Main Menu

Kepala BIN: Strategi Perguruan Tinggi Perkuat Ideologi Pancasila

Anthony Djafar
28-04-2018 14:56

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal. Pol. Purn. Budi Gunawan. (ANTARA/Reno Esnir/FT02)

Semarang, Gatra.com - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal. Pol. Purn. Budi Gunawan mengatakan bahwa Indonesia berada di tengah-tengah pertarungan ideologi sehingga mempengaruhi cara pandang sebagai sebuah bangsa termasuk Indonesia.


"Cara pandang itu diantaranya: ideologi radikal yang membawa semangat pan-islamisme; ideologi komunis yang berupaya mempengaruhi kebijakan negara terhadap kelompok proletar; serta kebijakan ultra nasionalisme AS untuk mendorong imperialisme dan dominasi AS di dunia," kata Budi Gunawan saat memberikan kuliah umum di Munas VI BEM PTNU Se-Nunsantara, kampus III Universitas Wahid Hasyim Semarang, Sabtu (28/4).

Budi mengungkapkan bahwa kontestasi ideologi-ideologi ini melahirkan perebutan pasar ideologi dan pencarian ideologi alternatif ditambah dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi yang memudahkan orang untuk mencari nilai-nilai atau ideologi yang sesuai dengan keyakinannya.

Budi menjelaskan Benchmark dari negara Amerika Serikat, saat ini terjadi pertarungan ideologi antara liberalisme yang mempunyai prinsip pasar bebas dengan nasionalisme proteksionis yang mengedepankan prinsip “America First” untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Pertentangan ini bahkan telah membentuk polarisasi di masyarakat AS dan timbulkan kegamangan di kalangan generasi muda AS.

“Sementara RRT dapat mempertahankan identitas bangsanya yang memiliki ideologi komunis dengan mengakomodasi praktek kapitalis untuk meningkatkan kondisi ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya,” katanya.

Nah, bagi bangsa Indonesia yang majemuk, kata Budi dengan lebih dari 663 kelompok suku besar dan 652 bahasa, situasi ini mengancam kebhinekaan yang menjadi ruh sebagai sebuah bangsa. Pancasila sebagai ideologi perekat bangsa Indonesia yang selama ini telah mempersatukan kebhinekaan Indonesia mendapatkan ujian berat.

Apabila hal ini dibiarkan, lanjut Budi, maka rakyat Indonesia tidak lagi dapat mengasosiasikan dirinya sebagai sebuah bangsa besar dalam bingkai negara kesatuan republik indonesia. Ancaman masuknya ideologi asing dapat menggoyahkan ketahanan ideologi nasional, dan berdampak pada kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

“Mahasiswa memiliki peran strategis dalam membentuk masyarakat madani,” katanya.

Budi mengungkapkan sejarah membuktikan bahwa gerakan mahasiswa menjadi motor perubahan pada bangsa indonesia ini, seperti tritura tahun 1966 serta gerakan reformasi 1998.

“Untuk menangkal paham radikalisme tumbuh dan berkembang di Indonesia diperlukan strategi nasional untuk memantapkan Pancasila sebagai way of life bangsa,” katanya.

Budi mengungkapkan bahwa strategi yang dapat diterapkan di perguruan tinggi untuk memperkuat ideologi Pancasila dan menangkal paham radikal melalui New public management (NPM), yakni peningkatan peran masyarakat dan mahasiswa dalam pengelolaan interaksi sosial di ranah publik untuk menangkal berkembangnya radikalisme, terorisme, dan intoleransi.

“Peningkatan peran ormas islam seperti NU dalam menangkal radikalisme dan terorisme. Pemberdayaan ekonomi lokal di lingkungan pesantren dan masyarakat melalui UMKM dan koperasi,” katanya.

Selain itu, penguatan nilai-nilai kebangsaan dengan berpedoman pada ajaran bahwa cinta tanah air merupakan sebagian dari iman (khubbul wathon minal iman). Serta penguatan toleransi dan kerukunan di masyarakat.

Munas kali ini dihadiri oleh seluruh pengurus BEM PT NU sejumlah 272 kampus.

Editor: Anthony Djafar

 

Anthony Djafar
28-04-2018 14:56