Main Menu

Strategi Mendongkrak Produksi Kopi

Sandika Prihatnala
02-04-2018 16:45

Biji kopi yang dijemur.(GATRA/Erry Sudiyanto/re1)

Jakarta, Gatra.com - Meski berperingkat empat besar dalam produksi kopi, Indonesia kesulitan menjaga konsistensi volume produksi dan kualitas. Sistem budi daya tradisional sangat rentan terhadap fenomena alam.

 

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil dan pengekspor kopi besar di dunia. Dari perkebunan kopi seluas 1,25 juta hektare, yang terdiri atas varietas robusta (73%), arabika (27%) dan liberika (kurang dari 1%) Indonesia menghasilkan kopi total 663.871 ton.

Data Kementerian Pertanian hingga triwulan IV tahun 2017 menunjukkan, komoditas kopi menyumbang devisa negara sebesar US$ 1,9 milyar atau sekitar Rp 16,03 trilyun. Sementara total volume ekspor mencapai 467.800 ton. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar ke-4 dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang, menyatakan bahwa kopi merupakan komoditas yang berperanan cukup penting dalam perekonomian nasional. ''Peran kopi di antaranya sebagai penghasil devisa negara, sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, serta mendorong agrobisnis dan agroindustri'', kata Bambang kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA.

Namun, perlu strategi agar kopi nasional berkembang dan produksinya bisa terus meningkat sekaligus menjaga kualitas. Bambang mewacanakan intensifikasi terhadap kopi, rehabilitasi kopi sesuai dengan posisi wilayahnya masing-masing. Misalnya, kopi jenis arabika cocok ditanam di dataran tinggi. Tetapi kenyataanya dataran tinggi masih banyak digunakan untuk mengembangkan kopi robusta. Padahal, kata Bambang, kalau kopi arabika dikembangkan di dataran tinggi akan menghasilkan produksi yang lebih banyak. ''Bisa dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi,'' ujarnya.

Persoalan yang lain, perkebunan kopi di Indonesia kebanyakan adalah perkebunan rakyat dengan persentase 96%, sedangkan swasta 2% dan negara 2%. Kondisi saat ini, menurutnya, banyak perkebunan kopi sudah berusia tua. Produktivitas sudah tidak bagus dan petaninya belum memahami teknik budi daya yang baik. Itu diperparah bila menghadapi anomali iklim (el nino dan la nina). Karena itu, Bambang mengharapkan kemitraan dengan perusahaan tertentu yang bisa berperan memberikan contoh tata kelola budi daya yang baik. Misalnya, dengan membangun embung dan penerapan teknologi.

Sementara itu, untuk peningkatan produksi kopi, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Muhammad Syakir, pemerintah mencanangkan tahun 2017-2018 sebagai tahun perbenihan. Sebanyak 1,7 juta benih kopi bersertifikat akan disalurkan kepada masyarakat secara cuma-cuma.



Editor : Sandika Prihatnala

Untuk mengetahui lebih lengkap cerita tentang kopi Indonesia, Baca Majalah GATRA Edisi Khusus "Selebrasi Kopi Nusantara" No 22/XXIV/2018

Sandika Prihatnala
02-04-2018 16:45