Main Menu

Barat dan Arab Mencari Panacea

Dani Hamdani
24-11-2015 19:18

Hajriyanto Y Thohari (Dok GATRA)

JAKARTA, GATRAnews - Semakin ganasnya serangan bom koalisi Barat terhadap basis-basis ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) di Suriah akhir-akhir ini, dan terjadinya teror Paris yang brutal Jumat, 13 November lalu-- yang disebut-sebut sebagai serangan balasan ISIS terhadap Barat dengan korban yang sedemikian massif di kedua locus delicti, Suriah dan Paris-- membuat dunia internasional tersentak dan bertanya-tanya: ada apa dan apa yang salah dengan kedua bangsa Arab dan Barat itu?

 

Saya rasa, tidak seperti pertanyaan Bernard Lewis dalam bukunya What Went Wrong: The Clash Between Islam and Modernity in the Middle East (2002), yang melihat ada yang salah dalam dunia Arab, melainkan lebih tepat: ada banyak yang salah di dalam dan di antara kedua bangsa dan peradaban tersebut.

 

Keduanya sepertinya sedang sakit (wounded). Tak mengherankan jika hubungan dialektis keduanya kian lebih banyak ketegangan, benturan, dan perangnya daripada harmoni. Interaksi antara keduanya tidak seperti antarperadaban lainnya, begitu gampang memercikkan api konflik dan bara permusuhan yang eksesif dan eskalatif. 


Dalam buku yang belakangan judulnya berubah menjadi What Went Wrong: Western Impact and Middle East Respons ini, Lewis menimpakan semua konflik yang terjadi antara Barat dan Arab adalah akibat dari sesuatu yang salah di internal Arab dalam memasuki modernitas.

 

Lewis mencampuradukkan antara Arab dan Islam, Barat dan modernitas, atau malah juga Barat dan Kristen. Benar, sangat sulit memisahkan Barat dan modernitas, atau Arab dan Islam, tapi Arab secara ideologis dan teologis sangatlah heterogen. Dan juga, ini yang penting, Islam dewasa ini bukan hanya Arab, bahkan Islam di luar Arab jauh lebih besar daripada Islam di Arab. 

 

Dalam perspektif ini, menyebut krisis di dunia Arab dan benturan antara Arab dan Barat identik dengan benturan antara Islam dan modernitas, apalagi menyebutnya sebagai manifestasi krisis di dalam Islam (buku Lewis yang lain berjudul The Crisis of Islam), adalah simplisitas dan sekaligus menyesatkan!

 

Pertanyaan apa yang salah dengan dunia Arab tidaklah sama dengan pertanyaan apa yang salah dengan dunia Islam.

 

Walhasil, terhadap serangkaian tindak kekerasan Barat di Arab dan kekerasan Arab di Barat adalah lebih aman bagi kita untuk membacanya sebagai persoalan Arab versus Barat, apa pun agama yang dianut keduanya!

 

Pasalnya, apa yang terjadi lebih sebagai kelanjutan pertarungan politik dan sumber daya ekonomi daripada agama.  

 

Ilustrasi Kolom Arab Barat Mencari Panacea (GATRA/Argy Pradypta)
Ilustrasi Kolom Arab Barat Mencari Panacea (GATRA/Argy Pradypta)

Dalam konteks politik sulit untuk diingkari bahwa politik Barat di dunia Arab sangatlah kasar, vulgar, dan banal. Banalisasi konflik bisa dilihat dalam serentetan kasus dan peristiwa di zaman modern ini.

 

Begitu enteng, misalnya, Amerika dan sekutu-sekutu Barat-nya mengebom Libya (pada masa Presiden Khadaffi), menginvasi Irak (menjatuhkan Presiden Sadam Husen), menduduki Afghanistan yang miskin itu, mengebom Suriah, dan lain-lainnya.

 

Keberadaan Taliban di Afghanistan, Osama bin Laden, ISIS, dan ekses kekerasan yang berkepanjangan akibat dari pendirian Israel, tidak lepas dari pergulatan politik Barat di kawasan itu. 

 

Demikian juga sebaliknya tindak terorisme di Barat seperti 9/11 Penttbom (Pentagon and Twin-Tower Bombing), serangkaian teror di jantung negara-negara Barat, termasuk mungkin serangan Paris terakhir ini, juga tidak lepas dari anasir Arab yang mengalami frustrasi politik.

 

Sebagai bangsa yang kalah secara politik, militer, dan ekonomi, tentu pukulan balik yang mereka lakukan terhadap Barat dilakukan secara tidak canggih seperti halnya serangan Barat. 

 

Pada dasarnya kedua bangsa ini dalam kurun zamannya masing-masing sama-sama intervensionis dan imperialis. Pada abad pertengahan Arab menaklukkan dan menganeksasi Barat.

 

Sementara itu, pada abad ke-20 daun sejarah berbalik: Barat menguasai dan menjajah hampir seluruh negara Arab yang kemudian dipecah-belah menjadi seperti sekarang ini. Rivalitas dan permusuhan itu terus berlangsung sampai di abad modern ini dengan genre baru. 


Sejak memasuki era modern Barat memegang supremasi dunia: menang dan mendominasi dunia, baik secara politik/militer, ekonomi, maupun peradaban.

 

Apalagi seusai Perang Dingin, Barat seolah-olah bergabung menjadi satu blok yang mencari musuh baru yang sama. 'Ala kulli hal, kedua bangsa dan peradaban itu, Barat dan Arab, sedang sakit (wounded civilization): keduanya tampaknya memerlukan obat sebagai panacea. 


Hajriyanto Y. Thohari, Wakil Ketua MPR 2009-2014, kini Ketua PP Muhammadiyah. 

KOLOM Majalah GATRA no 3 tahun XII, Beredar Kamis, 19 November 2015

Dapatkan di toko buku terdekat, lewat GATRA KIOSK atau Toko Buku digital lain.

 

Dani Hamdani
24-11-2015 19:18