Main Menu

Kopi Wong Kito Galo

Birny Birdieni
04-04-2018 22:17

Petani kopi Semendo memetik buah kopi semendo di area perkebunan kopi Semendo Darat Ulu Muara Enim,Sumatera Selatan.(ANTARA/Feny Selly/re1)

Artikel Terkait

Muara Enim, Gatra.com- Di tengah teriknya matahari siang hari, menyajikan es kopi Semendo bisa menjadi pilihan untuk menyegarkan hari. Varian minuman dengan rasa berat dan kadar kafein cukup tinggi ini bisa disajikan dengan cara "tubruk". Ataupun dengan cara modern mencampurkan susu segar menjadi cappucino, latte, ataupun espresso.


Penyajian kopi Semendo seperti itu menjadi menu primadona kedai Coffeephile yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani 30D, Palembang. Menurut sang pemilik, Asep Somanhudi, varietas bertekstur halus ini termasuk yang terbaik. ''Robusta Semendo bagus menjadi bahan dasar minuman kopi lain,'' alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya itu mengungkapkan.

 

Robusta Semendo bisa menghasilkan rasa karamel, kacang, dan cokelat. Bahannya pun mudah didapat. Namun kedai kopi terfavorit versi Badan Eknomi Kreatif itu lebih memilih membeli biji kopi dari petani untuk langsung disangrai dan digiling sendiri.

 

Varietas kopi ini sudah lama menjadi primadona di Sumatera Selatan, khususnya di kisaran Muara Enim dan Palembang. Bahkan, merek lokal berbahan robusta Semendo, Kopi Sendok, telah hadir sejak 1982 dan sekarang dikelola generasi penerus kedua, Abu Bakar Syukri Assegaf. Hingga kini, gudang roastery-nya di Lorong Fuad, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan 16 Ulu, Palembang, pun masih menerapkan metode pemasakan secara tradisional.

 

Kehadiran kopi robusta Semendo punya sejarah lama dengan masyarakat Sumatera Selatan. ''Bagi orang Sumsel, robusta Semendo merupakan minuman masyarakat,'' ujar putra kedua dari pemilik awal, Sayyid Jakpar Assegaf, itu. Kopi robusta lebih tenar di sana dibandingkan dengan arabika.
Jejak sejarah mencatat, kopi masuk ke Semendo, Muara Enim, pada 1929.

 

Dalam catatan budayawan Mady Lani, komoditas ini pertama kali ditanam saat penjajah Belanda membawanya dalam bentuk bibit. Ketika itu, Gubernur Jenderal van den Bosch menerapkan sistem tanam paksa kopi di kawasan Sumatera termasuk di Muara Enim. Peninggalannya terlihat dengan ada bangunan mirip pabrik kopi, namun belum teridentifikasi lebih detail mengenai bangunan itu.

 

Tanaman kopi Semendo tumbuh di empat kecamatan Muara Enim, yakni Tanjung Agung, Semendo Darat Lalut, Semendo Tengah, dan Semendo Darat Ulu. Tanaman ini memiliki luas lahan sebesar 23.108 hektare. Kemampuan produksi robusta mencapai 24.738 ton per tahun dan arabika sampai 500 ton per tahun.

 

Robusta Semendo bisa tumbuh di bawah ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Sedangkan arabika tumbuh pada area ketinggian 1.000-1.500 meter dpl, dan itu hanya ada di Semendo Darat Ulu.

 

Kebun milik Tengku Avif Udin di Desa Semendo Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, merupakan salah satu wilayah yang berhasil membudidayakan kedua jenis kopi itu. Kebun terhampar di ketinggian 1.300-1.500 meter dpl. Menurut petani yang mulai menggeluti tanam sejak 1997 itu, kedua komoditas tersebut memiliki perlakuan tanam sama.

 

Proses penanaman dimulai dengan pembuatan lubang tanam dengan harga bibit kopi standar sekitar Rp3.000/batang. Keduanya ditanam berjarak 1,5 meter. Lalu di antara masing-masing pohon kopi perlu tanaman pelindung, seperti dedal, lamtoro, atau petai.

 


Editor : Birny Birdieni


Untuk mengetahui lebih lengkap cerita tentang kopi Indonesia, Baca Majalah GATRA Edisi Khusus "Selebrasi Kopi Nusantara" No 22/XXIV/2018

Birny Birdieni
04-04-2018 22:17