Main Menu

Seno GA: Wayang Bisa Dikembangkan Secara Telanjang

Andhika Dinata
17-02-2017 18:18

Seno Gumira Ajidarma (GATRA/Rifki)Jakarta, GATRAnews - Penulis Seno Gumira Ajidarma (SGA) kembali memperkenalkan karya terbarunya “Drupadi” yang diluncurkan 8 Februari lalu di Jakarta. Seingat Seno ia telah menulis lebih dari 30-an buku fiksi sepanjang karier kepenulisannya, di luar kumpulan sajak yang juga pernah ditulis.

 

Dikenal sebagai cerpenis produktif dari generasi baru kesusastraan Indonesia, SGA telah melahirkan banyak karya semisal kumpulan cerpennya Manusia Kamar (1987), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994), Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Negeri Kabut (1996), Sepotong Senja untuk Pacarku (2002), dan banyak lagi.

 

Dalam jagat wayang, ia menulis novel Wisanggeni Sang Buronan (2000), Kitab Omong Kosong (2004) dan Drupadi (2017). Beberapa karyanya tentang Wayang populer ditulis semenjak ia bekerja sebagai jurnalis di Majalah Zaman (1983-1984).

 

Tak hanya moncer dalam kariernya sebagai sastrawan, SGA tercatat menorehkan karir gemilangnya sebagai jurnalis. Pernah menjadi pemimpin Redaksi Sinema Indonesia (1980), redaktur Zaman (1983-1984), dan redaktur Jakarta Jakarta (1985).

 

Berkat cerpennya Saksi Mata (1994), Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary (1997), setelah sebelumnya memborong penghargaan Hadiah Sastra ASEAN Sea Write Award (1987). Belakangan karyanya Kitab Omong Kosong (2004) juga meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award pada 2005.

 

Berikut petikan wawancara SGA yang juga rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan wartawan GATRA Andhika Dinata beberapa waktu lalu di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan:

 

Sejauh apa Danarto memacu inspirasi Anda menulis Drupadi ini?

Jadi gambar wayang Danarto itu memberi saya gagasan bahwa wayang bisa dikembangkan secara telanjang. Awalnya dari cerita-cerita wayang yang akan diilustrasi oleh Danarto waktu. Itu ketika saya bekerja di Zaman yang redakturnya adalah Danarto. Kalau Danarto sekreatif itu, saya juga boleh dong.

 

Dari ceceran karya yang pernah ditulis di Zaman dan media lainnya, Anda sempat melakukan pengubahan setelahnya?

Ya dikit-dikit. Hal-hal baru itu ya tanpa sengaja, pasti ada. Kan karya masa kini.

 

Hal barunya seperti apa ?

Cara menceritakan yang berbeda.

 

Menulis karya klasik tidak mudah, bagaimana proses kreatifnya ?

Itu ada juga di belakang (Buku), daftar bacaannya ada, kayak bikin skripsi gitu. Baca dulu, apa. Cerita kunonya kayak apa, saya ambil, masukkan. Jadi banyak tulisan orang lain dulu masuk untuk memperkenalkan bahwa orang dulu juga nulis wayang nih.

Seno Gumira Ajidarma (GATRA/Rifki)
Seno Gumira Ajidarma (GATRA/Rifki)

 

Memang hobi nonton wayang sebelumnya ?

Bukan hobi, itu bagian dari kebudayaan saya. Selain membaca karya R.A Kosasih ada (pertunjukan) Ngesti Pandowo, wayang orang itu. Sebagai orang yang tumbuh di Yogya pada waktu itu, ya semua orang tahu wayang.

 

Apa hal baru yang Anda tawarkan dalam cerita ini ?

Anaknya (Drupadi) lima harusnya, tapi di Jawa jadi satu. Namanya Pancawala. Dia cuma disebut nama doang, nggak ada ceritanya.

 

Gaya bercerita Anda melabrak pakem dalam mengisahkan penodaan Drupadi yang tak lazim ?

Ada adegan perkosaan, seharusnya (Drupadi) gagal diperkosa karena dilindungi Dewa kan, saya bikin bisa. Karena menurut saya itu tidak mengubah kesuciannya. Kalau orang lain ada istilah ternoda kan, enggak boleh itu. Stigma itu nggak boleh. Bukan (melabrak) yang sebelumnya. Tapi stigma masa kinilah, supaya orang yang diperkosa itu jangan dianggap ternoda lah. Itu dua kali celaka namanya.

 

Sempat ada yang protes dengan bagian tersebut ?

Wong itu kayak menulis laporan jurnalistik kok, dikejar-kejar deadline.

 

Seperti Kitab Omong Kosong yang menawarkan kebenaran mutlak, pesan apa yang ingin Anda sampaikan dalam karya ini ?

Lha itu jangan sayalah yang ngomong. 


Reporter : Andhika Dinata
Editor : Bambang Sulistyo

 

 

 

Andhika Dinata
17-02-2017 18:18