Main Menu

Mensos : Pendidikan Anak di RSPA Tanggung Jawab Negara

Bernadetta Febriana
16-04-2018 17:45

Kunjungan Mensos Idrus Marham ke RSPA di Mataram (dok. Humas kementerian sosial/yus4)

Mataram, gatra.com- Menteri Sosial Idrus Marham melakukan kunjungan ke Rumah Sosial  Perlindungan Anak (RSPA) Bumi Gora, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) Minggu (15/4) lalu. Dalam kunjungan ini ia didampingi Dirjen Rehabilitasi Sosial Edi Suharto, Dirjen Linjamsos Harry Hikmat dan Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Nahar.

Di RSPA ini, Idrus medapati fakta banyak masalah yang tengah dihadapi anak-anak tersebut. Diantaranya kelahirannnya yang tidak dikehendaki oleh orang tua mereka, bahkan ada yang merupakan korban kekerasan seksual. 

Kepada anak-anak malang ini,  Mensos bertekad untuk menyelamatkan masa depannya. Dengan jalan, negara harus bisa menjamin kelanjutan pendidikannya. "Mereka harus tetap sekolah. Nanti bagaimana caranya, kita pikirkan bersama. Kalau dari pemerintah daerah bagaimana kemampuannya. Kalau tidak ya dari Kementerian Sosial," kata Idrus.

Idrus mengajak semua pihak lebih menatap masa depan. Oleh sebab itu ia menyebutkan bahwa RPSA sebagai rumah masa depan. "Di sini, kalian semua mencoba keluar dari masalah dan menjemput masa depan," katanya.

RPSA Bumi Gora  berkapasitas 50 orang. Saat ini diisi 19 klien dengan lima di antaranya masih bayi.  Sebanyak 12 orang Pekerjaan Sosial (Peksos) mendampingi para klien, bahkan bila kasus yang mereka hadapi harus  bergulir sampai ke ranah hukum.

Dalam interaksinya dengan para penerima manfaat, pimpinan dan para staf, Idrus berpesan bahwa manusia harus selalu pasrah kepada Allah SWT. "Karena tidak ada satupun di antara kita yang ingin menerima masalah. Masalah ini terjadi karena takdir," katanya. 

Sebelumnya, masih di hari yang sama, Idrus juga melakukan kunjungan ke Lombok. Ia dan rombongan mengunjungi beberapa penerima manfaat yang tidak lagi menerima bansos. Hal ini karena mereka sudah punya usaha sendiri. "Tadi ada beberapa yang mendirikan usaha, ya meskipun berjualan pecel. Saya harap di lain tempat ada juga yang berjualan gorengan, toko kelontong, atau apa, yang penting bisa mandiri," ujar Idrus. 

Dalam kesempatan ini, Idrus juga menghimbau agar penerima manfaat menggunakan bantuan sesuai ketentuan. Ini terutama untuk keperluan sekolah dan perbaikan gizi anak-anak. 

Idrus berharap, dengan pendidikan yang  baik, anak sekolah akan tumbuh menjadi anak-anak yang pintar. Bisa mengenyam pendidikan bahkan sampai SMA bahkan perguruan tinggi. Dengan pendidikan tinggi Idrus berharap mereka bisa bekerja dan berpenghasilan dan mengangkat nasib keluarga. 

Dalam kesempatan sebelumnya, Mensos menyatakan, untuk memastikan kondisi para penerima bantuan, Mensos mengakui adanya evaluasi terhadap kondisi para penerima bantuan dalam kurun waktu tertentu. Bila syarat-syarat sebagai penerima bantuan sudah tidak dipenuhi lagi, maka bantuan bisa dicabut.

Idrus juga menghimbau semua pihak, termasuk pemerintah daerah, agar memotivasi penerima bantuan, sehingga bisa 'naik kelas'. "Yakni perubahan dari status tidak mampu menjadi mampu atau disebut juga masuk fase graduasi," pungkasnya.


Reporter : Umaya Kusniah

Editor : Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
16-04-2018 17:45