Main Menu

Direktur Regional Cambridge Dr Ben Schmit: Aspek Terpenting Pembelajaran Yaitu Active learning

Andhika Dinata
02-05-2018 18:33

Direktur Regional Asia Tenggara dan Asia Pasifik Cambridge, Dr. Ben Schmidt.(Dok. Sampoerna University/re1)

Jakarta, Gatra.com - Direktur Regional Asia Tenggara dan Asia Pasifik Cambridge Dr. Ben Schmidt menandatangani nota kesepahaman (MoU) Cambridge Assessment International Educational (CAIE) dengan Sampoerna University dengan tajuk acara “Teacher Professional Development Signing Ceremony of Collaboration Agreement”. Dengan kerja sama ini, menurut Ben, pihaknya akan bekerja sama mengintegrasikan beberapa Development Program ke dalam pelatihan guru yang sedang berjalan di Sampoerna University.

Cambridge yang telah berkecimpung di dunia pendidikan Indonesia selama 10 tahun,  telah memiliki 200 sekolah yang menggunakan program kurikulum berbasiskan kurikulum Cambridge. menurut Ben juga akan memberi pelatihan kepada guru-guru sekolah dengan konsep kurikulum Cambridge. Mereka yang mengikuti pelatihan, menurut Ben, akan mendapatkan akreditasi sebagai pengajar Cambridge sehingga mampu mengembangkan kemampuannya dalam World Class Competencies.

Untuk mengetahui lebih jauh keterlibatan Cambridge dalam program pendidikan di Indonesia, wartawan GATRA Andhika Dinata mewawancarai khusus  Ben Schmidt beberapa waktu lalu, berikut petikannya: 

 

Apa tujuan utama kerjasama antara Cambridge dengan Sampoerna University ini?

Sangat penting bagi kami untuk mengembangkan guru-guru yang kompeten, yang mampu mengajarkan program pendidikan internasional yang berbeda dengan kurikulum nasional dalam pengajaran Berbahasa Indonesia. Karena itu, guru yang mengajar dalam kelas internasional maupun bilingual pertama-tama harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang bagus, jadi biasanya mereka memerlukan dua Bahasa, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Mereka juga harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang program pendidikan internasional. Seringkali metode pengajarannya memiliki pedagogik yang berbeda, kurikulum yang berbeda dan lainnya, jadi Anda harus memiliki pelatihan tambahan.

Hal ini dikarenakan kebutuhan akan pendidikan internasional terus tumbuh dan berkembang. Jika anda menginginkan contoh, ketika saya memulai karir sebagai Direktur Regional Cambridge wilayah Asia Tenggara, pada 2012, Indonesia memiliki 100 sekolah yang menggunakan Program Cambridge. Sekarang, 6 tahun kemudian, ada sekitar 200 sekolah. Jadi, jumlah sekolah kami berlipat ganda dalam waktu 5 tahun. Menurut estimasi dari seluruh dunia; dalam 10 tahun ke depan kami akan membutuhkan lebih dari 500.000 guru untuk edukasi internasional. Karena itu, kami harus lebih bisa melatih para guru untuk bisa mengajar di sekolah internasional di Indonesia.

Bagaimana program ini bekerja? Apakah anda memiliki metode spesifik untuk menjalankan konsepnya?

Tentang program yang sedang kami jalani, selain dari Cambridge International, kami selalu menawarkan kursus singkat yaitu  pelatihan khusus selama 2 hari untuk para guru, sehingga mereka dapat terbiasa dengan program Cambridge dan cara pengajarannya. Sebagai contoh, jika Anda adalah guru Fisika, kami akan menunjukkan Anda bagaimana program pelajaran Fisika dari Cambrigde. Di masa lalu, kami selalu mendatangkan pelatih (trainer) dari Inggris ke Indonesia untuk mengajar program tersebut, lalu mereka kembali lagi ke Inggris. Hal itu tidak efisien lagi, karena akan menjadi sangat mahal, dan guru dari Inggris tidak akan mengerti konteks pelajaran di Indonesia.

Saat itulah, kami bertemu Sampoerna University. Mereka sangat terkenal dan berpengalaman dalam pendidikan dan pelatihan guru, dan mereka juga memiliki local logistic. Jadi kami sampaikan, ”Mari kita bekerjasama”. “Anda menyediakan logistik dan organisasi, dan kami akan menyediakan program dan outlinesnya. Akhirnya, Sampoerna University telah memberikan pelatihan Cambridge kepada para guru di sekolah-sekolah internasional di Indonesia.

 

Adakah kompetensi khusus yang diberikan kepada para guru untuk program ini?

