Main Menu

Ke Luar Negeri Mencari Pasar

Birny Birdieni
29-04-2018 07:40

Adrian Gunadi, CEO Investree (reuters.com/yus4)

Jakarta, Gatra. com- Sejumlah perusahaan teknologi finansial (fintech) kini mulai meluaskan sayap bisnis mereka ke luar negeri. Salah satunya Investree, yang bergerak di jasa peminjaman uang berbasis peer-to-peer (P2P). Investree bahkan termasuk agresif. Januari lalu, perusahaan ini sudah resmi bercokol di Vietnam. Investree menggandeng perusahaan lokal Vietnam dan meluncurkan aplikasi bernama eloan.vn. Sama seperti di Indonesia, aplikasi ini juga menawarkan layanan pinjaman P2P yang ditujukan ke pasar UMKM.

 

Penyaluran dana mereka juga besar. Meski baru empat bulan beroperasi di sana, tidak tanggung-tanggung Investree sudah menyalurkan sampai US$4 juta atau setara Rp55 milyar. Mengapa bisa dana sebesar itu hanya dalam empat bulan? Sederhana saja. Menurut Adrian Gunadi, CEO Investree, pasar Vietnam memiliki karakteristik yang sama seperti Indonesia. "Mereka tidak memiliiki banyak alternatif pembiayaan di luar bank," katanya. 

 

Vietnam bukan satu-satunya negara target ekspansi. Semester II/2018 ini Investree juga akan melakukan ekspansi ke negara lain di kawasan ASEAN. Adrian belum mau menyebutkan secara spesifik nama yang akan jadi tujuan. Hanya ia memberi sinyal yang mengerucut pada dua negara yaitu, Thailand atau Filpina. "Dua negara itu mirip dengan Indonesia dalam hal financial inclusion," katanya.

 

Investree mendapatkan dana antara lain dari Kejora Ventures, perusahaan modal ventura yang sering mendanai perusahaan startup. Ekspansi ke dua negara di kawasan Asia Tenggara ini juga sejalan dengan visi Kejora Ventures yang menjadikan Asia Tenggara sebagai wilayah operasi. Investree, yang baru berusia dua tahun, ini sudah menyalurkan pinjaman dengan nilai total mencapai Rp600 milyar. Mereka juga menargetkan pada akhir 2018 bisa menyalurkan pinjaman dengan nilai total Rp1 trilyun.

 

Selain Investree, perusahaan fintech lain yang juga menerapkan strategi ekspansi ke Asia Tenggara adalah DOKU, yang bergerak di sektor pembayaran elektronik. Tahun ini DOKU menargetkan ekspanssi ke tiga negara sekaligus yaitu, Taiwan, Malaysia, dan Singapura. Anistasya Kristina, VC Public Relatios DOKU, mengatakan kalau mereka sudah menetapkan target tiga negara tersebut. "Sekarang kami sedang mencari partner," katanya.

 

Bagi DOKU ini juga bukan pertama kali mereka berekspansi ke luar negeri. Dua tahun lalu, DOKU bahkan sudah beroperasi di Hong Kong. Perusaahaan ini terutama membidik segmen buruh migran yang membutuhkan payment gateway untuk mengirim uang ke kampung halaman.

 

Jalur agak berbeda ditempuh Modalku, perusahaan fintech lain yang juga beroperasi di jasa peminjaman P2P. Modalku awalnya justru pertama kali didirikan di luar negeri, di Singapura, pada 2015, dengan nama Funding Societies. Pendirinya, yaitu Reynold Wijaya dan Kelvin Theo, ketika itu masih berstatus mahasiswa di sekolah bisnis Harvard. Baru pada 2016 mereka mendirikan Funding Societies di Indonesia dan diberi nama Modalku. Setahun kemudian, pada 2017, Modalku pun ekspansi ke Malaysia.

 

Chief Operating Officer (COO) Modalku, Iwan Kurniawan, mengatakan keputusan untuk ekspansi ke Malaysia karena ada kesamaan dari segi pasar, terutama segmen UMKM yang mejadi target pembiayaan Modalku. "Pertama ukuran pasar, kedua maturity pasar tersebut," katanya. 

 

Untuk pasar Malaysia, kata Kurniawan, jumlah UMKM-nya memang lebih sedikit, hanya sekitar 10 juta dibandingkan dengan Indonesia yang sampai 56 juta. Namun jumlah pemain terbatas. Pasalnya pemerintah Malaysia menetapkan sistem kuota dan hanya membolehkan enam perusahaan bermain di jalur pembiayaan P2P. Sementara jumlah pemain yang berminat masuk mencapai 50 perusahaan.

 

Modalku berhasil menjadi salah satu dari enam perusahaan yang diperbolehkan beroperasi di Malaysia. Mereka mendirikan Modalku Ventures Sdn. Bhd., dipimpin oleh CEO warga lokal, Kah Meng Wong. Menurut Iwan, kehadiran CEO lokal tersebut jadi faktor penting dalam memahami dinamika yang berlangsung di Malaysia. "Kami mulai beroperasi di Malaysia awal 2017," jelas Iwan.

 

Mengapa banyak perusahaan fintech ekspansi keluar negeri? Jawabannya karena mencari peluang yang lebih baik. Handojo Triyanto, Senior Research Manager dari lembaga riset IDC Financial Insight, mengatakan bahwa industri fintech di Indonesia termasuk sangat cepat berkembang dibanding negara lain di Asia Tenggara.

 

Untuk fintech jasa payment dan lending, menurut Handojo, Indonesia termasuk sangat mature, baru setelah itu jasa marketplace, wealth management, solusi perusahaan dan accounting-based software. "Di Indonesia sudah sangat bervariasi berbagai jenis fintech, karena itu banyak yang mengembangkan ke luar negeri," katanya.

 

Tingkat kematangan ini, menurut Handojo, karena Indonesia memang pasar yang besar hingga banyak pemain global seperti Google, Alibaba, dan berbagai perusahaan modal ventura, terjun masuk. Eksposure itu menyebabkan industri fintech Indonesia berkembang pesat dan akhirnya mencari peluang ke luar negeri. "Mereka mencari peluang di negara lain yang jenis fintechnya masih sedikit," katanya.

 

Memang tidak semua fintech memilih strategi ekspansi. Amartha, salah satu fintech yang juga bergerak di jasa peminjaman P2P, termasuk yang lebih memilih bermain di tingkat lokal terlebih dulu. Tahun ini Amartha memang juga melakukan ekspansi, tapi tidak ke luar negeri, melainkan ke luar pulau Jawa.

 

Amartha memiliki segmen pasar yang kurang lebih sama dengan Investree maupun Modalku, yaitu pada pembiayaan UMKM. Perbedaannya, mereka lebih menarget segmen pengusaha mikro di kecamatan atau desa-desan terpencil. Karakter lain, peminjam di Amartha harus membuat kelompok antara 15-25 orang.

 

Brand Manager Amartha, Lydia Kusnadi, mengatakan bahwa mereka melihat pasar dalam negeri masih belum sepenuhnya dieksplorasi. "Kami optimis akan lebih maju bila di pasar Indonesia daripada terlalu cepat ekspansi ke luar negeri," katanya.


JReporter: APP dan ASH

Editor: Basfin Siregar

 

 

 

Birny Birdieni
29-04-2018 07:40