Main Menu

Armi Susandi: El Nino Sudah Berakhir, Kebakaran Hutan Menyingkir

Dani Hamdani
04-11-2015 09:57

Dr Armi Susandi MT, ITB (Dok GATRAnews)

Dr Armi Susandi MT, ITB (Dok GATRAnews)

Bandung, GATRAnews - Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Polhukam Luhut Pandjaitan bahwa pemerintah “mal prediksi” mengenai kejadian El Nino, di berbagai media 28 Oktober 2015, sungguh menimbulkan berbagai tafsiran, khususnya bagi saya sebagai seorang ahli klimatologis.

 

Bagi kami, di Institut Teknologi Bandung (ITB), kemampuan memprediksi cuaca dan iklim sudah menjadi “makanan” sehari-hari. Dan makin hari, dengan bantuan teknologi komputasi, prediksi cuaca dan iklim sudah sangat mendekati kebenarannya. Bahkan, pengembangan ITB Smart Climate Model telah mampu memprediksi kondisi iklim hingga 5 tahun mendatang dengan ketepatan dan resolusi tinggi.

 

Sebelum merespon berbagai pernyataan yang disampaikan para petinggi republik ini, mari kita sedikit menggali informasi tentang apa itu El Nino dan dampaknya. 

 

El Nino merupakan fenomena iklim yang ditandai naiknya suhu permukaan laut, atau lebih dikenal dengan kolam hangat, di Samudera Pasifik sebelah Timur dan menyebabkan terjadinya awan-awan konvektif di wilayah perairan Peru. Sedangkan di wilayah Barat Pasifik (khususnya di Indonesia), terjadi sebaliknya, miskin awan konvektif.

 

Implikasi dari kondisi tersebut wilayah Indonesia mengalami miskin hujan (kekeringan). Sementara wilayah di sekitar Peru akan kaya dengan awan-awan yang mengandung hujan.

 

Kejadian El Nino 2015 telah menyebabkan sebagian wilayah Indonesia dilanda kekeringan sepanjang tahun (hingga Oktober 2015). Kondisi tersebut menyebabkan minimnya cadangan air untuk memenuhi kebutuhan air sehari-sehari, khususnya untuk aktivitas pertanian. Selain itu, kekeringan yang terjadi telah memicu kebakaran hutan di Indonesia sejak Mei 2015.

 

Tentu kebakaran hutan bukan diakibatkan oleh kekeringan, tangan-tangan manusia-lah yang menyebabkan kebakaran itu terjadi (man-made disaster). Penderitaan masyarakat akibat asap dari kebakaran hutan terjadi secara massif (BNPB melaporkan luas wilayah kebakaran lebih dari 2 juta ha atau 4 kali luas Pulau Bali atau 32 kali luas wilayah Jakarta).

 

Sebenarnya hasil prediksi iklim sebelumnya telah diumumkan pemerintah sejak April 2015, bahwa El Nino akan terjadi di bulan Mei 2015. Akan tetapi, jarak waktu informasi tersebut diumumkan terhadap waktu kejadian El Nino terlalu dekat.

 

Sehingga masyarakat dan pemerintah “berkilah” untuk tidak siap menghadapi akibat yang ditimbulkan. Banyak petani mengalami gagal tanam dan panen. Masyarakat tidak memiliki persediaan air bersih yang cukup. Kebakaran hutan sulit untuk dipadamkan karena respon pemadaman terkesan telat serta ditambah musim kering yang panjang telah masuk, akibat El Nino.


Waspada El Nino dan La Nina 

 

Gambar 1. Distribusi curah hujan pada 7 Oktober 2015 (Dok GATRAnews/Armi Susandi)
Gambar 1. Distribusi curah hujan pada 7 Oktober 2015 (Dok GATRAnews/Armi Susandi)

 

Disinilah penting adaptasi struktural yang seharusnya sudah disiapkan dalam menghadapi bencana seperti EL Nino atau La Nina (dampak Indonesia menjadi lebih banyak turun hujan).  Tanpa adaptasi struktural, Indonesia akan selalu “gagap” dalam menghadapi bencana iklim yang terjadi secara periodik tersebut.

 

Upaya responsif telah dilakukan pemerintah, untuk memadamkan kebakaran hutan, pemerintah telah berupaya dengan hujan buatan di sejumlah titik. Namun, upaya tersebut ternyata tidak cukup untuk menghentikan kebakaran tersebut. Rasio antara luas wilayah kebakaran dengan luas cakupan hujan buatan sangat tidak sebanding.

 

Bahkan disinyalir bantuan asing yang untuk ikut memadamkan kebakaran hutan tersebut, terpaksa sebagian “balik kanan” dikarena terlalu luasnya wilayah yang terbakar dan seakan-akan menjalani “mission impossible”. Seakan-akan mereka bermaksud mengatakan bahwa hanya “tangan-tangan Tuhan” lah yang sanggup memadamkannya.

 

Oleh karena itu, hujan alami lah yang diperkirakan akan mampu mengatasi bencana yang merugikan masyarakat tersebut. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya hujan yang terjadi pada 7 Oktober 2015 yang membasahi sejumlah wilayah Sumatera Barat, Jambi, Riau, Kalimantan Barat dan Jawa Barat.

