Main Menu

Kevin Cerdik, Gideon Menggelegar

Hendri Firzani
20-03-2018 16:41

Hamid Awaludin. (Dok. Pribadi/FT02)

“History does not happen, but it is made. ”Pembuat sejarah malam itu, tanggal 18 Maret 2018, sekitar pukul 6 40 malam, di Arena Birmingham, Inggris, adalah Kevin Sanjaya Sukomulyo dan Marcus Gideon.

Di tengah guyuran salju dengan suhu udara yang membekukan badan, kedua putra bangsa kita ini, mengukir lagi sejarah: tampil untuk kedua kalinya secara berurut, menjadi juara bulu tangkis, ganda putra All England. Mereka menghempas harapan pasangan Denmark, Mathias Boedan Carten Mogensen  dua set langsung.

 

Keduanya mengukir sejarah baru karena Kevin/Gideon mencapai seratus ribu poin untuk tetap bertengger di status nomor satu dunia. Pemain lain selama ini, mempertahankan status mereka sebagai pemain nomor satu dunia, belum pernah ada yang mencapai angka seratus ribu. Sejak tahun 2017 hingga sekarang, Kevin/Gideon menjuarai 10 turnamen level dunia secara berurutan. Luarbiasa.

 

Saya sangat beruntung, bisa menyaksikan langsung kedua anak bangsa ini mengukir sejarah. Ketika nama mereka dipanggil memasuki gelanggang, gemuruh Arena Brimingham tak tertahankan. Teriakan histeris para penonton memanggil nama mereka, membuat bulu roma berdiri tegak. Mereka adalah medan magnet yang menarik perhatian orang banyak. Mereka dinanti. Mereka dirindukan. Dua anak bangsa ini ternyata adalah sosok pujaan publik Inggris. Tak ada mata yang berkedip, tak ada yang berbisik kian kemari tatkala Kevin/Gideon sedang mengayunkan raket.

 

Publik dan pencinta olahraga bulutangkis, datang menyaksikan Kevin/Gideon, bukan sekadar ingin melihat mereka menjadi juara. Publik dan penggemar mereka, datang untuk menyaksikan kesenian dan atraksi bulutangkis. Maklum, pasangan kita ini dinilai sebagai pemain akrobat bulutangkis. Yang lain berpandangan bahwa Kevin/Gideon bermain bulutangkis, selain ingin menang, juga ingin memuaskan batin para penonton.

Tempo-tempo Kevin menatap lawannya di depan net, badannya dimiringkan ke kanan, tetapi pergelangan tangannya membawa bola ke kiri. Lawan dikecohnya dengan atraksi. Kevin tak jarang juga mendebarkan jantung penonton dengan cara yang sangat unik. Bila diserang, ia tak langsung menangkis, tetapi membiarkan bola melewati badannya, seolah ia tak mampu menjangkaunya.

Dalam hitungan kurang dari sedetik, Kevin bisa mengembalikan bola itu dengan sabetan yang sangat keras. Lawan dan para penonton terkecoh. Semuanya hanya geleng kepala menyaksikan adegan yang nyaris tak masuk akal itu. “Only Kevin can do this. This is truly Kevin,” kata seorang penonton yang duduk di sebelah saya, menyaksikan gaya permainan Kevin dengan kepala yang digeleng.

 

Gaya nakal yang lucu, juga acap kali ditampilkan Kevin. Tatkala lawan mengarahkan bola ke arahnya, Kevin sesungguhnya sudah tahu bahwa bola tersebut keluar lapangan. Namun, ia bisa berpura-pura meloncati bola itu sembari mengayunkan raketnya, seolah ia hendak memukul. Kevin hanya menyambar angin. Para penontotn, termasuk lawannya, hanya bisa menatap lurus tanpa kuasa untuk berkata-kata. Kevin nakal, Kevin cerdik. Belumlagigayauniknya yang mengambil bola di ataskepala, danmengarahkan bola tersebutkearahsesukahatinya. Takada orang, termasukpelatihnya, yang mampu menebak arah bola Kevin bila ia memukulnya dari atas kepala. Hanya dia dan Tuhan yang tahu itu semua.

 

Di saat Kevin beratraksi, di belakangnya ada Gideon yang siap melompat, melancarkan smes yang menggelegar. Menonton Gideon juga adalah sebuah hiburan tersendiri. Ia mampu melakukan serangan dalam posisi apa pun. Badan Gideon mudah sekali meliuk ke kiri atau ke kanan dalam melakukan serangan yang mematikan. Gideon adalah tipe pemain yang memiliki naluri tajam: kapan ia meloncat dan memukul bola. Gideon seakan diprogram oleh komputer sehingga presisi momen ketika ia meloncat dan melancarkan serangan, selalu tepat.

Kecerdikan dan kenakalan Kevin mengatur pola permainan, dipadu daya dobrak dengan akurasi serta presisi tinggi dari Gedeon itulah yang membuat mereka dirindukan. Publik dan penonton terhibur dengan kombinasi gaya dan kehandalan pukulan Kevin/Gideon. Itulah yang membuat mereka selalu dinanti.

Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
kuyakin hari ini pasti menang.

Bila ada yang ingin belajar bagaimana kemajemukan Indonesia bisa dijahit menjadi sulaman indah, sebaiknya bertanya saja pada Kevin/Gideon. Anak-anak muda dengan aneka latar belakang yang berbeda: kultur, etnis, agama, tingkat status sosial-ekonomi, lebur menjadi satu: menyaksikan idola dan pujaannya mengharumkan Indonesia. Sekat perbedaan mereka dirakit oleh Kevin/Gideon melalui gerakan dan liukan badan di lapangan. Kevin/Gideon menjahit serpihan-serpihan kain yang berbeda itu menjadi sebuah tenunan yang utuh dan indah. Serpihan-serpihan perbedaan telah dirajut oleh Kevin/Gideon. Bangsa ini berutang kepada keduanya.

Ketika menyaksikan atraksi Kevin/Gideon malam jtu, saya tiba-tiba teringat sebuah film Bolywood, Dangal. Di situ, Aamir Khan kian meneguhkan diri sebagai aktor luar biasa. Ia memerankan diri sebagai seorang ayah dari dua orang putri. Sebagai mantan atlit wrestling, ia melatih kedua pujaan hatinya itu untuk mengikuti jejaknya. Ia ditantang oleh isterinya sendiri, terlebih masyarakat desa yang konservatif. Ia tidak peduli. Ia ingin kedua putrinya menjadi jagoan dan juara wrestling. Sebuah mimpi yang memang di kelak hari, jadi kenyataan. Putrinya juara wrestling negara-negara persemakmuran.

“Tak ada prestasi yang dipetik dari sebuah pohon. Prestasi datangnya dari keringat yang bercucuran, ketangguhan hati untuk menang, sikap pantang menyerah, dan keuletan serta kesungguhan berlatih,” kata Sang ayah ketika menyambut kemenangan putrinya. Saya percaya, semua yang diucapkan Sang ayah dalam film itu, ada pada diri Kevin/Gideon. Mereka juara karena mereka memang tangguh dalam latihan, pantang menyerah, dan cerdik. Selamat buat Kevin/Gideon.


Oleh : Hamid Awaludin

 

Hendri Firzani
20-03-2018 16:41