Main Menu

Pemberian Vaksin HPV Lebih Dini, Cegah Kanker Serviks Lebih Awal

Annisa Setya Hutami
31-08-2018 12:38

vaksinasi kanker serviks (ANTARA/Nyoman Budhiana/yus4)

 

 

Jakarta, Gatra.com - Badan Elly Mawati terlihat bugar. Warga Jakarta Timur ini bahkan mampu untuk berjalan jauh. Padahal, beberapa tahun lalu, ibu dengan 3 anak ini divonis menderita kanker serviks. Elly patut bersyukur, stadium kanker yang dideritanya masih di tahap awal sehingga dirinya bisa cepat pulih.

 

“Sebelum terkena kanker serviks, terlebih dahulu terkena kanker usus di tahun 2015. Setelah rutin kontrol, ternyata pada 2016 dokter mendiagnosis saya terkena kanker serviks. Saya kira itu penyebaran atau metastasis. Namun ternyata tidak dan memang baru munculnya,” ujar anggota komunitas perduli kanker Cancer Information and Support Center (CISC) tersebut, Kamis (30/8/2018).

Elly tak pernah menyangka dan menduga kalau dirinya bakal terkena kanker serviks. Pasalnya, pensiunan salah satu perusahaan BUMN ini sering melakukan tes Pap Smear setiap setahun sekali untuk memeriksa kondisi sel-sel pada leher rahim dan vagina.

Pada tes sebelumnya tidak ditemukan indikasi kanker. Ia juga termasuk sosok setia dan tidak pernah bergonta-ganti pasangan.

“Saya pun heran kenapa bisa sampai terkena kanker serviks. Tidak ada gejala juga. Hanya saja sering sekali mengalami keputihan dan saya acapkali mengabaikan hal tersebut,” kata Elly.

Saat awal dirinya divonis mengidap kanker, ia langsung diharuskan menjalani operasi. Saat itu, Elly mengalami kecemasan berlebih. Ketiga anaknya sedang sibuk menjalani studi. Ada yang akan ujian sekolah dan ada yang sedang menyelesaikan skripsi.

Anggota CISC ini tak mau dirinya menghambat pencapaian mereka. Oleh karena itu, tidak satu pun dari anaknya yang mengetahui tindakan operasi tersebut.

Wanita ini menuturkan, anak pertamanya sering bertanya bagaimana kondisi kesehatan dirinya. Ia hanya menjawab dirinya baik-baik saja.

Setelah beberapa bulan dan dirasa sembuh, barulah dia bercerita kepada anaknya tentang penyakit yang dideritanya. Mereka sempat kesal namun setelah diberikan penjelasan akhirnya mereka memakluminya.

Meskipun mengidap kanker, Elly tampak terlihat semangat. Ternyata kuncinya terletak pada dukungan yang diberikan oleh teman sesama pengidap kanker. Ia sering mengikuti kegiatan komunitas kanker dan bertemu dengan rekan senasib, sehingga tidak terpikirkan akan beratnya penyakit.

Meskipun begitu, terkadang terdapat penyesalan dalam diri ELly karena tidak pernah melakukan vaksin HPV. Mengingat vaksin tersebut baru ada beberapa tahun belakangan.

Imunisasi HPV (Human papilloma virus) merupakan salah satu upaya pencegahan kanker serviks. Virus HPV memiliki lebih dari 100 strain virus. Dari 100 strain virus tersebut, yang menjadi penyebab terbanyak kanker serviks adalah virus HPV strain 16 dan 18.

Selama ini jumlah pengidap kanker serviks tertinggi di dunia. Angkanya terkadang berada di urutan pertama dan kedua. Berdasarkan riset WHO. Lebih dari 250.000 wanita meninggal akibat kanker serviks pada tahun 2005 dan ditemukan 500.000 kasus baru.

Oleh karena itu, Elly menyarankan agar remaja dan anak-anak sangat perlu diberikan vaksin ini. Bila telah menikah, perlu ditambah dengan melakukan tes pap smear. Ia menghimbau agar wanita Indonesia jangan malu untuk memeriksakan kesehatannya.

“Angka kematian kanker payudara dan kanker serviks terbesar di dunia. Oleh karena itu, ayolah wanita untuk rutin cek kesehatan. Selain itu, lakukan vaksin HPV untuk pencegahan. Dengan itu, diharapkan angka dapat menurun,” ujarnya.



Reporter: Annisa Setya Hutami
Editor: Hidayat Adhiningrat P

Annisa Setya Hutami
31-08-2018 12:38