Main Menu

Budi Karya : Jangan Mudik dan Balik Saat Peak Season

Bernadetta Febriana
17-06-2018 03:37

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. (GATRA/Rifki M. Irsyad/re1)

Jakarta, gatra.com - Budi Karya Sumadi punya tugas berat setiap musim mudik Lebaran tiba. Horor kemacetan di jalan, tingginya angka kecelakaan, pengguna motor yang cukup membahyakan diri sendiri dan orang lain,adalah PR tiap tahun yang harus diselesaikan sebagai Menteri Perhubungan.

Mudik Lebaran kali ini, diakui atau tidak, tak banyak masalah yang muncul. Sudah bisa digunakannya banyak jal tol baru dan tol fungsional terbukti cukup membantu mengurai kemacetan. Namun demikian, keluhan para pedagang yang mengamai kerugian akibat hadirnya jalan tol fungsional di beberapa kota yang dilewati, mengganggu pikirannya.

Kepada gatra.com sesudah acara openhouse di kediamannya, Budi menyampaikan evaluasi dan harapannya terkait arus mudik dan balik Lebaran tahun ini.

Apa evaluasi yang bisa Anda sampaikan dari arus mudik kali ini?

Dari prasarana angkutan yang ada, memang angkutan harus dilihat secara menyeluruh tidak hanya angkutan darat tapi juga angkutan laut dan udara. Untuk di darat, transportasi bis belum menunjukkan performance yang baik. Penjualan tiket belum online,sehingga menyuburkan calo. Saya mau push supaya tiket bis sekarang harus online.

Bagaimana caranya supaya masyarakat mau berpindah ke transportasi bis? Selain harus tiket online tadi, kita ajak dan masifkan dulu mudik gratis bareng. Biar merasakan naik bis pun nyaman.

Untuk mengurangi kemacetan, semua kinerja angkitan harus baik baik di darat, laut, maupun udara. Bila semua performance angkutan sudah baik, masyarakat jadi punya banyak pilihan.

Kereta api sebenarnya stagnan karena prasarananya terbatas. Jadi, kita harus bangun prasarana. Dimasa mendatang dengan adanya Jakarta Surabaya, kereta semi cepat semoga bisa membantu.

Lalu bagaimana dengan penggunaan jalan tol baru dan tol fungsional?

Prasarana yang baru yang sedang dibangun ini,yakni tol, cukup panjang dan memang mensubtitusi kegiatan-kegiatan perdagangan yang ada di kota itu. Orangjadi pada masuk tol, jadi perdagangan sepi.

Jadi saya merasa perlu untuk menginisiasi bagaimana sentimen terhadap kota-kota tersebut tidak hilang. Maka saya berpikirtiap tol harus punya tema.

Intinya seperti ini. Dari Jakarta menuju Semarang, misalnya masa iya sih tidak mau mampir ke kota-kota antaranya. Kita bisa kampanye dan promosikan, kalau mau ke Semarang itu bisa mampir dulu ke Pekalongan atau Batang. Pemda- pemdanya harus dipush untuk melakukan sesuatu.

Misalnya, mudik bisa juga mampir untuk berwisata kuliner yang disana. Itu akan memberi dampak, yang pertama, kotanya akan laku. Kedua, kepadatan akan berkurang. Yang ketiga, jalan tol Jakarta Semarang akan ada tema, biar nggak kering begitu.

Saya kemarin meninjau kota-kota sekitar tol itu, bertemu dengan para kepala daerahnya dan juga warga. Ada yang mengeluh memang, karena adanya tol ini, penghasilan mereka sebagai pedagang jadi berkurang. Tidak seperrti sebelum ada tol. Tapi kalau mau mengisi rest area yang ada di tol, mereka mikir, lha kotanya malah jadi nggak ada apa-apa juga. Jadi bagaimana caranya supaya meski ada tol, tapi para pengguna tol tetap mau keluar untuk mampir. Ya nanti pakai tema yang mampu menarik mereka keluar dulu.

Kalau kualitas dan kapasitas di tol sendiri terlihat belum maksimal, toilet umum masih kurang, stasiun pengisian bahan bakar juga jarang, itu harus kita tingkatkan.

Meski libur sudah cukup panjang, tetapi jadwal masyarakat mudik tetap mepet dengan hari raya. Bagaimana menghindarkan ini?

Nah, pemerintah juga ingin mengubah perilaku warga yang mudik. Kita sudah kasih liburnya sejak lama, tapi tetap saja perginya di hari Rabu, H-2 sebelum Lebaran yang merupakan peak season. Kami ingin mengedukasi mereka supaya mereka itu pulang jangan di peak season. Bahayanya lebih banyak.

Untuk arus balik nanti, kita sudah perkirakan puncaknya di 19-20 Juni karena mulai masuk di 21 Juni. Nah, kita ingin masyarakat jangan balik semua di tanggal itu,lebih awal misalnya tanggal 17 atau 18 Juni. Ini bertujuan agar kendaraan tidak tumplek blek d 19-20 Juni. Edukasi seperti ini harus terus menerus disampaikan kepada masyarakat. Kan sudah diberi libur panjang.

Tapi bagaimanapun, pengguna roda dua dan roda empat untuk mudik menurun, sekitar 20-30%. Dengan demikian, tidak heran kalau kemudian angka kecelakaaan lalulintas juga menurun, sekitar 30%. Karena penyebab terbesar memang di motor dan mobil. Nah mereka sudah mau berpindah ke transportasi umum.

Jadi kalau transportasi umum memiliki performa baik, masyarakat pasti akan pilih itu. Kepadatan jadi berkurang juga, apalagi kalau masyarakat tidak pilih peakseason untuk mudik ataupun baliknya. Kalau kepadatan di jalanraya berkurang, maka angka kecelakaan sudah pasti turun. Masyarakat jadi nyaman mudik.


Editor : Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
17-06-2018 03:37