Main Menu

Pesawat Kepresidenan: Antara AW 101 Versus Superpuma

Dani Hamdani
01-12-2015 15:02

Jusman Syafi'i Djamal (Dok GATRAnews/FB Jusman Djamal)

Jakarta, GATRAnews -  Tadi malam saya menyaksikan debat di acara sebuah televisi swasta tentang pilihan untuk Pesawat Kepresidenan antara Superpuma vs AW 101. Sayang arah debat tak ada yang menukik ke jantung persoalan. Meski begitu dari debat itu kita jadi memahami mengapa ada persoalan di sekitar pesawat Kepresidenan.

 

Debat yang saling merendahkan kualitas dan keahlian para engineer PT Dirgantara Indonesia dalam level Tukang Jahit Kodian, meski ada benarnya, akan menyebabkan generasi muda yang bekerja di sana kehilangan harapan.

 

Ada baiknya debat tentang pilihan helikopter tidak memutuskan harapan dan tekad Nurtanio, Wiweko, BJ Habibie dan Founding Father generasi pendiri Industri Pesawat Terbang di Indonesia menangis dalam hati. Sedih .

 

Bahwa di PT Dirgantara Indonesia masa lalu dan masa kini menyimpan persoalan Quality, Cost and Delivery Time tentu kita tidak dapat menampiknya. Semua industri memiliki batas gerak majunya. Tergantung pada lima M, Manpower, Materials, Machinery, Money and Management. Ke lima fondasi ini disebut sebagai Infrastruktur Ilmu Pengetahuan dan Teknology (Infrastruktur Iptek).

 

Melalui keahlian Manusia Bersumber Daya Iptek , teknologi betapapun sulitnya mampu dikuasai.

 

Prof BJ Habibie dan Nurtanio serta Wiweko dulu percaya bahwa jika 1% dari Penduduk Indonesia mampu menguasai IPTEK dengan baik dan benar, berarti ada kurang lebih 2,4 juta orang Indonesia memiliki keahlian berteknologi tinggi, dan dengan modal  itu pastilah Indonesia mampu menjadi Factory of the Region and Engineering Center of the World.

 

Biarlah yang 99 % manusia Indonesia lainnya menjadi petani, pedagang dan segala jenis keahlian lainnya yang tentu amat diperlukan bagi tumbuh berkembangnya Bangsa Indonesia di masa kini dan masa depan.

 

Kembali ke persoalan rencana pembelian pesawat kepresidenan. Pesawat AW101 secara Teknologi merupakan pilihan yang tepat untuk dijadikan pesawat Kepresidenan. Pilihan KSAU dan para ahli di TNI AU sepenuhnya benar.

 

Sebab pesawat ini memang dirancang bangun padat teknologi tinggi. Pesawat ini pada awalnya dirancang untuk mengganti helikopter Sea King yang digunakan oleh Angkatan Bersenjata Inggris dan Italia. Pesawat ini dirancang tahun 1987 dan baru pada tahun 1999 terbang dan dioperasikan sebagai bagian kekuatan persenjataan.

 

Pesawat ini sudah diuji coba dalam banyak pertempuran. Dapat diandalkan dalam pelbagai medan tempur. Helikopter ini merupakan pemburu kapal selam Nuklir Rusia pada masa perang dingin.

 

Helikopter jenis AW101 ini dikenal dengan julukan Super Coupter. Diperlukan waktu 12 tahun untuk melahirkannya. From embryo to proven technology.

 

Dalam merancang bangun Helikopter dikenal istilah Three Rules. Tiga aturan utama : Rancang bangun Main Rotor, Rancang Bangun Engine dan Rancang Bangun Tail Rotor. Dalam ketiga rancang bangun komponen utama ini Helikopter ini memiliki keunggulan.

 

Helikopter AW 101 ini memiliki tiga engine yang disingkronisasi melalui tiga "distributed computer", sehingga jika salah satu engine mati ketiga komputer ini tanpa jeda akan tetap mengatur agar putaran baling baling berada dalam Rotation Per Minute yang sama. Saya fikir pilihan ini tidak keliru.

 

Karenanya pilihan pada Helikopter ini tidak langsung dapat dibandingkan dengan Superpuma buatan anak Negeri. Ini pada domain masalah yang berbeda. Baik secara Biaya, Fungsi dan Feature lainnya.

 

Superpuma terutama yang versi Cougar sendiri memiliki keunggulan berbeda. Ia merupakan helikopter yang tangguh dalam mengangkut pasukan. Dirancang Bangun untuk alat angkut taktis pasukan dan persenjataan dalam pertempuran darat dan mampu dijadikan "Platform" missile exocet. Keunggulan Superpuma sebagai alat angkut dan keandalannya sudah diakui, termasuk untuk mengangkut VVIP.

