Main Menu

Menkes: Minum Urin Unta Belum Terbukti Sembuhkan Penyakit

Annisa Setya Hutami
11-01-2018 22:44

Menkes Nila F. Moeloek. (Antara/Reno Esnir/AK9)

Jakarta, Gatra.com – Minum air kencing unta untuk menyembuhkan penyakit seperti hepatitis, alergi dan kanker masih menjadi perdebatan. Setelah Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Ustadz Bachtiar Nasir meminum saat berkunjung ke Arab Saudi beberapa pekan lalu. Tindakan ini menjadi viral dan banyak orang mempertanyakan apakah hal itu terbukti kebenarannya.


Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Moeloek menanggapi fenomena minum urin unta ini. Menurutnya, aktivitas ini belum dapat dibuktikan kemanfaatannya secara ilmiah. Masih perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu apakah terdapat kandungan dalam urin unta yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit.

''Mungkin bisa, tapi memang perlu kita teliti betul ada apa di dalam urin ini. Mungkin tidak semua bisa diambil, mungkin ada beberapa zat yang bisa digunakan untuk apa. Tapi kalau langsung diminum, saya kira tidak, di dalamnya ada bakteri-bakteri. Saya kira secara ilmiah itu perlu diteliti dulu,'' ucap Nila Moeloek saat menghadiri Capaian Program Kesehatan 2017 RI di Kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu sore (10/1).


Menkes mengimbau agar masyarakat berhati-hati terhadap informasi yang belum terbukti kebenarannya. Apalagi saat ini Kementerian Kesehatan sedang mengupayakan pencegahan virus korona atau Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV) yang terdapat di Arab Saudi.

“Adapun perilaku agar terhindar dari MERS-CoV, antara lain melakukan kontak dengan hewan (terutama unta), minum susu unta mentah atau air kencing unta, atau makan daging unta yang belum dimasak dengan matang,” jelas Nila.

MERS-CoV ini merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus korona. Gejalanya berupa batuk, demam, nafas pender serta munculnya pneumonia dalam beberapa kasus. Bahkan penyakit ini menular dan mematikan. Meskipun belum diketahui secara pasti penyebarannya, namun beberapa peneliti mengatakan berasal dari hewan seperti kelelawar dan unta.


Reporter: ASH
Editor: Arief Prasetyo

Annisa Setya Hutami
11-01-2018 22:44