Main Menu

Din Syamsudin: Pancasila Cocok Menjadi Ideologi Dunia

Hendri Firzani
14-03-2018 18:15

Din Syamsudin (GATRA/Arif Koes Hernawan/yus4)

Yogyakarta, Gatra.com - Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban Din Syamsudin mengatakan banyak tokoh dunia yang menganggap nilai-nilai Pancasila cocok menjadi ideologi dunia. Tantangan terbesar mewujudkannya adalah pembuktian secara empiris di Indonesia.

 

Pernyataan ini disampaikan Din dalam pidato kebangsaan pada Milad Akbar ke-54 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (14/3).“Peradaban dunia saat ini sudah berubah. Para ahli menyatakan dunia mengalami ketidakteraturan dan ketidakpastian. Kondisi ini menjadi gangguan besar dan mampu menghadirkan pergeseran pada peradaban besar,” ujar Din.

Menurutnya, kondisi ini karena hilangnya pengakuan manusia terhadap Tuhan. Manusia saat ini merasa jadi makhluk paling bisa, paling berkuasa, dan menganggap dirinya sebagai pusat kehidupan dan kesadaran. Padahal pandangan ini bertentangan dengan ajaran Tuhan.

Dengan kondisi itu, lanjut Din, sebuah bangsa yang terdiri atas berbagai latar belakang agama, budaya, bahasa, suku, dan ras menjadi tidak harmonis. Din menjelaskan, paham liberal yang berakar dari humanisme sekuler membuat individualisme semakin besar dan mengikis kemajemukan umat manusia.

 

“Meski belum menjadi arus utama, Pancasila dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika dianggap satu ideologi besar yang mampu menjawab tantangan dunia,” katanya. Pancasila terbukti menjadi penyatu utama bangsa Indonesia yang majemuk, beragam, dan memiliki kesepakatan untuk hidup bersama.

Din menyatakan meski diagungkan dunia, nilai-nilai Pancasila mendapat tantangan untuk dibuktikan secara empiris saat ini. Pembuktian nyata nilai-nilai Pancasila harus berasal dari Indonesia.

“Pancasila saat ini dianggap kristalisasi nilai-nilai agama, namun di dalam negeri banyak yang mempertentangkan, terutama dengan Islam. Ini memprihatinkan,” kata mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.

Menurut Din, ada pihak tertentu yang saat ini sengaja menghadapkan agama Islam dan Pancasila seperti pada periode 1950-an sampai 1970-an. Din juga mengatakan bahwa adalah suatu kebodohan, jika mempetentangkan Pancasila dan Islam.

Di hadapan anggota IMM, Din meminta mereka untuk membuktikan secara nyata nilai Pancasila yang dianggap bagus, baik, dan jadi jati diri bangsa Indonesia.

"Tidak cukup hanya dihafalkan, disematkan ke kata-kata, namun nyata diamalkan dalam kehidupan," ujarnya


Reporter : Arief Koes 

Editor: Mukhlison S Widodo

Hendri Firzani
14-03-2018 18:15