Main Menu

Syarief Hasan: Capres Nanti Tergantung Negosiasi

Andhika Dinata
12-07-2018 18:48

Wakil Ketua Partai Demokrat, Syarief Hasan. (ANTARA/Aprillio Akbar/RT)

Jakarta, Gatra.com- Mencuatnya duet JK-AHY sebagai pasangan yang bersanding dalam Pilpres 2019 menimbulkan kejutan. Jusuf Kalla sebelumnya pernah bekerjasama dengan SBY saat menjabat sebagai Wapres RI ke-10 dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009). JK dalam beberapa kali kesempatan menyebutkan akan pensiun dari dunia politik setelah masa jabatannya sebagai Wapres RI ke-12 selesai.

 

Kini peluang JK maju sebagai Wapres satu periode lagi kandas setelah Mahkamah Konstitusi (MK) batal memproses gugatan pemohon terkait uji materi dua pasal dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu). Termasuk di dalamnya menimbang klausul aturan majunya Presiden atau Wapres dalam periode jabatan dua kali secara tidak berturut-turut.

JK memang enggan berkomentar, tetapi santer terdengar suara kader yang menginginkan kolaborasi dua figur tersebut. Guna mendalami kemungkinan dan peluang politik tersebut, wartawan GATRA Andhika Dinata meminta pandangan dari politisi senior sekaligus Wakil Ketua Umum Demokrat Syarief Hasan. Berikut petikannya :

 

Bagaimana ceritanya rumor JK-AHY ini ?
Awalnya tentu berawal dari silaturahmi JK dengan SBY kemarin. Silaturahmi biasa sebenarnya, tetapi ada beberapa kader yang menanggapi itu adalah positif sehingga kader itu langsung berpikir, dia langsung secara spontan aja, kenapa tidak kita menyandingkan JK dan AHY. Dan kebetulan kan beliau kan tidak bisa maju sebagai cawapres. Letupan-letupan itulah yang kemudian sampai tercium oleh wartawan.

Ini sebenarnya merupakan letupan sporadis dari kader. Sebelumnya karena kita kan berpikir dia (JK) adalah Wakil Presiden, dan sebelumnya beliau juga mengatakan tidak akan maju lagi. Jadi itu spontan saja dari para kader. Tetapi itu belum dibicarakan dan diputuskan oleh DPP Partai Demokrat. Karena di DPP Partai belum membahas mengenai hal itu. Jadi ini baru menjadi bunga-bunganya Pilpres. Pertemuannya di kediaman Pak SBY di Mega Kuningan. Apalagi beliau (JK) kan mantan Wapres 2004-2009. Jadi sangat wajar kedua tokoh ini bersilaturahmi.

 

Apakah JK maupun Demokrat setuju dengan opsi ini ?
Ya lagi-lagi kita belum bahas secara serius, tetapi letupan-letupan itu kelihatannya positif. Letupan itu dari para kader. Tentu ada pertimbangannya. Pertama kan Pak JK kan sudah dua kali jadi Wapres dan Wapres yang berbeda. Berarti kan pengalamannya luar biasa. Dan beliau kan bisa menyerap keunggulan-keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Nah sehingga keunggulannya itu dari dua Presiden sebelumnya dia bisa lanjutkan dan kelemahannya bisa disempurnakan. Kedua, beliau kan tokoh nasional. Dan beliau diterima di semua kalangan. Jadi memang positif. Makanya saya menilai letupan dan aspirasi itu positif, tapi belum dibahas secara formal. Karena banyak juga kan alternatif-alternatif lain.

 

Artinya Demokrat memanfaatkan celah Putusan MK yang belum mengakomodir majunya JK dalam periode berturut sebagai Wapres ?
Bukan memanfaatkan. Ini jalan Tuhan mungkin begitu.

 

Bagaimana cerita terbentuknya Koalisi Kerakyatan ini ?
Ya pokoknya koalisi yang akan berjuang untuk rakyat lah. Ya karena selama ini Partai Demokrat itu selalu menerima aspirasi masyarakat. Kita sudah keliling Jawa, kita bahkan ke Sumatera Utara, ke Lampung, kalau Jawa sudah semua kita datangi. Tujuannya untuk mendengar aspirasi rakyat. Aspirasi rakyat itu kami catat semuanya sehingga munculah ide untuk membangun koalisi kerakyatan. Kita lebih banyak berkomunikasi dengan rakyat, dan itu kita sampaikan ke Pemerintah dan koalisi yang kita bentuk.

 

Poster JK-AHY mulai marak di medsos?
Saya belum tahu siapa timnya. Mungkin itu letupan-letupan kader. Saya belum amati satu per satu. Mungkin bagian IT kami yang bisa melihat kok bisa tiba-tiba begitu santernya.

 

Lalu wacana Muhaimin-AHY bagaimana?
Justru itu koalisi yang kita bentuk ini baru alternatif belum kita definitif. Beberapa alternatif masih bisa kita tempuh, apakah koalisi A, koalisi B, atau koalisi kerakyatan. Tetapi tentunya kita lebih bagus kalau ada koalisi baru supaya masyarakat itu bisa diberi alternatif yang lebih luas. Alternatif pilihan yang lebih banyak sehingga kualitas Demokrasi juga jadi lebih bagus tentunya.

 

Demokrat akan gandeng PKB ?
Kita saling menunggu mudah-mudahan yang belum menentukan pilihan itu bisa bersama-sama. Tentunya komunikasi ini kita intensifkan.

 

Hasil positif di Pilkada membuat Demokrat pas dengan PKB ?
Ya mudah-mudahan (PKB bergabung). Kami kan komunikasinya cukup bagus. Karena hasil Pilkada ini kan baru sekali bahkan ada beberapa daerah yang belum masuk hasilnya. Setelah itu tentu kami komunikasi dengan baik dengan teman-teman partai yang lain.

 

Bagaimana dengan PAN ?
Saya pikir ada kemungkinan bisa (PAN). Teman-teman PKB juga bisa, dengan PKS kita juga komunikasi. Dengan Gerindra komunikasi level 1-level 2 ada.

 

Artinya peluang Jokowi-AHY akan tipis ?
Seperti saya sampaikan kita kan belum putuskan apakah bergabung dengan A atau B, ataukah poros C. Yang sudah kita putuskan adalah AHY itu sebagai calon Presiden atau Wakil Presiden. Tetapi berdasarkan survei yang tertinggi kan sebagai calon Wapres, kami realistis. Kalau rakyat menghendaki dia calon Wapres maka saya pikir Demokrat akan sejalan dengan harapan rakyat. Calon Presidennya nanti tergantung pada hasil negosiasi, ya kita lihat nanti konfigurasinya.

 

Banyak pilihan jadi siapa figur yang akan dimajukan.. ?
Saya pikir ini kan dapat dipastikan di last minutes semuanya. Kalau dilakukan last minute tentunya ada persiapan. Dan begitu jelas semuanya akan bermunculan dalam waktu singkat. Tetapi bukan berarti tiba-tiba, semua itu kan by design semuanya.**

 

Andhika Dinata
12-07-2018 18:48