Main Menu

Setelah Terkam Dua Orang, Kini Bonita Direlokasi

Cavin Rubenstein M.
21-04-2018 13:40

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Wiratno (kedua kanan) menjelaskan kronologis pencarian hingga proses evakuasi Harimau Sumatera yang bernama Bonita di Kantor BKSDA Riau, di Pekanbaru, Riau, (21/4). (ANTARA/Rony Muharrman/FT02)

Pekanbaru, Gatra.com - Konflik antara harimau sumatera bernama Bonita yang masuk perkampungan perkebunan sawit hingga menewaskan dua korban, adalah akibat kesalahan manusia.

"Yang salah perilaku manusianya," kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Ir Wiratno, dalam keterangan pers, seperti dilansir Antara, Sabtu (21/4).

Setelah Bonita berhasil ditangkap, Wiratno menegaskan, satwa liar seperti Harimau tidak akan mengganggu apalagi memasuki perkampungan dan perkebunan sawit hingga menerkam manusia jika tidak terganggu habitatnya. "Bisa dipastikan itu," sambungnya.

Keyakinan Wiratno itu didasari oleh sejumlah referensi dan pengalaman dirinya dalam beberapa kali mengatasi konflik manusia dengan harimau. Lebih lanjut, Wiratno menjelaskan, beberapa penyebab kemungkinan terganggunya satwa liar seperti Bonita adalah ketika habitat si predator itu rusak atau ada keluarga dari satwa tersebut yang mati akibat ulah manusia.

Untuk itu, dia mengatakan bahwa penanggulangan konflik harimau dengan manusia seperti yang dilakukan di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir dengan tidak mematikan predator itu menjadi contoh bagi daerah lainnya.

Wiratno menuturkan bahwa upaya penanganan Bonita, harimau sumatera betina berusia empat tahun di Kecamatan Pelangiran merupakan atensi semua pihak, termasuk Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya.

Dia mengakui, pada dasarnya cukup banyak konflik yang terjadi antara harimau dengan manusia di sejumlah wilayah lainnya. Oleh karena itu, Wiratno meminta agar upaya penanggulangan dengan melibatkan tim terpadu antara BBKSDA Riau, TNI, Polri serta Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir diterapkan wilayah lainnya untuk mengatasi permasalahan yang sama.

"Antisipasi ke depan, tim terpadu jalan terus. Saya menduga masih ada konflik-konflik serupa yang akan terjadi dan sudah terjadi di daerah lain. Penanganan ini bisa jadi contoh daerah lain," ujarnya.

Bonita, harimau sumatera betina dalam empat bulan terakhir berkeliaran di areal pemukiman warga dan perkebunan sawit PT THIP. Selama itu pula, Bonita dua kali menerkam dua manusia hingga tewas.

Jumiati, menjadi korban pertama yang meninggal pada awal Januari 2018. Perempuan berusia 33 tahun tersebut diserang Bonita saat bekerja di KCB 76 Blok 10 Afdeling IV Eboni State, Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Indragiri Hilir. Terakhir, Yusri Efendi (34) meregang nyawa di desa yang sama, namun berjarak sekitar 15 kilometer dari lokasi tewasnya Jumiati.

Bonita berhasil dilumpuhkan tim terpadu setelah dua kali ditembak bius pada Jumat pagi kemarin (20/4). Proses pencarian Bonita mengukir drama tersendiri, hingga yang paling menarik ketika seorang ahli bahasa satwa asal Kanada didatangkan membantu proses penangkapan, awal April 2018 lalu.

Saat ini, Bonita dievakuasi menuju pusat rehabilitasi satwa Dharmasraya, Sumatera Barat. Di pusat rehabilitasi milik Yayasan Arsari Djojohadikusumo tersebut, perilaku Bonita akan diobservasi. Karena ia selama ini dinilai menyimpang lantaran terlihat mendekati manusia.


Editor: Cavin R. Manuputty

Cavin Rubenstein M.
21-04-2018 13:40