Main Menu

Djayadi Hanan: Menduga Peluang Cagub DKI

Asrori S Karni
07-10-2016 16:17

Djayadi Hanan (Dok Pribadi)

Oleh: Djayadi Hanan

Direktur Eksekutif SMRC. Dosen Ilmu Politik Universitas Paramadina.


Jakarta, GATRAnews - Tidak begitu mudah memprediksi peluang para kandidat Gubernur DKI saat ini. Masa pendaftaran calon baru saja selesai. Data yang tersedia masih sedikit, terutama untuk penantang petahana. Bahkan data elektabilitas untuk Agus Harimurti Yudhoyono (Agus) dapat dikatakan belum ada, setidaknya yang telah beredar di publik.

 

Namun tidak berarti kita tidak dapat menduga sama sekali. Tentu dengan catatan bahwa pertandingan baru saja dimulai, jauh dari selesai. Pemungutan suara dijadwalkan lebih dari empat bulan dari sekarang. Masih ada kemungkinan perubahan yang besar. Mungkin juga terjadi kejutan, sebagaimana banyak yang terkejut ketika kubu Cikeas mengumumkan Agus sebagai calon gubernur.

Untuk sementara dapat dikatakan bahwa petahana (Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok) memiliki peluang paling tinggi, disusul Anies Baswedan (Anies), dan Agus. Namun, peluang penantang petahana masih cukup terbuka. Termasuk kemungkinan adanya putaran kedua.
Sejumlah faktor akan memengaruhi arah pilihan warga Jakarta. Kombinasi berbagai faktor ini, dan kemampuan kandidat meramunya dalam bersosialisasi dan berkampanye akan menentukan perubahan peluang dan kemungkinan menang atau kalah pada hari pemungutan suara nanti.


Petahana

Evaluasi terhadap petahana adalah salah satu faktor yang penting. Pemilu yang diikuti petahana seringkali menjadi referendum terhadap kinerja yang sedang berkuasa. Kalau dianggap berprestasi dan tidak ada calon alternatif yang dominan, petahana bisa melenggang.

Sejumlah survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) selama setahun terakhir menunjukkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kinerja petahana tergolong tinggi. Tingkat kepuasan tersebut ada di kisaran 70%. Ini berarti petahana dianggap memiliki prestasi. Maka peluang menangnya tinggi.

Namun tingkat kepuasan yang tinggi ini tidak serta merta diterjemahkan menjadi jumlah warga yang ingin petahana kembali. Data menunjukkan bahwa persentase warga yang menginginkan petahana kembali memimpin ada di kisaran 50–58%. Angka ini cukup baik sebetulnya. Tapi belum aman. Artinya, peluang penantang masih terbuka.

Mengapa petahana belum aman? Pertama, pilkada DKI mensyaratkan dukungan lebih dari 50% pemilih untuk menjadi pemenang. Kedua, angka 50 – 58% tersebut adalah modal psikologis elektabilitas petahana. Artinya, dia sangat mungkin mencapai angka hingga 58% pada hari pemungutan suara nanti.

Data SMRC juga menunjukkan bahwa pendukung kuat Ahok (dari jawaban atas pertanyaan top of mind) hingga saat ini adalah 30–35%. Ini adalah pendukung yang sulit diubah. Dia masih harus berjuang untuk mengamankan dukungannya hingga mencapai angka psikologis yang tersedia. Artinya, ada peluang tapi belum aman.

Kualifikasi Personal dan Relevansi

Faktor yang lebih umum adalah kecocokan kualifikasi personal kandidat dengan yang diinginkan pemilih. Hal ini juga terkait dengan masalah-masalah apa yang menurut warga harus segera dibenahi. Kandidat yang memenuhi kualifikasi dan relevan dengan masalah-masalah tersebut punya peluang merebut hati pemilih.

Ada empat kualifikasi personal yang diinginkan warga Jakarta menurut data SMRC. Keempatnya adalah jujur dan bersih dari korupsi, perhatian kepada rakyat, tegas serta berwibawa, dan pintar serta cakap dalam memimpin. Dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing, ketiga pasangan kandidat cagub DKI memiliki semua kualifikasi ini.

Keunggulan utama Ahok adalah pada ketegasan dan kecakapan memimpin. Namun dia sering dipermasalahkan soal sikapnya yang kasar dan terkesan tidak perhatian terhadap rakyat. Anies dianggap santun dan pintar, tapi soal kemampuan memimpin Jakarta masih belum tentu, walaupun pernah menjadi menteri.

Agus belum banyak yang mengetahui karena baru saja masuk ke ranah politik.  Namun karier dia di militer menunjukkan dia memiliki potensi. Sebagai orang baru, titik terlemah Agus adalah pada kecakapan memimpin.

Untuk menilai siapa yang mungkin unggul dari kriteria kualifikasi personal ini, harus diketahui apa yang menjadi alasan warga memilih calon tertentu. Yang dilihat warga Jakarta menurut data SMRC secara berurutan adalah bukti nyata hasil kerja (35%), ketegasan/kewibawaan (20%), perhatian pada rakyat (7%), jujur/bersih (7%), dan pengalaman di pemerintahan (6%).

