Main Menu

Ahok: Seandainya Diizinkan, Kita Maju Sama Pak Djarot 

Dani Hamdani
28-02-2016 21:36

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama(GATRAnews/Adi Wijaya)

Jakarta, GATRAnews - Pilkada DKI masih akan berlangsung setahun lagi, namun bursa kursi DKI 1 mulai memanas. Sejumlah calon bermunculan. Sebut saja Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, bahkan musisi Ahmad Dhani. Sebagai gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama rupanya masih diunggulkan di berbagai lembaga survei.

 

Gebrakannya masih menjadi perhatian publik. Terakhir, aksinya menutup Kawasan Kalijodo, Jakarta Utara, yang dikenal sebagai ladang bisnis esek-esek, untuk diubah menjadi kawasan ruang terbuka hijau (RTH). Ahok sempat meradang kala disebut aksinya menutup Kalijodo sebagai upaya branding menuju Pilkada DKI 2017.

 

Namun, pria berusia 49 tahun itu tak goyah. ''Kalau panggung politik nggak begitu caranya. Saya ngomong konsisten,'' ungkapnya geram. 

 

Kini, meski belum secara resmi mencalonkan kembali, Ahok sudah mendapat dukungan dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Dukungan pengumpulan KTP dari relawan Teman Ahok terus bergulir dan kini sudah mencapai angka 728.000 dari target 1 juta KTP.

 

Sementara itu, PDIP sebagai partai terbesar belum memutuskan dukungan, meskipun Ahok menyatakan secara terbuka siap berduet kembali dengan Djarot Syaiful Hidayat. Untuk mengetahui sejauh mana kesiapannya, berikut petikan wawancara wartawan GATRA Andhika Dinata dengan Basuki Tjahaja Purnama di kantornya, Balai Kota DKI Jakarta, Senin lalu: 


Ada persiapan khusus menjelang gelaran Pilkada DKI? 

Kita petahana nggak ada kata persiapan sih sebetulnya. Kita ya kerja aja seperti biasa. Kerja sebanyak mungkin apa yang kita rencanakan semua. Itu saja. 

 

Sudah menentukan pasangan (calon)? 

Saya sudah katakan, kalau seandainya diizinkan ya kita maju sama Pak Djarot (Djarot S. Hidayat). 

 

Selentingan kabar PDIP melirik Anda? 

PDIP sudah oke, tapi pasalnya PDIP merasa mereka mau mengusung karena dia mampu, tidak mau mendukung Teman Ahok (relawan pendukung Ahok). 

 

Alasannya? 

Teman Ahok dalam hatinya khawatir saya tidak bisa nyalon, sekarang mereka juga tidak percaya partai pasti mau mencalonkan saya. 

 

Jadi calon independen bukankah syaratnya lebih berat? 


Yang namanya independen kan masih satu bulan di muka menyerahkan (berkas pendaftaran). Kalau mereka (Teman Ahok) menyerahkan dulu, berarti bukan partai lagi yang ngusung. Kalau seperti itu kita nggak tahu PDIP putusannya apa. Itu aja masalahnya. Tapi kalau mereka tidak mau mendaftar satu bulan mereka juga khawatir kalau nanti ditekan partai gimana, nggak mungkin lagi untuk mendaftar. 

 

Lalu, bagaimana solusinya? 

Itu sekarang kita lagi selesaikan. PDIP dan Teman Ahok saya kira akan komunikasikan itu. 

 

Salah satu calon penantang Anda, yaitu Yusril, kerap mengkritik Anda di berbagai kesempatan. Komentar Anda? 

Ya, itu pikiran beliau. Makanya beliau pengin ngotot maju DKI karena dari dulu beliau ngebut pengin jadi presiden kan. Cuman sayang ada kesempatan dia ngalah untuk Gus Dur waktu itu, itu aja. Jadi kalau Pak Yusril sekarang nyalon walaupun kalah, berikutnya (nyalon) jadi presiden tuh dia, dia mau lewat langkah. 

 

Penertiban Kalijodo sudah sejauh apa? 
SP-1 (surat peringatan 1) kan tujuh hari. Tapi teman-teman di Kalijodo sudah bagus kok (kooperatif). Yang dari gereja sudah kirim surat ke saya. Mereka menyatakan ikut pemerintah. Akan bongkar sendiri, padahal itu gereja sudah 48 tahun. 

 

Ada perlawanan pasca-penertiban? 

Lawan nggak lawan, saya nggak tahu itu urusan polisi. Yang jelas, ada 460 anak panah itu buat apa? Itu kan perang-perangan orang tertentu yang punya kafe. Kalau warga sadar kok mereka salah, karena daerah itu sudah pernah ditertibkan tahun 2002, lalu pada 2010. 

 

Artinya, penertiban ini sudah berdasar kajian? 

Kamu perhatikan saja di Jakarta kali-kalinya, mungkin nggak kali itu di sheet pile (dinding turap) ketika ada bangunan di atasnya? Nggak mungkin kan? Kalau kamu temukan ada bangunan di atas sheet pile, artinya bangunan datang setelah sheet pile. Teknologi sheet pile itu adanya tahun 2000-an ke atas, jadi semua menguasai lahan negara itu biasanya pasca-reformasi di Jakarta.

 

Pasca-reformasi terjadi euforia. Semua tanah kosong didudukin, dipakai, terus ada surat-surat dari pemerintah bantu ekonomi lagi susah. Boleh digarap untuk nanam sayur-mayur segala macam. Setelah itu didudukin dibuat rumah. Di dalam Permendagri pun ada diatur, untuk penguasaan lahan negara, kepala daerah berhak mengambil untuk lahan terbuka hijau.


WAWANCARA, Majalah GATRA, No 17 Tahun XXII, Beredar Kamis, 25 Februari 2016

Dapatkan di toko buku terdekat, lewat GATRA KIOSK atau Toko Buku digital lain.

Dani Hamdani
28-02-2016 21:36