Untuk program ini, kami berasumsi bawa para guru sudah memiliki kompetensi dasar sebagai guru, jadi biasanya mereka sudah menjalani pelatihan dasar guru. Pelatihan Singkat ini –pelatihan selama 2 hari ini, dirancang agar mereka mengenal pendekatan edukasi internasional dengan menggunakan program Cambridge. Kamu tahu, bahwa sekitar 80% sekolah internasional di Indonesia menggunakan Program Cambridge, jadi program inilah yang paling popular.

 

Apa ada kompetensi lain seperti penguasaan pengetahuan dan teknologi?

 

Aspek terpenting untuk bisa mengajar dengan Program Cambridge adalah sesuatu yang lebih berkaitan dengan pendekatan pengajaran dan pembelajaran. Itu yang kami sebut sebagai Active Learning. Yang bermaksud membuat para murid lebih proaktif.

Maksudnya, yang tidak ada dalam program Cambridge adalah dimana para guru hanya memberi tahu muridnya untuk belajar bla-bla-bla, ini dan itu, dan mereka terus mencontoh dan mengulang. Belajar secara pasif seperti itu tidak akan berjalan baik. Para guru harus mengerti bagaimana caranya murid bisa menjadi lebih terlibat dalam belajar. Mereka perlu berpraktek dan menerapkan pengetahuan mereka kepada contoh-contoh baru. Murid-murid juga perlu mengerti cara menganalisa diri mereka sendiri dan berpikir kritis. Sebagian besar dari itu muncul dari kerja kelompok, presentasi, dan kemampuan public speaking. Semua hal tersebut adalah pendekatan yang harus kami tekankan kepada para guru, itu adalah inti dari semua yang akan kita lakukan.

Jadi konsepnya ‘Student Active Learning?

Betul sekali. Para guru harus menjadi lebih kompeten untuk mengajak dan melibatkan muridnya dalam “Active learning”.

 

Bagaimana pandangan Anda terkait dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini?

 

Yang kami lihat adalah di sini (Indonesia) banyak orang tua menginginkan hal terbaik untuk anak-anaknya. Mereka mengerti bahwa yang terbaik itu adalah menambahkan ilmu yang sudah mereka pelajari. Orang tua menginginkan anak-anaknya untuk bisa fasih setidaknya 2 bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa inggris.

Yang kedua, mereka juga ingin anak-anaknya terdidik dengan standar global. Yang ketiga, para orang tua juga menginginkan anak-anaknya untuk bisa bekerja dalam sudut pandang internasional. Jika mereka akan bekerja di bidang bisnis, maka mereka tahu bahwa mereka harus bekerja juga untuk perusahaan asing. Jika mereka bekerja di bidang Supply Chain atau lainnya, mereka harus memiliki pengertian tentang dunia, baik di luar maupun di dalam Indonesia. Oleh karena itu, edukasi bilingual, campuran internasional dan nasional, menjadi sangat popular. Itulah yang menurut saya penting dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Saya pikir ini penting bagi orang tua yang menginginkan hal terbaik untuk anak-anaknya. Jadi mereka ingin anak-anaknya memiliki sudut pandang internasional, lancar dalam Bahasa Inggris, dan juga memiliki pemahaman global.

Sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki banyak masalah dengan pendidikannya, mungkin dari segi kualitas pendidikan kita yang buruk, atau peringkat yang rendah di rangking internasional.

 

Bagamana Saran Anda untuk mengatasinya?

Kami merasa dari sisi Cambridge, kami telah memberikan kontribusi terbaik untuk terlibat dalam pelatihan dan pengembangan guru-guru Indonesia. Tentu saja, jika Anda bertanya dari sesi bisnis yaitu pendidikan internasional, kami tidak memiliki urusan untuk campur tangan dengan (konsep) pendidikan negara ini. Ketika berhubungan dengan pelatihan guru, pendidikan internasional, dan pendidikan bilingual.  Kami mulai bekerja sedikit demi sedikit dengan beberapa Universitas Negeri, karena ada banyak hal yang dapat kami tawarkan untuk menambah kurikulum internasional kami sebagai pelengkap kurikulum nasional Indonesia.

Adakah Transfer of knowledges antara guru Cambridge dengan guru  di Indonesia?

Saya tahu misalnya, Kementerian Pendidikan memiliki niat untuk mengembangkan lebih banyak kolaborasi antara sekolah internasional di Indonesia dengan sekolah negeri. Dan kami tentu akan berkerja sama dengan sektor pendidikan internasional, tetapi karena kami bekerja dengan guru dari Indonesia, maka tentu saja mereka berada di dalam posisi yang lebih baik untuk mentransfer pengetahuannya ke sekolah negeri.

