Main Menu

Indonesia Masih Kekurangan Dokter Spesialis Kardiovaskular

Dara Purnama
17-11-2017 18:15

Ilustrasi.

Jakarta, Gatra.com - Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), dr. Ismono Sunu, tak memungkiri gencarnya invansi dokter spesialis jantung asing masuk ke Indonesia. Menurutnya, Indonesia ibarat gadis yang menarik dan diminati oleh negara-negara di kawasan ASEAN.



“Ini memang sudah menjadi pembicaraan yang cukup luas bukan hanya di bidang kesehatan saja tapi juga bidang lain. Jadi, kita ini adalah peluang besar untuk masuknya tenaga spesialis kardiovaskular dari negara lain,” katanya saat press conference 60 tahun Perki mengabdi di Jakarta Barat, Jumat (17/11).

Jika dibandingkan rasio antara jumlah dokter spesialis kardiovaskular dengan penduduk Indonesia adalah 1 : 250.000. Sementara untuk di kota-kota besar rasionya bisa 1 :100.000, seperti Jakarta dan Surabaya. Sementara negara tetangga Malaysia, lanjut Ismono, rasionya berada di bawah Indonesia yakni 1 :90.000.

“Dengan demikian peluang yang ada di Indonesia itu sangat besar, karena kita belum mampu mengisi semuanya. Makanya, rencana kita ke depan ingin memproduksi dokter spesialis kardiovaskular yang memadai jumlahnya, tentunya juga berkualitas,” tambah Ismono.

Dirinya menegaskan kualitas spesialis kardiovaskular yang ada di Indonesia saat ini tidaklah kalah dengan negara-negara di ASEAN dan Asia Pasific. Namun demikian, yang membuatnya khawatir adalah sejak dulu Indonesia selalu memiliki prioritas di mana dokter jantung harus ditempatkan di rumah sakit yang fasilitasnya memadai.

Saat ini, Indonesia memiliki 14 rumah sakit rujukan nasional, 20 rumah sakit rujukan provinsi dan 110 rumah sakit rujukan regional.

“Yang jadi masalah, dokter yang bisa melakukan suatu pembedahan jantung dan pembuluh darah hanya beberapa, sehingga ini tantangan bagi kita untuk meningkatkan jumlah ahli bedah jantung dan ahli pembuluh darah, apalagi dengan luasnya demografis kita,” jelasnya.

Kerjasama dengan pemerintah melalui pemberian biaya pendidikan fellowship kepada 20 kandidat spesialis kardiovaskular, diharapkan bisa menghasilkan tambahan spesialis kardiovaskular dengan kualitas tinggi dengan kompetensi lanjut, di mana kandidat asal Indonesia akan belajar ke China dan India.

Saat ini Perki menaungi 1.000 orang dokter spesialis kardivaskular.


Reporter: DPU
Editor: Toha

Dara Purnama
17-11-2017 18:15