Main Menu

Ketua MPR Ajak Mahasiswa UMKT Agar Bantu Edukasi Politik

Gandhi Achmad
13-09-2018 23:12

Ketua MPR Zulkifli Hasan di Kampus UMKT. (Dok. MPR/re1)

Samarinda, Gatra.com – Kehadiran Ketua MPR Zulkifli Hasan di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), langsung disambut meriah oleh ratusan mahasiswa yang sudah berkumpul di auditorium kampus di Jalan Juanda, Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (13/9) siang. Mereka hadir untuk mengikuti sosialisasi Empat Pilar MPR yang akan disampaikan Zulkifli Hasan.

 

Acara pun dihadiri Rektor UMKT Prof. Bambang Setiaji dan para pimpinan Muhammadiyah Majelis Wilayah Kalimantan Timur. Di awal sambutan, Bambang mengatakan hadirnya Zulkifli Hasan merupakan kesempatan yang langka. Untuk itu diharapkan para mahasiswa menggunakan kesempatan sosialisasi itu dengan baik.

 

Ketika tampil di depan para peserta sosialisasi, mantan menteri kehutanan itu menyebut bahwa soal pengamalan nilai-nilai empat pilar, Muhammadiyah sudah khatam. "Muhammadiyah sudah melaksanakan Empat Pilar,” katanya.


Dicontohkan, sekolah dan perguruan tinggi yang dikelola Muhammadiyah, terutama yang berada di Indonesia bagian timur, peserta didiknya tak hanya umat Muslim, pemeluk agama lainya juga banyak. "Bahkan di Indonesia timur peserta didik perguruan Muhammadiyah mayoritas adalah non-Muslim," ungkapnya. Jadi dari sini Muhammadiyah hadir untuk bangsa dan negara.


Tak hanya itu yang dicontohkan oleh pria asal Lampung itu. Dalam memilih ketua, menurut Zulkifli Hasan, Muhammadiyah menggunakan jalan musyawarah untuk mufakat sehingga tak ada unsur intimidasi atau iming-iming. Dari semua yang sudah dilakukan oleh organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu maka dirinya menyebut, "kalau Indonesia mau maju, belajarlah pada Muhammadiyah,” ucap Zulkifli.

 

Zulkifli mengungkapkan bahwa Indonesia didirikan oleh kaum intelektual. Karena didirikan oleh kaum intelektual maka gagasan berbangsa dan bernegara sangat maju ke depan. "Tahun 1945 kita sudah memikirkan negara kesejahteraan," katanya. Masalah ini menurutnya baru dibicarakan oleh negara lain 20 tahun kemudian.


Sebagai kaum intelektual, para pendiri bangsa benar-benar memikirkan bangsa, negara, dan rakyat. Agus Salim, salah satu pendiri bangsa bahkan menyebut, menjadi pemimpin adalah jalan menderita. Keteladanan dari para pendiri bangsa dikatakan Zulkifli Hasan tak hanya dalam kepemimpinan.


Dalam pergaulan, sikap para intelektual itu dikatakan perlu ditiru. "Meski IJ Kasimo dari Partai Katolik dan Natsir dari Masyumi namun mereka bersahabat," ungkapnya. Meski Buya Hamka dan Soekarno pernah berseteru namun ketika Soekarno wafat, Hamka yang menyolatkan.

 

Sikap para pendiri bangsa itu menurut pria yang akrab disapa Bang Zul ini, sesuai dengan cita-cita Indonesia merdeka, yakni bersatu, berdaulat, adil, dan setara. Setelah Indonesia merdeka 73 tahun, dirinya merasakan apa yang diteladankan para pendiri bangsa itu mulai pudar. "Kepemimpinan kita sekarang berbeda dengan masa lalu," ucapnya.

 

Zulkifli Hasan mengharapkan para pemimpin atau pejabat melayani rakyat. Hal demikian perlu sebab mereka disumpah untuk taat pada konstitusi. "Taat pada konstitusi adalah mencerdaskah kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut menciptakan perdamaian dunia," katanya.


Dari sinilah tak boleh ada rakyat kelaparan, tak bisa sekolah, dan tak bisa berobat. "Jadi kalau ada mahasiswa UMKT yang tak bisa bayar uang kuliah, jangan dikeluarkan," imbuhnya. "Karena tugas kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa," tambahnya.

 

Zul bercerita, problem yang dihadapi bangsa ini tak hanya itu. Diungkapkanya, meski Indonesia negeri yang kaya namun kita dalam berbagai hal khususnya kesejahteraan kalah dengan negara lain. Padahal negara itu tak memiliki kekayaan alam, tambang, sungai, gunung, dan hutan. "Singapura, sungainya saja buatan," ungkapnya.


Menurut Zulkifli Hasan majunya sebuah bangsa ditentukan oleh orang atau SDM-nya bukan kekayaan alamnya. "Singapura tak memiliki kekayaan alam namun mereka memiliki SDM yang mampu menjawab tantangan zaman," ucap Zulkifli.


Untuk itu dirinya meminta agar para mahasiswa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. "Apalagi kalian kuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Kalimantan Timur," Zulkfli berkata. Ilmu pengetahuan dan teknologi bagi Zulkifli Hasan sangat penting dikuasai apalagi di era tarung bebas antar negara ini.


Dirinya meminta mahasiswa tak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dikatakanya, di tahun politik ini diharap mahasiswa menjadi agen perubahan. Para mahasiswa ditekankan menyampaikan kepada masyarakat hak politik, memilih dan dipilih. "Sampaikan kepada masyarakat hak politik secara bertanggungjawab," jelasnya.


Dimaksud dengan hak politik yang bertanggungjawab adalah, masyarakat peduli politik, pemilu, dengan mengetahui asal-usul calon yang hendak dipilih. "Hak pilih kita jangan ditukar sembako, sarung, dan uang," imbuhnya.


Untuk itu dirinya berharap mahasiswa membantu pendidikan politik pada masyarakat mengenai pentingnya hak dan kewajiban warga negara.


 

ADV

Gandhi Achmad
13-09-2018 23:12