Main Menu

Memberi Roh Kopi Indonesia

Hendri Firzani
28-03-2018 20:14

Kopi Indonesia. (Dok. GATRA/Averos Lubis/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Keriuhan tren minum kopi menjadi momentum Indonesia untuk bergerak cepat. Keberagaman kopi Indonesia jadi amunisi utama untuk menggebrak pasar. Tantangan terbesar adalah kemampuan mengakselerasi nilai tambah ekonomi kreatif dengan pengemasan citra yang baik. 

 

Sebagai salah satu komoditas penting, kopi memiliki posisi penting dalam meningkatkan popularitas dan citra Indonesia. Baik lokal, maupun global. Jika dulu dicitrakan sebagai minuman orang tua, kini kopi punya citra sebagai minuman kekinian yang juga dikonsumsi anak-anak muda.


Berkembangnya ragam specialty coffee Indonesia dan menjamurnya kedai kopi bahkan turut menjadi faktor yang membuat kopi lebih dekat dengan masyarakat. Plus, menjelma sebagai bagian dari gaya hidup moderan. ''Indonesia-lah negara dengan jenis kopi paling banyak. Orang mau cari karakteristik kopi robusta atau arabika dari A sampai Z, Indonesia punya dan hampir komplet,'' kata Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ricky Joseph Pesik.


Bekraf, lanjut Ricky, punya misi untuk mempromosikan kopi Indonesia bukan hanya sektor hulu dan hilir, melainkan juga hilir 'plus'. Ia menjelaskan, komoditas kopi erat sekali hubungannya dengan neraca perdagangan. Bekraf berupaya memfasilitasi, mendukung, dan mengakselerasi nilai tambah ekonomi kreatif. Nilai tambah itu menurutnya kopi Indonesia punya hak paten, hak dagang, dan hak merek.

Misalnya, kopi Aceh Gayo yang di tingkat petani Rp 100.000 per kilogram, bisa jadi, di tangan pelaku ekonomi kreatif harganya melonjak menjadi Rp 1 juta per kilogram. Bekraf mendorong nilai tambah kopi.

 

Kemitraan Bekraf dengan pemilik-pemilik coffee shop specialty seperti Anomali, Liberica atau distributor-distributor kopi yang mengekspor atas merek mereka sendiri. ''Karena di tangan merekalah nilai tambah ekonomi kreatif tercipta,'' ujar Ricky.

Hal lain yang menjadi perhatian Bekraf, memastikan produk petani kopi memiliki indikasi geografis (IG). IG adalah sebuah tanda yang menunjukkan daerah asal kopi. IG juga menunjukkan suatu produk karena faktor lingkungan geografis, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut sehingga memberikan reputasi, kualitas dan karakteristik tertentu.

IG menjadi pintu masuk untuk menggambarkan Indonesia punya diversitas dalam kopi. Mau cari karakteristik kopi robusta atau arabika dari A sampai Z di Indonesia ada, bahkan melimpah. Namun IG saja tidak cukup. Buat apa punya pengakuan tapi tidak menikmati nilai ekonominya. ''Masa IG kopi Indonesia tapi yang kapitalisasi kedai kopi luar atau merek luar Starbucks, misalnya? Kita mau yang kapitalisasi itu sendiri,'' kata Ricky. .

Selain itu, menurutnya, penting juga menciptakan ekosistem yang memudahkan pelaku bisnis kopi untuk bisa berekspansi ke pasar dalam dan luar negeri, baik sebagai kedai kopi atau merek kopi untuk dimasukkan ke outlet. ''Sebelum izin ekspor terbit, ada persyaratan yang harus dipenuhi seperti izin BPOM, Depkes, izin negara yang dituju, pemilik jaringan kedai kopi atau toko untuk jual kopi. Ini semua kita siapkan,'' ujarya. 

 

Untuk mengetahui lebih lengkap cerita tentang kopi Indonesia, Baca Majalah GATRA Edisi Khusus "Selebrasi Kopi Nusantara" No 22/XXIV/2018 ...


 

Editor: Sandika Prihatnala 

Hendri Firzani
28-03-2018 20:14