada wanita tergolong cukup tinggi.

Dokter Spesialis Bedah Onkologi, Samuel J. Haryono mengatakan umumnya masyarakat takut untuk memeriksakan diri ke rumah sakit karena bagian tubuh yang diperiksa termasuk yang sensitif. Sehingga mereka mengurungkan niatnya untuk melakukan pemeriksaan. Tindakan masyarakat yang salah ini menyebabkan penyakit semakin parah dan tidak terdeteksi lebih dini.

Niken Wastu Palupi dari P2PTM Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan data terkait jumlah penduduk Indonesia yang melakukan deteksi dini. Dari target 35 juta, hanya 2 juta penduduk yang telah memeriksakan kesehatan payudaranya. Berdasarkan angka tersebut, tingkat kesadaran deteksi dini terbanyak berada di provinsi Bali dan DKI Jakarta.

“Perlu dilakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) . Mengingat satu dari delapan wanita rentan terkena kanker payudara. Sadari dan sadanis harus dilakukan. Untuk sadanis dapat dilakukan dengan mommografi dan biopsi,” katanya.

Kurangnya kesadaran masyarakat dikarenakan ketidakpahaman akan penyakit tersebut. Linda Gumelar selaku Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengatakan YKPI sudah banyak melakukan sosialisasi namun masih banyak yang menganggap kanker payudara sebagai penyakit yang dekat dengan kematian.

Pelajaran tentang alat reproduksi juga tidak diberikan di sekolah. Karena kurangnya pengetahuan, inilah yang membuat penderita datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut.

“Seharusnya sudah terdapat pelajaran mengenai alat reproduksi yang dimasukan di kurikulum, bukan dalam bentuk ekstra kurikuler. Dengan itu Kementerian Kesehatan dan YKPI tidak harus banyak melakukan kampanye sehingga lebih fokus kepada pertolongan,” katanya.


Reporter: ASH
Editor: Nur Hidayat 

 

Annisa Setya Hutami
28-10-2017 10:13