Main Menu

Efek Kebijakan Duterte, Indonesia Jadi Pasar Utama Narkoba

Abdul Rozak
21-03-2018 11:23

Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi bersama Kepala BNN Irjen Pol Heru Winarko. (GATRA/Abdul Rozak/FT02) 

Jakarta, Gatra.com - Pemerintah mengklaim telah mengamankan berbagai jenis narkoba sebanyak 2,5 ton yang akan masuk ke tanah air. Capaian itu diraih hanya dalam waktu 2,5 bulan di tahun 2018.

 

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi mengatakan narkoba diamankan melalui operasi gabungan antara Bea Cukai, Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri. Heru mengaku prihatin Indonesia kini menjadi market utama sindikat narkoba.

"Dalam tiga bulan kita mengamankan 2,5 ton narkoba. Selama satu tahun kemarin (2017) tertangkap tiga ton," kata Heru di kepada wartawan di Jakarta Pusat, Rabu (21/3).

Sindikat narkoba, lanjut Heru, memilih Indonesia menjadi pasar utama karena harga barang haram tersebut sangat tinggi, mencapai Rp 1 - 2 juta per gram untuk sabu. Sementara itu di China sabu dijual hanya Rp 20.000 per gram.

Selain harga yang fantastis, kebijakan tembak mati Presiden Philipina Rodrigo Duterte membuat sindikat narkoba kalang kabut di negara tersebut. Sehingga pasar utam narkoba dialihkan dari Philipina ke Indonesia.

"Di Philipina sindikat narkoba kalang kabut karena Presiden Duterte. Makanya dipindah ke Indonesia," pungkas Heru.


Reporter : Abdul Rozak

Editor : Sandika Prihatnala

Abdul Rozak
21-03-2018 11:23