Main Menu

Potensi Ekonomi Muslim Kota

Rohmat Haryadi
08-06-2018 13:02

Gerai Food Truck The Halal Boys. (GATRA/Abdurachman/FT02)

Pemerintah mulai melirik potensi ekonomi umat dengan menggelar rapat pleno Komite Nasional Keuangan Syariah, Februari lalu. Dalam rapat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan banyak hal yang bisa dikembangkan dalam ekonomi syariah Indonesia. Misalnya, bidang industri, industri makanan halal, industri farmasi, busana muslim, dan sektor pariwisata. "Dalam ekonomi syariah banyak potensi yang bisa dikembangkan," kata Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta.


Presiden Jokowi menekankan bahwa Indonesia memiliki tingkat konsumsi makanan halal terbesar di dunia. ''Indonesia masuk dalam lima besar negara dengan konsumsi produk obat-obatan dan kosmetik halal terbesar di dunia," ujarnya. Potensi ekonomi umat Islam ditopang dengan jumlah penduduk kelas menengah muslim yang kian menambun.


Jumlah penduduk kelas menengah muslim Indonesia diprediksikan akan mencapai 147 juta jiwa pada 2020. Dari jumlah itu, sekitar 137 di antaranya tinggal di perkotaan. Tren peningkatan jumlah penduduk ini ini akan terus berlanjut. Penduduk yang tinggal di kota--termasuk umat Islam--akan semakin banyak.

Masyarakat kota biasanya lebih menyukai sesuatu yang simbolis. Simbol agama yang menunjukkan kesalehan banyak terdapat pada muslim kota. Simbol agama berkorelasi dengan konsumerisme di kalangan muslim kota. Hal itu berpengaruh pada pilihan barang-barang rumah tangga, barang-barang konsumsi, pakaian, kendaraan, dan jasa keuangan.

Kesadaran terhadap produk halal meningkat. Gerai dan toko pakaian muslim dan hijab pun merebak bak cendawan pada musim hujan. Potensi ekonomi yang gemuk dan menggiurkan ini sudah selayaknya menjadi perhatian. The Boston Consulting Group (BCG) memprediksi pada 2020 jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 167 juta (62,8% jumlah penduduk). Dengan proporsi 49,1 juta (18,4%) kelas menengah atas (upper middle), 68 juta (25,5%) kelas menengah (middle), dan 50,4 juta (18,9%) kelas menengah ke bawah (emerging middle).

Dengan asumsi penduduk muslim sebanyak 87,7%, maka kelas menengah muslim mencapai 147 juta jiwa. Mereka memiliki daya beli yang cukup tinggi. Berdasarkan kategorisasi Badan Pusat Statistik (BPS), kelas menengah-bawah adalah mereka yang pengeluaran keluarga per bulan Rp1,5 - 2 juta. Kelas menengah-tengah jika pengeluaran keluarga per bulan Rp2 - 3 juta. Adapun menengah-atas bila pengeluaran keluarga per bulan Rp3 - 5 juta.

Dengan pengeluaran kelas menengah Indonesia Rp2,1 - 3,33 juta, duit yang beredar mencapai Rp308,7 - 489,5 trilyun per bulan. Potensi ekonomi sebesar itu tentunya berkontribusi pada sistem keuangan syariah domestik. Namun, hingga saat ini kontribusinya masih jauh di bawah sistem keuangan konvensional.

Hal tersebut dikemukakan Agus Martowardojo, ketika masih menjadi Gubernur Bank Indonesia, seusai menyepakati komitmen pengembangan ekonomi syariah bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Wakaf Indonesia, dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Januari lalu. ''Kontribusi ekonomi dan keuangan syariah masih di bawah aktivitas ekonomi dan keuangan konvensional, serta belum dapat memenuhi kebutuhan,'' kata Agus.

Meskipun demikian, Agus optimistis bahwa potensi pengembangan ekonomi dan sistem keuangan syariah masih relatif besar. Oleh karena itu, bank sentral akan menyusun berbagai strategi untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dan keuangan syariah. Caranya, dengan penguatan pasar keuangan syariah, pemberdayaan ekonomi syariah. Dan yang terakhir, adalah penguatan riset dan edukasi keuangan syariah. ''Ini adalah platform pengembangan ekonomi dan keuangan syariah ke depan,'' katanya.

Menurut Agus, ekonomi dan keuangan syariah Indonesia terus berkembang yang ditandai perkembangan berbagai lembaga keuangan Islam seperti perbankan syariah, takaful, koperasi syariah, dan pasar keuangan syariah, serta berbagai lembaga sosial Islam.

Dalam rapat pleno Komite Nasional Keuangan Syariah, Presiden Jokowi menyatakan bahwa sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan sektor keuangan dan ekonomi syariah. ''Untuk itu, kita sangat serius menggarap potensi ini. Saya melihat angka-angkanya menunjukkan peningkatan," katanya.

Presiden memaparkan aset ekonomi syariah terus meningkat pada 2017, yaitu sebesar Rp 435 trilyun atau sekitar 5,8% dari total aset perbankan Indonesia. Pasar modal syariah angkanya terus membaik. Indonesia adalah penerbit sukuk internasional terbesar. ''Sukuk kita mencapai 19% dari seluruh sukuk yang diterbitkan berbagai negara,'' katanya.

Dengan demikian, tidak dimungkiri bahwa potensi ekonomi umat Islam memang sangat menggiurkan. Jika digarap dengan baik, hal itu bisa menjadi satu imad (pilar) perekonomian Indonesia Jaya.


Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
08-06-2018 13:02