Mungkin aspek lain yang patut disebutkan adalah langkah kolaborasi kami berikutnya dengan Sampoerna University, dimana kami akan mengintegrasikan beberapa Development Program ke dalam pelatihan guru yang sedang berjalan di Sampoerna University. Mereka memiliki program gelar 4 tahun untuk pelatihan guru, yang keduanya disampaikan dalam Bahasa Inggris dan Indonesia.

Sebagai bagian dari gelarnya, para siswa akan dapat memeroleh sertifikat dari Cambridge dalam bidang pengajaran dan pembelajaran dengan menggunakan teknologi digital. Kami telah mengembangkan sertifikat ini yang memerlukan waktu sekitar 3 sampai 4 bulan untuk guru, dan untuk siswa mereka dapat melakukannya sebagai bagian dari gelar 4 tahun mereka. Itu adalah langkah kami berikutnya, dimana kami akan mengintegrasikan pendekatan Cambridge dan pengembangan guru ke dalam program pengajaran Bahasa Indonesia, yang juga akan melibatkan Sampoerna University.

Pemerintah Indonesia sedang menggencarkan beberapa program edukasi. Seperti pembelajaran dengan konsep pendidikan karakter. Adakah relasi diantara program Cambridge dengan program pemerintah Indonesia?

 

Pertama-tama, kami memiliki hubungan baik dengan Kemendikbud, terutama di bagian regulasi dan sekolah SPK (Satuan Pendidikan Kerjasama). Kami adalah mitra resmi di bawah program SPK, dan Kementrian tersebut telah mengakui Cambridge sebagai mitra untuk hal tersebut.

Kami bicara kepada mereka secara berkala, dan sebenarnya kami adalah provider internasional pertama yang membantu mempersiapkan program SPK. Hal itu bekerja sangat baik, dan Kementerian sepenuhnya mengerti bahwa keberadaan kami di sini untuk melengkapi sistem pendidikan nasional, dan bukan sebagai alternatif at menjadi saingan.

Dimana kami telah membuat kontribusi, dan melengkapi sistem pendidikan nasional. Secara khusus, program Cambridge sangat fleksibel. Kami menawarkan 70 mata pelajaran berbeda, dan mengizinkan sekolah untuk memilih seberapa banyak mata pelajaran yang mereka inginkan. Dalam arti, mereka dapat menggabungkan kurikulum nasional dan internasional. Dengan program internasional lainnya, Anda tidak bisa melakukan hal tersebut; jadi, kami benar-benar memimpin dalam bidang pendidikan bilingual atau kurikulum ganda.

Artinya ada banyak kesamaan antara program Anda dengan program pemerintah Indonesia?

 Tentu saja. Menarik juga mengetahui bahwa ada beberapa elemen yang juga dibutuhkan oleh sekolah internasional untuk mengajar orang Indonesia. Seperti, elemen Pancasila dan sebagainya. Tak ketinggalan, saya juga ingin memberitahukan kepada Anda bahwa Cambridge juga menawarkan program dalam Bahasa Indonesia. Program bahasa jadi yang pertama.

Kenapa? Karena kita berpikir bahwa pendidikan internasional seharusnya tidak menghasilkan siswa yang hanya berbicara dalam bahasa Inggris dan hanya ingin meninggalkan negaranya untuk tinggal di Amerika Serikat. Bukan itu. Ini tentang orang-orang yang bisa bilingual. Oleh karenanya kita memiliki program pendidikan formal untuk mengembangkan bahasa siswa ke tingkat yang lebih tinggi, dan juga menulis dan membaca. Ini sangat penting bagi kita agar para siswa memiliki pemahaman tentang dunia luar dan kompeten dalam berbahasa Inggris, berbicara dengan orang-orang dari seluruh dunia; serta memiliki pengetahuan nyata terhadap negara dan mengerti sejarah mereka sendiri.

Kembali ke topik kita, itulah mengapa sangat penting melatih orang Indonesia mengajar di sekolah internasional. Pemahaman terdahulu bahwa sekolah internasional, adalah di mana sekolah itu dijalankan oleh orang asing dan untuk anak-anak orang asing, itu telah berubah total. Jika Anda melihat 30 tahun yang lalu, Jika Anda melihat seluruh dunia, persentase di sekolah internasional dibandingkan dengan penduduk lokalnya hanya 80% banding 20%.

Hari ini justru sebaliknya dimana 20% adalah orang asing, 80% adalah orang lokal. Inilah sebabnya mengapa kita juga membutuhkan guru orang Indonesia untuk mengajar di lembaga pendidikan internasional. 

 


 

 

Andhika Dinata
02-05-2018 18:33