Main Menu

Si Unik dari Lahan Gambut

Birny Birdieni
04-04-2018 22:05

Kopi Liberika Meranti.(Dok. ANTARAnews/re1)

Artikel Terkait

Kepulauan Meranti, Gatra.com- Kalau ada yang menanyakan, kopi mana yang unik? Jawabannya bisa jadi kopi liberika Rangsang Meranti. Pohon kopi ini ditanam hanya di ketinggian 2-5 meter di atas permukaan laut (mdpl). Biasanya, kopi di Indonesia di tanam di dataran tinggi, dengan ketinggian 400-1.500 mdpl. Selain itu, bibit kopi ini pun bisa tumbuh dan berkembang di tanah gambut.


Kebun kopi ini ada di sentra produksi kopi di Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Butuh upaya lebih gigih untuk bisa sampai ke sana.

 

Dari Kepulauan Meranti, Selat Panjang harus menyebrang menggunakan kapal motor ke Pelabuhan Peranggas. Lalu, ke Kedaburapat sejauh 27 kilometer yang ditempuh menggunakan sepeda motor selama 1,5 jam melalui jalan sempit dan berlubang.


Upaya itu terbayar saat GATRA tiba di perkebunan itu, pertengahan Maret lalu. Setelah musim panen Desember silam, pohon kopi di Kedaburapat sedang berbunga. Aroma kopi dari bunga putih mirip melati itu begitu menyengat. Pohon tersebut ditanam di sela-sela pohon pelindung, seperti kelapa, pinang, dan sagu, serta sawit, rambutan, dan mangga.

 

Kopi yang berada di bawah naungan pohon kelapa menambah keunikan dari kopi liberika Rangsang Meranti. ''Semula, pusat (Kementerian Pertanian) tak percaya kalau ada kopi (di sekitar pohon kelapa),'' kata Ketua Harian Masyarakat Peduli Kopi Liberika Rangsang Meranti (MPKLRM), Al Hakim.

 

Semula, peraturan menteri tidak memperbolehkan perkebunan kopi di bawah naungan kelapa. Namun kemudian akhirnya menjadi diperbolehkan.

 

Menariknya lagi, kopi Liberika Rangsang Meranti merambah pasar Malaysia sejak 1985. Mahalnya kopi di Batu Pahat, Johor menjadikan negeri jiran itu tertarik memasarkan komoditas yang dikenal sebagai kopi Sempian tersebut.

 

Pada 1990-an, permintaan kopi itu terus meningkat. Hampir 80% produksi kopi Liberika Rangsang Meranti dijual ke pasar Malaysia lewat aktivitas lintas batas. Rata-rata ekspor ke Malaysia sebanyak 50 ton per tahun. Selama tiga tahun terakhir meningkat menjadi 70 ton per tahun.

 

Sayangnya, biji liberika yang dikirim itu masih berupa kopi beras, yakni biji kering yang sudah dibuang kulit tanduk dan kulit arinya. Di Malaysia, biasanya, kopi Sempian diolah lagi menjadi produk hilir yang kemudian dilempar ke pasar Eropa, Jepang dan Arab Saudi.

 

Berkaca pada kondisi tersebut, perlindungan atas legalitas keaslian kopi liberika Rangsang Meranti menjadi hal penting. Karena itu, pada 2015 lalu MPKLRM mengajukan permohonan hukum indikasi geografis (IG) ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

 

Baru pada 2 Mei 2016 lalu, Sempian pun resmi terdaftar. ''Karena kita punya pasar di luar negeri, kita butuh perlindungan hukum melalui IG,'' kata Hakim.


Editor : Birny Birdieni

 

Untuk mengetahui lebih lengkap cerita tentang kopi Indonesia, Baca Majalah GATRA Edisi Khusus "Selebrasi Kopi Nusantara" No 22/XXIV/2018

Birny Birdieni
04-04-2018 22:05