Main Menu

Bencana Gerakan Tanah Sebabkan 12 rumah Rusak, 6 Keluarga Mengungsi

Hendri Firzani
20-03-2018 18:31

Ilustrasi pergerakan tanah (Antara/Dedhez Anggara/yus4)

Cilacap, Gatra.com – Bencana gerakan tanah yang terus berlangsung di Dusun Pamuntuan Desa Cijati Kecamatan Cimanggu Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah menyebabkan 12 rumah rusak. enam keluarga diantaranya mengungsi ke tempat lebih aman.

 

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) wilayah Majenang, Edy Sapto Priyono mengatakan selain merusak 12 rumah, gerakan tanah di Dusun Pamuntuan juga menyebabkan satu sekolah SD rusak. Namun, gedung SD bisa ditempati lantaran hanya mengalami rusak ringan.

 

“Ada pergerakan tanah susulan, kemarin beberapa kali, dua kali atau tiga kali. Menyebabkan beberapa rumah retak-retak. Sampai sekarang jumlah keseluruhan ada 12 rumah yang rusak,” katanya, Selasa (20/3). Edy menjelaskan, dari tiga keluarga yang mengungsi tersebut, dua di antaranya terpaksa mendirikan gubuk di halaman rumah lantaran khawatir rumah mendadak ambruk dan membahayakan nyawa.

 

12 keluarga yang rumahnya rusak itu adalah, Waskam Purwono, Endang sujarmato, Sutarno, Tasminto, Ruswo alias Ruswanto, Carsum, Yadi heryadi, Triawan, Warsono, Katur Al Karwinto, Raskem, dan Kaswa aliasTarsono. “Jadi kemarin yang sudah mengungsi ke rumah tetangga. Kemarin, Sejak Bulan Desember hingga Maret, akhir Februari, intensitas hujan kan sangat tinggi,” ujarnya.

 

Perkembangan terakhir, enam keluarga terpaksa direlokasi lantaran gerakan tanah sudah amat berbahaya. Edy Sapto Priyono menerangkan, gerakan tanah telah dilaporkan pertama kali pada Februari 2017 lalu. Gerakan tanah berlangsung pelan dan sempat berhenti. Namun, pada awal hingga akhir dasarian kedua Maret kembali terjadi gerakan tanah beberapa kali sehingga kerusakan bertambah parah.

 

Menurut dia, permukiman penduduk berada di tanah dengan kemiringan yang terlampau curam. Namun, ada rembesan air ke tanah yang berasal dari mata air di bagian atas permukiman. Sebab itu, gerakan tanah mudah terjadi. Selain itu struktur tanah di daerah ini juga labil. “Sebenarnya tidak curam banget. Tapi ada mata air di atas. Tanahnya jadi berat sehingga mudah bergerak,” jelasnya.

 

Sebagai penanggulangan awal, Edy menambahkan, BPBD telah melakukan assesment dan menggelar kerjabakti bersama warga untuk mendirikan gubuk pengungsian. Koordinasi dengan Pemerintah Desa cijati pun sudah dilakukan untuk pengajuan usulan survei geologi untuk mempertimbangkan perlu tidaknya relokasi. BPBD juga mengimbau agar warga waspada jika turun hujan lebat yang dapat memicu gerakan tanah susulan.


 

Reporter: Ridlo Susanto

Editor: Hendri Firzani 

Hendri Firzani
20-03-2018 18:31