Main Menu

Kejagung Akan Kirim Penyidik ke Australia untuk Kumpulkan Bukti Korupsi Karen

Iwan Sutiawan
06-04-2018 22:14

Jaksa Agung H Muhammad Prasetyo. (GATRA/Iwan Sutiawan/re1)

Jakarta, Gatra.com - Kejaksaan Agung (Kejagung) akan mengirim penyidik ke Australia atau negara-negara lainnya untuk mengumpulkan bukti kasus dugaan korupsi investasi PT Pertamina (Persero) yakni pembeliah saham perusahaan pengelola Blok Basker Manta Gummy (BMG), Australia, tahun 2009.

"Oh iya, sejauh mana yang diperlukan kita akan lakukan. Saya katakan tadi, proses penanganan kasus ini sudah berlangsung cukup lama," kata Jaksa Agung H Muhammad Prasetyo di Jakarta, Jumat (6/4).

Menurutnya, proses hukum mulai dari penyelidikan hingga penyidikan dan petapan tersangka dalam kasus korupsi ini relatif lebih lama, karena Kejagung sangat hati-hati agar bisa membuktikan di pengadilan.

"Ini bukti kehati-hatian kita, kita tidak grasa-grusu. Kita berusaha mengumpulkan alat bukti sebanyak mungkin, keterangan saksi-saksi, surat, petunjuk, dan keterangan dari ahli. Semua akan kita minta supaya semuanya lengkap dan kita yakin semua unsur-unsur terpenuhi," katanya.

Dalam kasus dugaan korupsi investasi PT Pertamina (Persero) di Blok BMG Australia tahun 2009 tersebut Penyidik Pidana Khusus Kejagung telah menetapkan 4 orang tersangka, yakni mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Karen Galaila Agustiawan sesuai surat perintah penydikan (sprindik) Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018, tanggal 22 Maret 2018.

Kemudian, Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina (Persero), Genades Panjaitan (GP) berdasarkan Sprindik Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Nomor: Tap-14/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Selanjutnya, mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Frederik Siahaan (FS) berdasarkan sprindik Nomor: Tap-15/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Kasus ini berawal saat PT Pertamina (Persero) mengakuisisi (investasi non-rutin) yakni pembelian sebagian aset (Interest Participating/IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project, tanggal 27 Mei 2009.

Namun dalam pelaksanaannya diduga terjadi penyimpangan yakni dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi serta pengambilan keputusan investasi tanpa adanya studi kelayakan berupa kajian secara lengkap atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris.

Akibatnya, peruntukan dan penggunaan dana sejumlah US$ 31.492.851 serta biaya-biaya yang timbul lainnya sejumlah AU$ 26.808.244 tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan bagi korporasi perusahaan plat merah di bidang migas itu dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional.

Hal tersebut juga merugikan keuangan negara sebesar US$ 31.492.851 dan AU$ 26.808.244 atau setara dengan Rp 568.066.000.000 sesuai perhitungan yang dilakukan akuntan publik. "Sampai sekarang sudah 67 saksi diperiksa oleh penyidik," kata M Rum, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung.

Kejagung menyangka mereka melanggar Pasal 2 Ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan seorang tersangka lainnya adalah mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero), inisial BK berdasarkan sprindik Nomor: TAP-06/F.2/Fd.1/01/2018, tanggal 23 Januari 2018.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
06-04-2018 22:14