Main Menu

Tokoh NU-Muhammadiyah Ajak Umat Islam Maafkan Sukmawati

Mukhlison Sri Widodo
04-04-2018 16:40

Din Syamsuddin. (GATRA/Ardi Widi Yansah/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Ulama dua organisasi masyarakat Islam terbesar Indonesia, NU dan Muhammadiyah, mengajak masyarakat untuk tidak menyikapi secara berlebihan puisi Sukmawati Soekarnoputri yang dinilai menodai agama Islam.

 

Ulama Muhammadiyah sekaligus Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban Muhammad Sirajudin Syamsuddin atau Din Syansuddin menyatakan Sukmawati telah menemui dirinya pada Selasa, (03/4) kemarin.

“Secara khusus dia meminta nasehat,” kata mantan Ketua PP Muhammadiyah itu usai menghadiri pertemuan dengan pengurus PBNU di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Rabu (04/3).

Din mengakui bahwa ada bagian dari puisi Sukma yang sangat mudah disimpulkan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Ia pun meminta Sukmawati untuk meminta permohonan maaf kepada masyarakat.

Menurut Din, Sukma juga berjanji mendalami Islam secara lebih jauh  karena memang pengetahuannya sangat terbatas. Din pun mengajak umat Islam memaafkan Sukma.

“Marilah sebagai umat Islam kita berikan maaf dan memberikan dakwah secara baik-baik. Ketidakpahaman Sukma hingga melahirkan puisi itu merupakan tanggung jawab kiai maupun ulama,” ujarnya.

Ketua Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud melihat puisi yang disampaikan Sukmawati adalah gambaran Indonesia sesungguhnya. Menyikapi hal ini, ia mengajak ulama dan kiai makin aktif berdakwah.

Marsudi melihat polemik puisi Sukmawati ini sebenarnya kasus biasa. Namun karena diksi dalam puisi harus dibaca dengan rasa, ada perbedaan dan perbandingan di antara pembaca karya tersebut.

“Saya melihat apa yang dituliskan Sukmawati dalam puisinya adalah kenyataan kehidupan bangsa Indonesia sekarang ini,” kata Marsudi. 

Marsudi menilai Sukma ingin menampilkan manusia Indonesia saat ini, yakni ada yang menyenangi wanita yang memakai konde dibandingkan jilbab dan cadar, begitu pula sebaliknya.

Demikian juga soal azan dan kidung, menurut Marsudi, ada yang menyukainya dan ada yang tidak. Perbedaan ini merupakan anugerah Tuhan dan menjadikan Indonesia bangsa besar.

“Pesan inilah yang ingin disampaikan Sukma kepada kita,” ujarnya.

Marsudi meminta kalangan ulama tidak usah merespon secara berlebihan apalagi dengan marah-marah puisi ini. 

Ia mengajak ulama untuk mengevaluasi lagi cara berdakwah agar masyarakat bisa menerima dakwah dengan baik dan mengetahui keindahan Islam.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
04-04-2018 16:40