Main Menu

Pakar Konstruksi: Cermati dan Ganti Proyek yang Tidak Layak

Andhika Dinata
18-04-2018 17:49

Peristiwa ambruknya jembatan nasional Babat-Widang.(ANTARA/Aguk Sudarmojo/re1)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com- Peristiwa ambruknya jembatan nasional Babat-Widang yang menghubungkan Kabupaten Tuban-Lamongan, Jawa Timur, Selasa (17/4) memantik perhatian banyak kalangan. Pasalnya kejadian kegagalan konstruksi merenggut korban masyarakat sipil yang tengah melintas di jembatan. Dari data sementara yang dihimpun, kejadian tersebut mengakibatkan satu korban meninggal dunia dan empat orang lainnya mengalami luka-luka.


Dalam waktu yang bersamaan peristiwa kegagalan konstruksi juga terjadi pada proyek pembangunan ruas jalan tol Manado-Bitung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara (17/4). Proyek tol di ruas jembatan penghubung dengan bentang 30 meter di Jalan Raya By Pass Manado-Bitung itu rubuh secara tiba-tiba. Kecelakaan tersebut menimpa tiga pekerja yang berada di bawahnya, serta disinyalir menimbun 14 pekerja lainnya yang berada di atas kontruksi jembatan.


Berdasarkan hasil kajian sementara dari Kementerian PUPR, kejadian rubuhnya jalan tol Manado-Bitung disebabkan pada kegagalan pada proses perancangan khususnya pada pemasangan box untuk overpass dan beton penyangga box. Sementara kejadian ambruknya jembatan di Tuban, Lamongan lebih disebabkan karena faktor usia dan kelebihan beban (overload).


Guru Besar Manajemen Konstruksi UPH Prof. Manlian Ronald Simanjuntak menyebutkan ada beberapa analisa dan kajian kritis terhadap kegagalan konstruksi yang terjadi pada proyek pembangunan jalan tol di Minahasa Utara. Pertama, ia menerangkan apakah para perancang bangun sudah mengikuti prosedur dan proses kontruksi secara benar. Manlian menyebutkan hal tersebut terlihat dengan ambruknya formwork atau bekisting pada proyek tersebut, memperlihatkan prosedur teknis tidak dijalankan dengan semestinya.


“Mengapa ambruk apakah metode pemasangannya sudah tepat, apakah beban dari bahan bangunan sudah proper untuk ditopang oleh formwork itu?,” jelasnya. Selain dari itu dirinya menerangkan perlu dilihat lebih jauh kompetensi dari pekerja yang dipekerjakan apakah memenuhi kualifikasi yang disyaratkan. Manlian menerangkan dalam proyek konstruksi yang terpenting adalah aspek kontrol.


“Bagaimana dengan manajemen pengawasan saat proyek tersebut berjalan. Apakah pihak pengguna dan penerima jasa ikut bersama-sama mengawal proses kontruksi secara benar”, tanyanya lagi. Menanggapi peristiwa ambrolnya jembatan nasional Lamongan-Tubang, pakar konstruksi itu menyebut kejadian tersebut sebagai kegagalan manajemen konstruksi. Pasca ambruknya jembatan tersebut, perlu dilihat apakah proyek tersebut disertai dengan Studi Kelayakan (Feasibility Study) yang mengukur desain dan umur bangunan.


Dokumen teknis menurutnya sangat penting untuk mengukur kehandalan proyek, termasuk melingkupi dokumentasi manajemen pemeliharaan proyek dan dokumentasi manajemen operasional proyek. “Proses operasional seharusnya didahului proses ujicoba yang dilanjutkan dengan operasionalisasi. Apakah dokumen teknis itu sudah memiliki keakuratan dari berbagai hasil kajian para profesional?,” terang Manlian kepada GATRA.com.


Guru Besar Manajemen Konstruksi itu menghimbau agar Pemerintah dan pihak terkait mencermati peristiwa kegagalan konstruksi ini secara serius demi kepentingan bersama. “Cepat ganti proyek-proyek yang tidak laik agar tidak berdampak buruk bagi seluruh masyarakat Indonesia,” pungkasnya.**

 


Reporter: Andhika Dinata

Editor: Birny Birdieni

Andhika Dinata
18-04-2018 17:49