Main Menu

Riset Terapan Universitas di Indonesia Rendah Kata Menteri Nasir

Mukhlison Sri Widodo
23-03-2018 04:10

Kuliah umum Menristekdikti Muhammad Nasir di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir mengeluhkan rendahnya riset terapan oleh penguruan tinggi. 

Kementerian akan menata kembali peraturan tentang riset di universitas.

Keluhan itu disampaikan Menristekdikti saat memberi kuliah umum di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Kamis (22/3).

“Kualitas riset perguruan tinggi Indonesia masih kalah jauh dengan Singapura dan Thailand. Mutu riset juga sangat rendah meski mengeluarkan banyak biaya,” ujarnya.

Menteri Nasir menambahkan, saat ini kebanyakan riset perguruan tinggi di Indonesia adalah riset dasar, bukan riset terapan, apalagi riset innovatif yang canggih.

Sebagai contoh, Kemenristekdikti mencatat pada 2014 ada 107 riset inovatif yang menelan biaya hingga Rp 1,2 trilyun. 

Sayangnya dari total riset itu, hanya tujuh yang diterapkan ke dunia industri. Selebihnya, tidak bisa diaplikasikan.

"Karenanya perlu dilakukan perubahan. Riset, ke depan, harus didekatkan dengan demand side. Harus memperhatikan betul market driver-nya seperti apa," ujar Nasir.

Selain riset, Kemenristekdikti juga mendorong peningkatan kualitas perguruan tinggi melalui akreditasi. 

Jumlah perguruan tinggi swasta yang mengantongi akreditasi institusi 'A' saat ini hanya sembilan.

Jumlah ini dianggap sudah cukup baik karena sebelumnya hanya dua perguruan tinggi swasta yang memiliki akreditasi institusi 'A'.

Sebagai upaya meningkatkan perguruan tinggi berakreditasi ‘A’, Kemeristekdikti menghilangkan dikotomi antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta.

Menurutnya, ni harus dilakukan sebagai salah satu upaya mengejar ketertinggalan kualitas perguruan tinggi Indonesia dibandingkan perguruan tinggi di negara tetangga. 

“Apalagi, undang-undang pendidikan kita membolehkan adanya perguruan tinggi asing di Indonesia, sehingga  dipastikan persaingan akan semakin sengit," paparnya.

Rektor UAD Kasiyarno mengemukakan, kampus UAD saat ini telah mengantongi akreditasi institusi 'A'. 

Untuk program studi,  tinggal beberapa yang berakreditasi 'C'. Belasan program studi telah mengantongi akreditasi 'A' dan sisanya akreditasi 'B'.

"Kami mengharapkan dalam waktu tak terlalu lama, akreditasi 'C' itu bisa menjadi 'B' atau 'A'. Kami optimistis harapan itu bisa tercapai," tuturnya.

Di bidang riset, Kasiyarno membanggakan UAD menjadi perguruan tinggi swasta di Yogyakarta yang menerima hibah penelitian paling banyak dari Kemenristekdikti.

Pada 2016-2017, ada 80 judul penelitian dan pada 2017-2018 meningkat menjadi 115 judul dengan dana hibah sebesar Rp 6,247 milyar.

"Kami juga mengucurkan dana penelitian secara internal sebesar Rp9 milyar rupiah di luar dana hibah tersebut," katanya.


Reporter : Arif Koes

Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
23-03-2018 04:10