Main Menu

Polri Bekuk Sindikat Muslim Cyber Army, Ujaran Kebencian Musuh Bersama Dunia

Dara Purnama
27-02-2018 16:20

Komjen Ari Dono Sukmanto(GATRA/Erry Sudiyanto/re1)

Jakarta, Gatra.com- Direktorat Siber Bareskrim Polri bersama Direktorat Keamanan Khusus (Kamsus) BIK melakukan penangkapan sindikat pelaku ujaran kebencian secara serentak yang tergabung dalam Muslim Cyber Army (MCA).  Mereka diduga menyebarkan berita bohong terkait penyerangan terhadap ulama.

 

Kelima orang yang diamankan pada Senin (26/2) itu ditangkap dari lima kota, mulai Jakarta, Bandung, serta Bali, Pangkal Pinang dan Palu. Mereka adalah ML (40), RSD (35), RS (39), Yus (23) dan RC. 

 

Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri, Komjen Ari Dono Sukmanto menegaskan bahwa hasil penyelidikan jajarannya, sindikat itu memang diduga kerap menyebarkan isu provokatif di media sosial. Mulai dari isu kebangkitan PKI, penculikan ulama, dan pencemaran nama baik presiden hingga tokoh publik lainnya.

 

Selain ujaran kebencian, sindikat ini ditenggarai juga mengirimkan virus kepada kelompok atau orang yang dianggap musuh. Virus ini biasanya merusak perangkat elektronik penerima. 

 

“Pengungkapan atas penangkapan dari pelaku ujaran kebencian kelompok MCA yang tergabung dalam grup ‘TFMCA’ membuktikan ujaran kebencian merupakan kejadian luar biasa di Indonesia. Terutama mengenai kondisi kejiwaan sebagian dari masyarakat Indonesia,” kata Ari dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (27/2).

 

Ari menyayangkan kondisi tersebut. “Terlebih lagi saat masyarakat Indonesia lainnya malah merelakan diri untuk memakan ‘gorengan’ dari sindikat itu. Efeknya, jadi ikut-ikutan menyebarkan ujaran kebencian dan hoaks,” ia menjelaskan.

 

Untuk itu, Ari menegaskan bahwa aparat tidak akan berhenti memberangus ujaran kebencian di dunia maya dan dunia nyata. Ini bukan komitmen Indonesia saja, namun menjadi musuh bersama di dunia. 

 

Bahkan dalam "International Day for the Elimination of Racial Discrimination" yang diteken 20 Maret 2017 lalu, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sudah menyepakati untuk memerangi ujaran kebencian. Isinya menegaskan perlawanan secara bersama di seluruh dunia atas ujaran kebencian. "Tak peduli jika kemudian pelakunya berasal dari suku, agama, ras, golongan bahkan kebangsaan apapun,” tegas Ari.

 

Polisi menangkap para tersangka dengan dugaan telah melakukan tindak pidana sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi SARA dan atau dengan sengaja dan tanpa hak menyuruh melakukan tindakan yang menyebabkan terganggunya sistem elektronik dan atau membuat sistem elekteonik tidak bekerja sebagaimana mestinya.

 

Mereka terancam dikenai pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) UU ITE 11/2008 ITE, pasal jo pasal 4 huruf b angka 1 UU 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau pasal 33 UU ITE.

 

“Sekali lagi Polri mengingatkan, hentikan menyebarkan hoaks, ujaran kebencian. Hentikan “kegilaan” yang menggaduhkan ini. Jika tidak, Polri bersama institusi lainnya serta regulasi yang sudah ada, siap memberangus “pemberontak” seperti ini,” kata Ari.

 


Reporter : DPU

Editor : Birny Birdieni

 

Dara Purnama
27-02-2018 16:20