Main Menu

Ini Mengapa Tanah Gayo Terkenal Kopinya

Hendri Firzani
30-03-2018 10:28

Petani memanen kopi jenis arabika di bukit Pantan Terong, Bebesen, Aceh Tengah, Aceh. (ANTARA//Irwansyah Putra/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Kopi arabika Gayo mendunia karena tradisi budi daya tanam kopi secara organik. Rantai produksi dari petani, pengolah, sampai penyaji kopi yang mengutamakan standar yang tinggi menjadikan kopi Gayo tetap bertengger di jajaran kopi elite dunia.

 

Kopi menjadi identitas masyarakat di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Bukan warga Gayo namanya jika tak memiliki kebun kopi.

Hampir semua warga termasuk yang bukan petani pun memiliki kebun kopi, walaupun tak seluas kebun petani kopi. ''Memiliki kebun kopi seolah menjadi suatu kewajiban, kecuali warga pendatang yang tidak memiliki lahan,'' ujar Idris, 52 tahun, petani kopi di Desa Permata, Kabupaten Bener Meriah.  

Saat memasuki Bener Meriah di pagi hari, terlihat serombongan petani yang berjalan menuju kebun untuk memanen kopi. Di Gayo, kopi jenis arabika mendominasi di antara jenis tanaman lain.

Budi daya kopi sejak zaman Belanda hingga sekarang memang sudah mentradisi. Permintaan pasar atas komoditas ini dari waktu ke waktu masih tinggi. 

Kopi arabika Gayo memiliki cita rasa khas karena ditanam secara organik dan diolah kopi dengan cara tradisional.

Proses yang demikian dilakukan secara turun-temurun. Untuk pemupukan, menurut Idris, menggunakan pupuk kompos dari kulit buah kopi yang difermentasi.

Namun untuk memenuhi permintaan pasar, sejumlah petani mulai memakai pupuk kimia di awal penanaman. 

Agar berbuah lebih cepat dan pohonnya tumbuh lebat, menurut Idris, pemupukan dilakukan tiga kali dalam dua tahun, yakni sepekan setelah penanaman, pada umur enam bulan dan 18 bulan.

Sangat mudah membedakan kopi hasil budi daya alamiah dari kopi yang ditanam secara modern dengan menggunakan pupuk kimia. ''Rasa kopi organik lebih nikmat dan aromanya kuat,'' ujarnya. 

 Budi daya kopi di dataran tinggi Gayo setidaknya mencakup tiga kabupaten. Perkebunan kopi arabika yang paling banyak ada di Bener Meriah dan Aceh Tengah, sedangkan di Gayo Lues yang suhu udaranya tidak sedingin daerah yang lainnya, lahan kopinya tidak seluas kedua kabupaten tetangganya itu. 

Suhu dingin, curah hujan sedang, dan sinar matahari di sepanjang tahun merupakan "pasangan sejati" tanaman kopi.

 Menurut Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Bener Meriah, Syahrinsyah SP, perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo pertama digalakkan pada 1924 di daerah Paya Tumpi, Aceh Tengah. Sejatinya, sejak 1699 kopi arabika sudah masuk Indonesia dan dibudidayakan pertama kali di pinggir Batavia. 

 Pembukaan lahan perkebunan dilakukan seiring kelarnya jalan yang menghubungkan Bireuen-Takengon pada 1913.

 

Baca cerita selengkapnya di edisi Khusus Majalah GATRA no 22/XXIV Terbit 29 Maret 2018


 

Reporter: Teuku Dedi Irawan

Editor: GA Guritno

Hendri Firzani
30-03-2018 10:28