Main Menu

Waspada Leukimia pada Anak

Annisa Setya Hutami
16-02-2018 05:29

Seminar Hari Kanker Anak Sedunia 2018 (ASH)

 

Jakarta, Gatra.com- Para orang tua perlu waspada ketika mendapati anaknya demam tinggi. Siapa tau itu merupakan salah satu gejala leukimia. Kepala Instalasi Anak Rumah Sakit Kanker Dharmais, Haridini Intan mengatakan penderita kanker darah pada anak tergolong paling tinggi. Prosentasenya mencapai 65 hingga 70 persen. Dalam seminar memperingati Hari Kanker Anak Sedunia pada Kamis (15/2) di Gedung Sujudi Kemenkes, Jakarta, dibahas bahwa kanker pada anak sulit untuk dideteksi dini.  

 

Perilaku dan kebiasaan masyarakat belum terlalu fokus pada permasalahan ini. Padahal kanker menjadi penyakit mematikan kedua setelah jantung. Leukimia ditandai dengan adanya penekanan sel-sel darah putih yang abnormal terhadap sel darah yang normal sehingga mengakibatkan fungsinya terganggu.

 

“Kasus leukimia pada anak perlu menjadi perhatian. Mengingat anak usia di bawah 5 tahun sulit mengungkapkan rasa sakit sehingga baru tampak ketika stadium lanjut. Seharusnya apabila terdeteksi lebih dini, pengobatan pun akan lebih mudah. Hanya saja, pada usia tersebut, orang tua terkadang tidak menyadari munculnya gejala kanker. Terutama ketika demam tinggi dan sering muntah, sangat perlu pemeriksaan. Biasanya, ketika imunisasi sekalian dilakukan pemeriksaan,” ujar Haridini.

 

Angka kematian yang tinggi disebabkan orang tua terlambat memeriksakan kondisi anak. Mereka umumnya belum memiliki pengetahuan kesehatan sehingga cenderung mengabaikan gejala leukimia. Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, Abdul Kadir menyampaikan salah satu tanda ketika nafsu makan menurun, pucat, dan demam tanpa sebab jelas.

 

“Orang tua perlu aktif memahami gejala dan faktor penyakit pada anak terutama leukimia. Faktor-faktor yang memicu seperti genetik, lingkungan, infeksi virus atau bakteri dan radiasi. Oleh karena itu, perlu rutin melakukan pemeriksaan. Datangi fasilitas kesehatan terdekat agar segera terdeteksi dan dilakukan pengobatan. Soalnya proses pengobatan juga lama, bisa dalam hitungan tahun,” ucap Abdul Kadir.

 

Guna menemukan kanker pada anak lebih dini, Kemenkes dan RS Dharmais melakukan Training of Trainer (TOT) di 10 provinsi Indonesia pada 2016 dan 2017. Selain itu, Abdul Kadir menyarankan pemerintah agar mengubah strategi penanganan kanker sehingga lebih kepada pencegahan. Sosialisasi dan penyuluhan sangat penting untuk memberikan pengetahuan kepada orang tua. Diharapkan angka kematian anak karena leukimia dapat menurun.

 

“Untuk menghindari, perbaiki kualitas hidup. Selain itu, jaga pola makan dan hindari faktor pemicu kanker. Ditambah lagi istirahat yang cukup. Sampai saat ini belum ditemukan secara pasti penyebab kanker. Mencegah lebih baik daripada mengobati,” katanya.


Reporter: Annisa Setya Hutami (ASH)

Editor: Rosyid

Annisa Setya Hutami
16-02-2018 05:29