 

Membandingkan AW101 dengan Superpuma sebagai kenderaan operasional Presiden sama dengan membandingkan BMW, Mercedez Benz, Volvo, dan Roll Royce. Ada kelasnya, ada feature yang berbeda. Meski masing masing memenuhi kriteria minimum standard sebagai mobil VVIP.

 

Memilih pesawat terbang atau helikopter untuk missi Militer dan alat angkut VVIP memiliki kriteria berbeda. Tiap Negara memiliki standard operating procedure. Tiap Negara memilki Doktrin yang berbeda.

 

Dan itu menurut hemat saya adalah Domain Kebijakan Panglima TNI, Kepala Staff dan Kementerian Pertahanan. Tentu yang tidak kalah utama adalah Kebijakan Presiden sebagai Panglima Tertinggi. Doktrin melahirkan alat peralatan utama suatu kekuatan bersenjata di tiap negara, dan itu ranah kebijakan yang biasanya didiskusikan ditempat terbatas tidak diruang publik.

 

Sementara pemilihan atau tekad untuk memajukan Industri Nasional berada pada ranah kebijakan berbeda. Diperlukan Sinergi semua unsur.

 

Di Amerika dan Jepang Serta Jerman, Inggris dan Perancis dulu dikenal istilah Dual Role Technology. Menguasai teknologi untuk kepentingan komersial yang dapat ditransformasikan untuk membangun keunggulan militer atau sebaliknya.

 

Itu yang menyebabkan hingga kini Kementerian Pertahanan Amerika atau DOD memberikan kontrak kepada Boeing dan Lockheed Martin untuk mengembangkan pesawat tempur, pesawat angkut jenis Galaxi C17 serta pesawat tanker pengisi bahan bakar pesawat tempur di udara dan pesawat surveilance.

 

Tak ada di dunia Industri pesawat terbang yang dapat unggul tanpa pengaruh dari biaya Riset dan pengembangan serta kerjasama dengan Kementerian Pertahanan. Sebab menguasai teknologi tinggi terutama pesawat terbang tidak mudah. Karenanya jika ingin memeilih Superpuma sebagai wahana untuk penguasaan teknologi oleh generasi muda bangsa Indonesia diperlukan langkah sistimatis, bertahap dan bertingkat. Masing masing memiliki gerak majunya.

 

Prof B J Habibie dulu ditahun 1978 hingga 1998 memiliki filsafat penguasaan teknologi yang dikenal dengan istilah "Bermula di akhir dan berakhir diawal mula". Pertama menguasai QCD dengan menguasai teknologi perakitan akhir. Atau menjadi Tukang jahit kodian kalau istilah awam.

 

Kedua menguasai Keahlian membuat Komponen Skunder dan Utama seperti flap, aileron, elevator, flap track kemudian sayap utuh, ekor utuh, nose dan badan pesawat yang dikenal dengan istilah OEM, Original Equipment Manufaktur, dan ke tiga masuk ke arena rancang bangun untuk menjadi ODM Original Design Manufacture baru yang keempat OBM, Original Brand Manufactur.

 

Dan dalam hal ini untuk pesawat jenis helikopter saya fikir sejak krisis ekonomi tahun 1998, PT Dirgantara kembali mengulang siklus ini dari awal Kini ia berada dalam stage Perakit Komponen dan Perakit Akhir pesawat terbang utuh. Dengan kondisi finansial yang cukup.

 

Meski mencoba menjadi ODM dengan N219 pastilah PT Dirgantara Indonesia memerlukan dukungan semua pihak, termasuk kritik dan segala jenis pendapat yang terasa mengkerdilkan.

 

Semua kritik itu dari pengalaman pribadi saya yang bekerja di pt nurtanio/pt iptn/ pt dirgantara indonesia sejak tahun 1982 hingga 2002 pada dasarnya lahir dari rasa cinta.

 

Kritik adalah bentuk lain dari Oasis, Mata Air yang menyejukkan yang menyebabkan Kita sebagai bangsa dapat maju dan kuat.

 

Kritik yg pedas dan keras mirip Doa McArthur untuk anaknya agar diberi jalan yang mendaki sukar penuh onak duri untuk jadi unggul, The road to Excellence.


 Jusman Syafii Djamal, Mantan Menteri Perhubungan RI 

 

 

Dani Hamdani
01-12-2015 15:02