Titik lemah Ahok adalah pada perhatian kepada rakyat dan bagi sebagian kelompok soal jujur/bersih. Titik lemah Anies adalah pada bukti nyata hasil kerja. Titik lemah Agus pada bukti nyata hasil kerja dan pengalaman di pemerintahan. Agus paling banyak titik lemahnya. Ahok paling kuat di bukti nyata hasil kerja karena dia petahana. Maka dugaan kita dari sisi ini Ahok paling unggul, disusul Anies, lalu Agus.


Sosiologi, Demografi, dan Disiplin Pemilih Partai

Faktor-faktor sosiologis seperti etnis dan agama mungkin juga berpengaruh. Konfigurasi kandidat yang ada potensial memunculkan kekontrasan antarkandidat, terutama petahana yang secara sosiologis minoritas melawan penantang yang berasal dari kategori mayoritas.

Pengaruh etnis dan agama selalu potensial ada dalam pilkada manapun di Indonesia. Tinggal apakah pengaruhnya akan kuat atau lemah tergantung kepada situasi. Karena Pilkada DKI mensyaratkan pemenang memperoleh minimal 50% suara, sedangkan petahana, meski masih unggul, tidak sangat dominan, maka tingkat kompetisinya akan ketat. Apalagi kalau nanti ada putaran kedua. Ini memungkinkan faktor etnis dan agama bisa cukup berpengaruh.

Data SMRC menunjukkan bahwa ada indikasi faktor etnis, terutama agama, akan berpengaruh. Di antara 85% pemilih muslim, sebanyak 40–45% menyatakan tidak setuju bila dipimpin oleh non-muslim. Di kalangan warga 20% yang menyatakan tidak setuju dipimpin oleh etnis minoritas.

Titik lemah petahana ada di faktor sosiologis ini. Dapat diduga bahwa tidak mudah baginya untuk memperluas basis pendukung kuatnya (saat ini 30-35%) untuk memperoleh syarat lebih dari 50% suara. Artinya, peluang penantang Ahok, baik Anies maupun Agus, masih terbuka.

Faktor dukungan partai politik dalam pilkada, secara umum tidak terlalu banyak berpengaruh. Pilkada adalah pertarungan figur/pasangan calon. Namun berdasarkan pengalaman, baik pilkada maupun pemilihan Presiden, sejumlah partai politik memiliki pemilih yang cenderung disiplin mengikuti pilihan atau dukungan partai.

Yang pemilihnya cenderung disiplin mengikuti pilihan partai biasanya adalah pemilih PKS, PDIP, dan Gerindra. Tingkat dukungan terhadap partai-partai hingga Agustus 2016 diperkirakan masih tidak berbeda jauh dari hasil Pemilu 2014 lalu. PDIP, Gerindra, dan PKS kurang lebih masih tiga partai terbesar seperti tercermin di DPRD DKI.

Dengan menggunakan kriteria ini, diperkirakan pemilih PDIP akan cenderung solid memilih Ahok. Pemilih Gerindra dan PKS akan cenderung solid mendukung Anies. Tingkat dukungan kepada Agus, untuk sementara yang paling tidak pasti. Dikombinasikan dengan faktor-faktor yang sudah disebutkan tadi, maka lagi-lagi peluang sementara ada pada Ahok dan Anies, sedangkan Agus paling lemah.

Secara keseluruhan, dugaan atas urutan peluang tersebut bisa menjadi mentah lagi kalau kita memperhatikan kapan para pemilih memastikan pilihannya. Kapan keputusan mereka final. Juga seberapa banyak pemilih yang pilihannya masih besar kemungkinan berubah.

Data di SMRC menunjukkan bahwa 50 – 55% pemilih baru akan final keputusannya menjelang hari pemungutan suara. Hal ini logis karena pemilih Jakarta adalah pemilih kota dengan tingkat pendidikan yang tinggi (lebih dari 70% berpendidikan SLTA atau lebih tinggi) dan memiliki akses informasi yang lengkap.

Pemilih seperti ini biasanya tidak mudah memberi keputusan final. Selain itu, ada 40–45% pemilih yang masih besar kemungkinan berubah pilihan. Jadi, masih banyak pemilih yang bisa dijangkau dan diyakinkan oleh para kandidat untuk memenangkan pertarungan.

Lalu bagaimana dengan para calon wakil gubernur? Bisa saja mereka juga berpengaruh terhadap dinamika peluang para kandidat. Data tentang ini masih sangat sedikit, walaupun biasanya kandidat wakil tidak terlalu berpengaruh.

Maka, secara keseluruhan, meski setiap pasangan kandidat sudah punya peluangnya, lapangan pertandingan masih terbuka. Pilkada DKI is still anybody’s game.


Editor: ASK

Artikel ini dimuat di Majalah Gatra Edisi 48 Tahun XXII

Beredar Tanggal 29 September - 5 Oktober 2016

Dapatkan Majalah Gatra Disini



Asrori S Karni
07-10-2016 16:17