Main Menu

Semangat Pasien Kanker Anak dan Akses Pendidikan

Annisa Setya Hutami
16-02-2018 00:57

Seminar Kanker Anak Sedunia (ASH)

 

 Jakarta, Gatra.com- Nani Inans terdiagnosis kanker osteosarkoma ( kanker tulang) sejak berusia 14 tahun. Sepulang dari kegiatan pramuka, ia mengeluhkan pegal pada bagian bawah lutut. Merasa hanya keseleo, akhirnya berobat ke tukang urut. Namun, bukannya sembuh malah menjadi bengkak. Kemudian barulah melakukan pemeriksaan di rumah sakit dan didapati sel kanker  telah mencapai stadium lanjut.

Karena terlambat berobat, kaki harus diamputasi agar sel kanker tidak menyebar. Sampai 2018, menjalani amputasi sampai dua kali. Meskipun begitu, Nani tidak patah semangat. Ia tetap bersekolah hingga tingkat universitas. Sekarang usianya 21 tahun dan masih melakukan medical check up  satu tahun sekali.

Kisah Nani menjadi contoh bahwa kanker tidak mematahkan semangat untuk menggapai cita-cita. Kepala Instalasi Anak Rumah Sakit Kanker Dharmais, Haridini Intan saat ditemui bercerita pasiennya umumnya memiliki kemauan keras untuk tetap bersekolah. Hingga saat berada di rumah sakit, mereka tetap mengerjakan tugas dan belajar.

“ Mereka rata-rata cerdas. Nilainya bagus. Meskipun sakit, masih bisa mengikuti pelajaran. Walau harus menyelesaikan soal ujian di rumah sakit, mereka mampu dan hasilnya memuaskan. Hanya saja, jangan sampai mereka terlalu kecapean,” ujar Haridini saat ditemui pada Seminar Hari Kanker Anak Sedunia pada Kamis (16/2) di Gedung Sujudi Kementerian Kesehatan.

Menurutnya pencapaian akademis berdampak pada psikologis anak penderita kanker. Mereka akan selalu berusaha memperoleh hasil maksimal. Ketika capaian sesuai ekspektasi dan perasaan gembira, berpengaruh pada kesehatan. Begitu pula sebaliknya, saat merasa sedih, kesehatan dapat menurun.

“ Saya sangat sedih ketika melihat pasien saya diberi nilai 0 pada mata pelajaran olah raga. Dia langsung down dan drop kondisinya, sampai meninggal. Seharusnya sekolah mengetahui kondisi muridnya,” katanya.

Haridini merasa dunia pendidikan masih kurang perduli terhadap penderita kanker pada anak. Beberapa sekolah tidak mau menerima murid penderita kanker. Mereka beralasan takut nantinya akan muncul ketidakadilan perlakuan yang berakibat pada rasa iri.

“ Kita udah kerjasama dengan dinas pendidikan, tapi masih ada sekolah yang pilah-pilih. Biasanya dari swasta. Alasannya karena takut bikin iri murid lain. Seharusnya bisa dimaklumi, kondisi fisik mereka tidak seperti anak lainnya. Mereka berhak mendapatkan pendidikan. Jangan sampai karena sakit, mereka menjadi putus sekolah,” ujar Haridini.  


 

Reporter: Annisa Setya Hutami (ASH)

Editor: Rosyid

Annisa Setya Hutami
16-02-2018 00:57