 

Hujan yang terjadi dalam sehari tersebut cukup untuk menurunkan intensitas kebakaran hutan di Kalimantan Barat, Jambi dan Riau. Distribusi curah hujan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.

  

“Kebaikan Tuhan” berupa turun nya hujan hingga saat ini di beberapa wilayah Indonesia tentu menjadi upaya terbesar dalam memadamkan kebakaran baik yang ada di permukaan, maupun yang ada di bawah permukaan, khusus di area gambut.

 

Tentu tidak dapat dinafikan begitu saja upaya dan kerja keras yang saling bahu membahu dari Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan komponen masyarakat lainnya dalam memadamkan api dan mengurangi asap dari kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia.

 

Apakah “tangan-tangan Tuhan” tersebut akan terus menunjukkan “eksistensi” nya untuk melindungi negeri kita tercinta ini dalam menghentikan kebakaran dan kabut asap? Dengan kata lain, Apakah El Nino 2015 itu berakhir atau apakah kita sudah masuk musim hujan? Disinilah pentingnya informasi prediksi cuaca dan iklim yang akurat.


ITB Smart Climate Model

 

Gambar 2. Prediksi curah hujan 2015-2016 (Dok GATRAnews/Armi Susandi)
Gambar 2. Prediksi curah hujan 2015-2016 (Dok GATRAnews/Armi Susandi)

  

Kondisi kontinen maritim Indonesia dengan kompleksitasnya dinamika atmosfernya, tentu membuka cuaca dan iklim di Indonesia menjadi sangat dinamis. Kompleksistas kondisi cuaca dan iklim di wilayah tropis Indonesia tersebut membuat hasil prediksi kadang menjadi kurang akurat.

 

Meskipun begitu, dengan meningkatnya kajian keilmuan atmosfer dan didukung oleh teknologi komputasi maka sistem prediksi cuaca/iklim bukan tidak mungkin dapat dikembangkan dengan tingkat akurasi dan resolusi yang sangat tinggi. Melalui berbagai dukungan ini, ITB telah mengembangkan sistem prediksi cuaca dan iklim yang memasukkan unsur dinamika atmosfer dan menggunakan perangkat super komputer.  

 

Berdasarkan hasil prediksi ITB Smart Climate Model, dipastikan bahwa El Nino sudah berakhir di tahun ini. Hal tersebut ditandai dengan datangnya musim hujan di akhir Oktober dan akan terus meningkat intensitasnya akhir tahun 2015. Bahkan di beberapa tempat intensitas hujan ini tetap tinggi sampai dengan bulan Juni 2016.

 

Misalnya di wilayah Pontianak dan Pekanbaru, curah hujan tetap tinggi hingga Juni 2016. Selanjutnya potensi banjir akan menghadang di tahun depan. Hasil prediksi curah hujan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 di atas. 

 

Datangnya musim hujan di banyak wilayah Indonesia ditandai dengan menguatnya angin basah dari Laut Tiongkok Selatan (Samudera Pasifik) yang mengandung banyak uap air, seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Kondisi tersebut terus menguat dan membuat sebagian besar wilayah Indonesia khususnya wilayah yang terjadi kebakaran hutan semakin dibasahi oleh hujan yang berasal dari “tangan-tangan Tuhan”.

 

Implikasi langsung dari curah hujan yang meningkat tersebut telah menurunkan jumlah titik-titik kebakaran hutan di Indonesia secara cepat. BNPB melaporkan jumlah titik api telah turun secara drastis dan tingkat jarak pandang juga semakin menjauh.

 

Tentu upaya-upaya yang ada di lapangan yang dilakukan oleh BNPB, TNI, Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan (UPT-HB), dan masyarakat lainnya juga memberikan kontribusi dalam pemadaman api dan pengurangan asap.

 

Gambar 3. Medan angin di Indonesia 26 Oktober 2015 (DOk GATRAnews/Armi Susandi)
Gambar 3. Medan angin di Indonesia 26 Oktober 2015 (DOk GATRAnews/Armi Susandi)

Dari kejadian El Nino tahun ini setidaknya ada beberapa pelajaran yang kita dapatkan, diantaranya pentingnya informasi yang valid dan jauh-jauh hari disampaikan kepada masyarakat agar lebih siap dalam menghadapi kemungkinan dampak anomali lingkungan, dalam hal ini cuaca dan iklim.

 

Tentu pemerintah sebagai dinamisator pembangunan harus siap dengan berbagai kemungkinan dampak bencana iklim di masa mendatang, adaptasi struktural yang sudah di siapkan di lapangan untuk jangka panjang, itu lah solusi yang terbaik.

 

Terakhir, kita semua perlu “kejujuran” dalam menyikapi bencana yang ada sehingga upaya penanganan bencana seperti kebakaran hutan ini dapat kita atasi lebih tepat di masa-masa mendatang.


Dr. Armi Susandi, MT,

Ketua Program Studi Meteorologi, Institut Teknologi Bandung

  

 

 

Dani Hamdani
04-11-2015 09:57