Main Menu

Smith Alhadar: Senjakala ISIS 

Dani Hamdani
17-06-2016 15:42

Smith AlHadar (Dok Majalah GATRA)

Jakarta, GATRAnews -  Mei silam, Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) melancarkan serangan brutal terhadap warga sipil kota-kota di Irak dan Suriah, khususnya kaum Syiah Itsna Asyariyah di Baghdad (Irak) dan komunitas Syiah Alawiyah di Tartus dan Jableh (Suriah). Akibatnya, ratusan orang tewas. ISIS memang mengafirkan kedua komunitas ini. Lebih dari itu, mereka merupakan pendukung pemerintah Irak dan Suriah yang merupakan musuh ISIS.

 

Tapi serangan-serangan ini bukan lagi menunjukkan kehebatan ISIS melancarkan serangan kilat dalam meluaskan wilayah pendudukan sebagaimana yang dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya, melainkan bentuk balas dendam dan ekspresi keputusasaan atas kekalahan di berbagai front menyusul serangan gencar gabungan pasukan Irak -terdiri dari satuan khusus antiteroris, pasukan reguler, milisi suku lokal, dan milisi Syiah Hashed al-Shaabi-- dan pasukan rezim Suriah, serta milisi Kurdi yang dibantu serangan udara pasukan koalisi pimpinan AS (di Irak dan Suriah) dan pasukan Rusia (di Suriah). 

 

Saat ini puluhan ribu anggota gabungan pasukan Irak, dibantu serangan udara koalisi, sedang mengepung Fallujah yang dipertahankan oleh 1.000 anggota ISIS. Bisa dipastikan perang ini akan dimenangi gabungan pasukan Irak karena ketidakseimbangan kekuatan antara kedua kubu yang berperang.

 

Kemenangan di Fallujah akan membuka jalan bagi penaklukan kota Mosul di sebelah utara Fallujah yang merupakan kota utama ISIS di Irak. Kini Peshmerga (milisi Kurdi Irak) yang sedang menyerang Mosul sudah berada di pinggiran kota itu setelah berhasil memukul mundur pasukan ISIS di enam desa di sekitar Mosul.

 

Serangan gabungan pasukan Irak ke Mosul dari arah selatan setelah Fallujah ditaklukkan dan Peshmerga dari arah utara Mosul akan mempercepat kejatuhan Mosul. 


Di Suriah, pasukan koalisi pimpinan AS pada 3 Juni men-drop senjata dan amunisi kepada kubu oposisi untuk menahan gempuran mendadak ISIS ke kota Azaz dan Morea di sebelah utara Provinsi Aleppo. Berkat bantuan senjata ini, kubu oposisi bahkan berhasil mendepak ISIS dari kota kecil Kafr Soush dan Braghida di dekat perbatasan Suriah-Turki.

 

ISIS juga harus menghadapi gempuran pasukan pemerintah Suriah yang mengerahkan kekuatan penuh, dibantu serangan udara Rusia, ke Aleppo guna menaklukkan ISIS di provinsi itu. Sementara Tentara Demokratik Suriah (SDF) - terdiri dari etnis Arab, Kurdi, Assirya, Kristen, Armenia, dan milisi asing -- bersama milisi Kurdi dari Unit Perlindungan Rakyat (YPG), dibantu serangan udara koalisi, terus merangsek ke kota Raqqa, ibu kota de facto ISIS.

 

Saat ini, sebagian pasukan SDF dan YPG sedang menggempur ISIS di kota Manbij, sekitar 40 kilometer dari perbatasan Suriah-Turki, yang selama ini dimanfaatkan ISIS sebagai jalur logistik dan jalur perlintasan anggota ISIS dari mancanegara yang masuk ke Suriah melalui Turki. 

 
Mereka memilih menyerang Manbij untuk memutus jalur logistik antara kota Raqqa dan perbatasan Suriah-Turki. Jatuhnya Manbij ke tangan SDF dan YPG akan memudahkan mengusir ISIS dari Raqqa. Tak mengherankan jika ISIS mempertahankan mati-matian kota ini.

 

Pasukan SDF dan YPG yang lain menyerang wilayah Provinsi Raqqa, khususnya Danau Assad dan Kota Tabqa, lokasi Pangkalan Udara Tabqa, sekitar 50 kilometer sebelah barat Raqqa. Tabqa merupakan bagian jalur utama logistik penghubung Raqqa dan Aleppo. 


Adapun pasukan rezim Suriah, dibantu serangan udara Rusia, untuk pertama kalinya sejak Agustus 2014 berhasil memasuki Raqqa dari sebelah barat daya. Keberhasilan ini berkat gempuran besar-besaran pasukan udara Rusia atas area yang dikuasai ISIS di bagian timur Provinsi Hama.

 

Provinsi ini berbatasan langsung dengan sisi barat daya Provinsi Raqqa. Pasukan rezim Suriah juga mengincar Danau Assad dan Tabqa. Posisi mereka kini tinggal 25 kilometer dari Tabqa dan 40 kilometer dari posisi SDF dan YPG yang didukung AS. Kondisi ini seolah merupakan adu cepat menuju Raqqa antara militer Suriah dan SDF dan YPG, dengan dukungan Rusia di satu sisi dan AS di sisi yang lain.  


Tetapi, sebenarnya, ada koordinasi antara keduanya yang dilakukan secara rahasia guna menghindari salah paham di kalangan kelompok oposisi dan sekutu AS, seperti Turki dan Arab Saudi, bahwa AS telah mengubah kebijakannya terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.

 

Toh, dalam konteks proxy war di Suriah, Rusia dan rezim Bashar al-Assad merupakan musuh kelompok oposisi, Turki, dan Arab Saudi. Dalam hal ini AS, yang selama ini menolak bekerja sama dengan Rusia di Suriah, terpaksa mengambil sikap pragmatis: ''bersekutu'' dengan Rusia demi menaklukkan kota Raqqa secepatnya.

