Main Menu

Endoskopi Terapeutik Tingkatkan Kualitas Hidup Pasien Kanker Gastrointestinal Stadium Lanjut

Umaya Khusniah
01-07-2018 05:21

Ilustrasi Endoskopi. (Shutterstock/FT02)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com - Prof. Dr.dr. Dadang Makmun, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG mengatakan, Endoskopi saluran cerna ternyata tidak hanya berperan sebagai alat diagnosa penyakit. Lebih dari itu, endoskopi dapat digunakan untuk tujuan terapeutik. 

Dadang menyampaikan keterangan tersebut dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Penyakit Dalam Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada Sabtu (30/6) di Gedung IMERI, Salemba, Jakarta Pusat.  

Endoskopi saluran cerna meliputi esofagogastroduodenoscopy, kolonoskopi, enteroskopi, dan endoscopic ultrasound (EUS). "Endoskopi juga dapat berperan sebagai modalitas terapeutik baik pada penyakit yang ganas atau bukan," ujarnya.

Sebagai informasi, terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan dalam berinteraksi untuk membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis, dan belajar bagaimana berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain. Northouse (1998)

Sebelumnya, kata Dadang, efektivitas berbagai pengobatan kanker gastrointestinal dinilai dengan melihat respon tumor terhadap pengobatan dan tingkat kesintasan atau kelangsungan hidup pasien. Namun belakangan, alat evaluasi ini sedikit berubah. Kualitas hidup yang meliputi aspek fisiologis, psikologis, dan aspek sosial dari pasien dan keluarga dapat menjadi alat evaluasi terkait keberhasilan pengobatan kanker.

Pada penyakit saluran cerna yang bersifat keganasan, endoskopi dapat berperan sebagai modalitas terapeutik baik yang bersifat paliatif ataupun definitif.

Endoskopi terapeutik yang bersifat paliatif meliputi fotodinamik, terapi laser, pemasangan self-expandable metal stents (SEMS), pemasangan nasobiliary drainage (NBD) tube untuk akses nutrisi, dan EUS-Guidedd biliary drainage /EUS-BD.

Sementara endoskopi terapeutik yang bersifat definitif meliputi endoscopic mucosal resection (EMR) dan endoscopic submucosal dissection (ESD).  Semua endoskopi terapeutik tersebut telah dapat dilakukan di Pusat Endoskopi Saluran Cerna Divisi Gastroenterolog Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM/FKUI.

"Dewasa ini terapi paliatif melalui endoskopi terapeutik merupakan pilihan yang efektif seperti halnya radiasi, kemoterapi, ataupun pembedahan," ujar Dadang.

Sebagai informasi, kanker gastrointestinal atau saluran cerna merupakan salah satu kanker ganas terbanyak di dunia. Kanker saluran cerna meliputi kanker esofagus, gastrodudodenal, pankreas, dan kolorektal.

Di Asia, jumlah kasus baru kanker saluran cerna ini pada tahun 2002 mencapai 3,5 juta jiwa. Diprediksi pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 8,1 juta jiwa.

Sementara data di RS Cipto Mangunkusumo, kanker saluran cerna terbanyak diduduki oleh kanker kolorektal. Hampir 70% pasien kanker di Indonesia terdiagnosa dalam stadium lanjut. Kanker sudah menyebar jauh dan tidak dapat dioperasi serta tidak dapat disembuhkan atau dikontrol dengan pengobatan yang ada. 


Reporter: Umaya Khusniah
Editor: Iwan Sutiawan

Umaya Khusniah
01-07-2018 05:21