 

Jika SDF dan YPG yang dilatih dan dipersenjatai AS, serta pasukan rezim Assad berhasil menduduki kota Raqqa, keberhasilan itu akan menjadi akhir dari ISIS. 


Melemahnya ISIS mulai terlihat sejak kejatuhan Ramadi, Ibu Kota Provinsi Anbar, Irak, pada Desember 2015, disusul kejatuhan Palmyra di Suriah pada Maret 2016. Sejak itu wilayah ISIS berkurang sebanyak 22%, sementara populasi di teritorial ISIS menurun dari 9 juta menjadi 6 juta jiwa.

 

Terbunuhnya beberapa pemimpin teras ISIS ikut memberi pengaruh negatif kepada kelompok teror itu. Sebut saja Maher al-Bilawi, komandan utama ISIS di Fallujah, yang tewas oleh serangan udara AS pada 27 Mei, dan Abd al-Rahman Mustafa al-Qaduli, pemimpin tertinggi kedua ISIS setelah Abubakar al-Baghdadi, yang tewas oleh serangan udara AS pada Maret silam.

 

Al-Qaduli atau dikenal dengan nama Abu Alaa al-Afri bertanggung jawab di urusan keuangan, politik, dan administrasi ISIS. Selain mengepalai dewan syura yang menjadi penasihat Al-Baghdadi, ia juga gubernur di beberapa provinsi di Suriah. Kematian al-Bilawi menggoyahkan ISIS sehingga memudahkan pasukan gabungan Irak memasuki Fallujah, sementara tewasnya al-Qaduli menyulitkan ISIS untuk memulihkan diri. 

 

Pelemahan ISIS terjadi berkat tindakan pemerintah Turki meminimalkan akses ISIS ke dunia luar melalui wilayah Turki menyusul serangan ISIS terhadap kota Suruc di Turki pada Juli tahun lalu, yang menewaskan 32 warga Turki.

 

Akibat penutupan wilayah perbatasan Turki-Suriah, menyulitkan jihadis asing yang hendak masuk ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS sehingga khilafah teror ini kehilangan sumber daya manusia yang cukup signifikan, padahal dalam perang pembebasan Palmyra saja ISIS kehilangan 417 pasukan.

 

Kekurangan personel pasukan ISIS bisa dilihat pada yang terjadi di Fallujah. Menurut Jan Egeland, Sekretaris Jenderal Dewan Pengungsi Norwegia, ISIS menggiring 100 pemuda di Fallujah untuk dipaksa bertempur mempertahankan kota itu. 


Selain jatuhnya harga minyak dunia, ditutupnya wilayah Turki yang merupakan akses penjualan minyak ISIS ke pasar gelap di Turki, membuat pendapatan ISIS dari sektor minyak anjlok hingga 30%.

 

Perusahaan analisis di AS, HIS, mengungkapkan pada Maret silam, pendapatan ISIS merosot menjadi 56 juta dolar AS (Rp 737 milyar) per bulan dari sebelumnya 80 juta dolar AS (Rp 1,05 trilyun) per bulan sejak pertengahan tahun lalu.

 

Produksi minyak ISIS juga anjlok, dari 33.000 barel menjadi 21.000 barel per hari dalam rentang waktu yang sama. Banyak fasilitas produksi minyak mereka hancur akibat serangan koalisi. Sebanyak 50% pendapatan ISIS berasal dari penarikan pajak dan penyitaan, 43% dari minyak, dan sisanya dari penyelundupan obat-obat terlarang, penjualan listrik, dan donasi.

 

Saat ini ISIS masih menjadi kekuatan di Irak dan Suriah. Namun, kekalahan mereka di berbagai front, berkurangnya sumber daya manusia, dan penurunan pemasukan yang signifikan, meningkatkan tantangan bagi ISIS dalam mengelola teritorial untuk jangka panjang. 


Hancurnya ISIS akan ikut melemahkan kelompok-kelompok bersenjata pro-ISIS di Afghanistan, Yaman, Mesir, Libya, dan Nigeria. Diduga kuat mereka mendapat bantuan keuangan dari ISIS. Tak kalah penting, keberlangsungan hidup ISIS juga memberi dukungan moril.

 

Oleh kaum radikal, ISIS dipercaya sebagai manifestasi kehendak Tuhan atas berdirinya negara Islam yang ideal, sehingga kekalahannya akan berakibat terjadinya demoralisasi pada simpatisan dan pengikut ISIS di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Karena itu, kekalahan ISIS harus dijadikan momentum kerja sama antarnegara di dunia untuk membasmi kelompok teroris ini.  


Di Indonesia, dalam survei yang diadakan pada Desember 2015, 96% rakyat menolak paham ISIS. Namun, 4% tidak menjawab. Satu persen dalam survei itu setara dengan 2 juta orang. Padahal, dengan 200.000 pengikut dan simpatisan saja, saat ini ISIS sudah merepotkan.

 

Karena itu, kekalahan ISIS harus diikuti dengan upaya-upaya deradikalisasi secara komprehensif, UU terorisme yang dapat diandalkan, penegakan hukum, dan mengatasi kesenjangan sosial ekonomi yang terus melebar. Hanya dengan itu diharapkan penyebaran paham dan pengaruh ISIS dapat diminimalkan di negeri ini. 


Smith Alhadar 

Penasihat ISMES; Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDe) 

KOLOM Majalah GATRA edisi no 33 beredar Kamis, 16 Juni 2016.

Dapatkan di toko toko digital atau GATRA Kiosk








Dani Hamdani
17-06-2016 15:42